
“Kamu??” Arga memicingkan matanya, ia ingat wajah itu, tapi namanya ia lupa. “Kamu teman istri saya bukan?”
Tari tersenyum kikuk, “Iya pak, saya Tari. Temannya Suci”. Jawab Tari
“Ah iya, nama kamu Tari. Kamu bekerja di sini?”
Tari mengangguk, “Iya pak, bapak mau pesan sesuatu?”
“saya lagi nunggu orang dulu, tapi bolek deh. Saya mau cappuccino dingin satu”.
“Baik pak, di tunggu sebentar”.
Suci bergegas pergi setelah mendapat anggukan dari Arga, ia kaget bisa bertemu dengan mantan bos sekaligus suami dari sahabatnya itu. Tari harus memberi tahu Suci, Tari yakin Suci masih enggan bertemu dengan pria itu.
“Mba Kiki, meja nomor 22 capuccino dingin satu. Aku ke toilet dulu sebentar”.
“Ok Tar”. Kiki beranjak ke dapur untuk membuatkan pesanan yang Tari berikan, Kiki memang senior bagian dapur yang kerap meracik minuman, sedangkan untuk bagian makanan ada koki yang mengurusnya khusus.
Tari mencari Suci, namun panggilan alam membuatnya berbelok ke salah satu bilik toilet. Dan bersamaan dengan itu Suci dating dari arah pencucian peralatan.
“Ci, antar pesanan ini ke meja 22 yah. Tari lagi ke toilet katanya”.
“Iya mbak”.
Suci mengambil nampan yang di atasnya telah terdapat satu gelas tinggi cappuccino dingin, bergegas menuju ke depan karena tak ingin tamunya terlalu lama menunggu.
Di sisi lain, Tari baru saja keluar dari toilet, ia mengedarkan pandangannya mencari Suci, namun sayangnya sahabatnya itu tak nampak di mana pun. Ia memutuskan untuk mengantarkan pesanan Arga terlebih dahulu.
“Mbak Kiki, capuccinonya udah? Aku mau anter ke depan”.
“Udah Tar, baru aja di anter Suci”. Ucap mabk Kiki, ia nyaris menjatuhkan gelas yang ia pegang saat tiba-tiba saja Tari memekik.
“Astaghfirullah, Suci yang nganter mbak?”
__ADS_1
Mbak Kiki berdecak kesal, “Ck, kamu bikin mbak kaget aja. Iya Suci, kenapa memangnya?”
Tari tak menjawab pertanyaan Kiki, ia terburu-buru menuju ke depan, barangkali Suci masih berada di sekitar dapur dan belum sampai di meja Arga. Kiki hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tari yang hamper saja membuatnya jantungan.
Tari mengedarkan pandangannya ke semua arah, ingin memanggil Suci namun sayangnya posisi Suci telah jauh, tak memungkinkah untuknya berteriak memanggil.
Sementara itu Suci berjalan perlahan menuju meja nomor 22 yang di katakana Kiki, dahinya sedikit mengernyit saar ia melihat seorang pria tengah duduk memunggunginya menatap ke luar jendela. Ia merasa tak asing melihat punggung lebar itu, dadanya mendadak berdetak kencang, dahinya mulai berkeringat dengan tremor di tangannya cukup menggoyangkan nampan yang ia bawa.
Suci mencoba menenangkan dirinya, ia menepis bayangan Arga dari benaknya. Pelan ia menghampiri meja itu, menyapa pelanggannya dengan seramah mungkin.
“Selamat siang pak, ini pesanan anda”. Ucapnya
DEG
Arga menoleh perlahan, suara itu, suara lembut perempuan yang sangat di rindukannya, suara perempuan yang hanya bisa ia pandangi dari jarak jauh saja. “Suci…” Lirihnya
Suci mundur beberapa langkah, ternyata punggung itu memang punggung suaminya. Dengan cepat ia meletakkan namapan berisi satu gelas cappuccino pesanan Arga, ia takut menjatuhkan nampannya karena tangannta bergetar hebat. Rasa benci, kecewa, kesal, rindu, cinta, semua bercampur menjadi satu. Karena sekuat apapun Suci mencoba melupakan Arga, nyatanya tetap saja tidak pernah bisa, rasa cintanya berujung rindu yang mendalam pada pria itu, tapi rasa kecewa juga tak kalah dalamnya.
Bohong jika Suci mengatakan tak cinta, bohong jika Suci mengatakan tak rindu, karena hatinya benar-benar telah jadi milik Arga, suaminya. Tapi pria itu membuatnya sangat kecewa.
