
Suci menghela nafas dalam sebelum akhirnya mengikuti langkah suaminya untuk menemui Justin, hatinya di landa rasa cemas jika saja Justin dan Arga akan kembali membuat keributan.
Vino membukakan pintu lobi yang terdapat tak jauh dari ruangan Arga. Di dalam sana, seorang pria berpostur tubuh tinggi dengan paras yang tampan tengah berdiri mengahadap jendela kaca besar yang mengrah pada pemandangan luar kantor dan pusat kota. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana yang ia kenakan, terlihat maskulin seperti biasanya.
“Permisi tuan Justin, tuan Arga sudah tiba”. Vino menghampiri Justin dan membuat pria itu menoleh.
Sesaat Justin hanya diam terpaku menatap wajah Suci yang terlihat berseri dari biasanya, pancaran kebahagiaan tergambar jelas di mata indahnya. Tersadar dengan apa yang dia lakukan, ia pun berdehem dan menghampiri Arga kemudian menyalaminya dengan professional.
“Selamat pagi tuan Arga”.
“Pagi..” Jawab Arga dingin.
__ADS_1
“Selamat pagi nyonya Argantara”. Justin mengulurkan tangannya hendak menyalami Suci, namun suci hanya mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada seraya menunduk. “Se..selamat pagi tuan Justin”.
Justin tersenyum masam, Suci masih seperti dulu, enggan bersentuhan meski hanya sekedar bersalaman. Perempuan sederhana yang sudah meluluhkan hatinya itu selalu menjaga dirinya dengan baik. Dan membayangkan Arga telah berbuat hal yang bejat dengan merenggut kehormatan Suci selalu berhasil menimbulkan amarah dalam dirinya. Jika saja kejadian itu tak terjadi, mungkin saat ini dialah yang berada di samping Suci dan menjadi suaminya.
“Mari tuan Justin, kita bicara di ruangan saya”.
Justin mengangguk, melangkah mengikuti Arga dan Suci di ikuti Vino di belakangnya.
Arga mengangguk setuju, membiarkan Suci memasuki kamar yang pintunya terletak di belakang meja kerjanya. Selain tak ingin membiarkan Suci merasa bosan karena menunggunya membahas masalah pekerjaan, ia juga tak suka dengan tatapan Justin pada istrinya itu, tatapan yang menyiratkan cinta dan kerinduan.
“Baik tuan Justin, bisa kita mulai??” Tanya Arga, membuyarkan tatapan Justin pada pintu kamar yang baru saja tertutup rapat.
__ADS_1
Justin mengangguk dan membiarkan Arga menjelaskan tentang proyek baru yang baru beberapa hari yang lalu mereka mulai.
Satu jam lebih pembahasan pekerjaan dengan Justin, dan Justin puas dengan kinerja perusahaan Arga, meski mereka sempat terlibat maslah, namun Justin akui memang Arga sangat professional dengan hasil kerja yang memuaskan. Mereka kembali berjabat tangan tanpa pertemuan telah usai.
Arga dan Vino mengantar Justin sampai ke depan pintu ruangannya. Mereka tampak masih sangat canggung untuk berbincang-bincang seperti dulu. Persahabatan yang baru saja mereka jalin harus kembali ke keadaan awal, seperti masih baru saling mengenal.
“Ke depannya, orang kepercayaan saya yang akan mengurus dan mengontrol semuanya, saya harus kembali ke Korea untuk beberapa saat, saya harap anda tidak keberatan tuan Arga”. Kata Justin
Arga sempat terkejut mendengan penuturan Justin, karena pada awalnya Justin lah yang meminta terjun secara langsung dalam proyek ini, tapi sekarang pria itu tampaknya ingin menghindar. Namun Arga tak berhak protes atau menahannya, karena pada dasarnya ia pun akan lebih tenang jika Justin tak terlalu sering mendatangi kantornya dan kemungkinan besar akan bertemu dengan Suci kembali. Tapi di sisi lain hatinya, Arga merasa kehilangan sosok periang seperti Justin. Sahabat baru yang dulu sempat menghiburnya saat ia terpuruk.
“Baik tuan Justin, apapun yang menurut anda terbaik, kami akan menerimanya.” Kata Arga
__ADS_1
Justin mengangguk seraya tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan kesedihan yang mendalam dan luka yang tak berbekas namun terlihat jelas di sorot matanya.