"Apa bisa kta bicara sebentar? Tolong kasih aku waktu sebentaar aja buat bicara". Arga menatap Suci yang masih enggan berbalik dan menatapnya.
"Aku harus bekerja". Suci menarik tangannya, genggaman itu terlepas begitu saja membuat air mata Suci seketika menetes, bayangan ketika Arga menariknya hingga terjatuh dari tangga melintas begitu saja di benaknya, Suci menarik nafas panjang, mengusir rasa sesak yang tiba-tiba saja membuatnya susah bernafas.
Arga hanya bisa diam, melepas Suci pergi dari hadapannya. Ia ingin mengejar, namun kedatangan Justin menghentikan niatnya.
Setelah memesan makanan, Arga dan Justin terlibat perbincangan santai, jauh dari pembicaraan tentang pekerjaan. Karena memang Justin mengundang Arga hanya ingin berbincang santai saja. Merayakan keberhasilan mereka dalam bekerja sama.
Di tengah perbincangan hangat itu, seseorang yang tengah Arga cari melintas tak jauh di depan cafe. Arga beranjak, begitu pun dengan Justin.
"Ada apa Ga?" Justin melihat kecemasan Arga, sejak kerja sama mereka, keduanya memang semakin akrab dan sering bertemu.
"Justin, aku harus mengejar seseorang". Arga sudah beranjak, hendak berlari keluar dari cafe.
__ADS_1
"Aku ikut" Kat justin, pria itu juga beranjak, namun sejurus kemudian justin tampak kembali ke mejanya. Arga menoleh melihat Justin kembali.
"Cepetan, aku bisa kehilangan jejaknya". Omel Arga
"Bentar, makanan ini gak gratis Ga, kita belum bayar". Justin meletakkan beberapa lembar uang berwarna merah di atas meja, kemudian beranjak menyusul Arga tanpa perdulu uangnya kurang atau bahkan lebih.
Arga berlari ke pinggir jalan, ia hendak menyusul seseorang yang masih terlihat tengah berjalan cepat. Teriakan Justin membuatnya menoleh dan merutuki teman barunya itu.
"Ga, pakai mobil. Ogah aku harus jalan kaki, panas". Teriak Justin
Arga kembali berbalik dan memasuki mobil Justin, ia celingukan mencari sosok yang sekian lama di carinya. "Itu dia orangnya, pakai hoodie hitam topi hitam. Gas cepetan".
"Iya iya, sabar sabar". Justin menancap gas, beruntung jalanan tak terlalu padat hingga Justin tak susah mengejar seorang pria yang Arga tunjukan tadi.
Mobil berhenti tepat di pinggir orang yang Arga cari, pria tersebut tampak menghentikan langkahnya, namun berlari saat melihat seseorang yang turun dari dalam mobil.
"Berhenti brengsek!!!" Teriak Arga.
Meski tak tahu apa-apa, Justin ikut berlari mengejar seseorang yang juga Arga kejar. Yang Justin tahu, ada sesuatu di balik sikap Arga yang bar-bar itu, menghilangkan kesan kharismatik yang selalu menempel pada diri Arga.
Kejar mengejar itu berakhir saat seseorang di depan sana juga membantu Arga menangkap pria bertopi hitam tersebut.
"Tolong tangkap orang itu pak, dia jambret" Teriak Arga, membuat segerombol orang yang berada di depan sana segera menghadang seseorang yang tengah Arga kejar.
Akhirnya Arga dapat menangkap pria itu, "Terima kasih bapak-bapak. Saya akan membawanya ke kantor polisi". Ucap Arga
"Sama-sama mas, silahkan di bawa" Ucap salah seorang yang baru saja membantunya.
Justin dan Arga membawa pria itu ke dalam mobil Justin, tentu saja dengan perlawanan yang membuat Justin melayangkan bogem mentah poada wajah pria di balik topi hitam itu.
Arga terperangah dengan yang Justin lakukan, pria itu terlihat lebih emosi dari Arga.
"Sorry Ga, jiwa preman gue keluar". Ungkapnya, nafasnya masih memburu akibat berlari mengejar orang tersebut. "Lo bikin gue cape kampret". Omelnya sesaat setelah ia memberikan jitakan di kepala orang itu.
__ADS_1
GAESS, MAK BOLEH MINTA TOLONG GAK? SHARE CERITA MAK SEBANYAK-BANYAKNYA YAAAH, BOLEH DI FB, IG ATAU SOSIAL MEDIA LAINNYA. TERIMA KASIH BANYAK BANYAK BUAT KALIAN YANG UDAH MAU BANTU MAK, MAK SAYANG KALIANNNNNN....