PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
MULAI MEMBAIK


__ADS_3

Arga menatap perempuan berwajah syahdu itu dengan perasaan berkecamuk, ia kesal, marah, dan kecewa pada dirinya sendiri yang tak mampu menjaga Suci. Lagi-lagi perempuan itu harus terluka dan mengalami hal buruk.


Tangannya mengepal kuat saat ia mengingat pembicaraannya dengan Vino beberapa saat yang lalu.


"Vivi adalah istri Rudi tuan, dia juga adalah salah satu pion Broto. Broto sengaja mengajak Vivi bekerja sama karena Broto tahu jika Rudi menginginkan nyonya."


"Brengsek, jebloskan mereka semua ke dalam penjara. Dan pastikan mereka semua mendapatkan hukuman yang berat Vin."


"Baik tuan, saya akan pastikan mereka mendapatkan hukuman yang setimpal".


Arga tak habis fikir, ia tak mengira Broto akan bertindak sejauh dan sekejam ini.


Pergerakan dari Suci membuat Arga mendekat, Suci tampak tak tenang meski matanya terpejam rapat. Buliran keringat bahkan membasahi dahinya.


Arga mengusap puncak kepala Suci, mengelap keringat yang membanjir di dahi istrinya dengan telapak tangannya. "Maaf sayang, maafkan aku yang tidak bisa menjaga kamu". Lirihnya


Arga berencana membawa Suci ke seorang psikolog, ia tak mau jika kejadian kemarin membuat trauma Suci kembali muncul.


"Tolong, jangan sentuh aku. jangan, jangan sentuh aku". Suci berucap lirih di dalam tidurnya, air mata bahkan menetes dari ujung matanya.


"Sayang, kamu aman sekarang. Kamu baik-baik saja." Arga mengusap pipi Suci, membuat perempuan itu mengerjap dan reflek duduk seraya menepis tangan Arga dari pipinya.


"Ini aku sayang, aku suami kamu".


Suci meremas dadanya yang berdebar hebat, Tremor di tangannya terlihat jelas dan menjadi gambaran betapa ia sangat ketakutan. "Maaf mas, aku gak sengaja. Aku kaget". Ucap Suci, bibirnya bergetar menahan tangis. Air mata tampak menggenang di pelupuk matanya.


Arga menarik Suci ke dalam dekapannya, mengusap punggung istrinya agar sedikit tenang. Karena saat ini, hanya dekapan Arga yang mampu menenangkannya. "Kamu akan baik-baik saja". Bisik Arga

__ADS_1


"Tidur lagi yah, aku gak kemana-mana. Aku tungguin kamu di sini". Arga kembali membaringkan Suci, menyelimutinya kemudian mengusap kening perempuan itu agar merasa nyaman dan kembali terlelap.


"Jangan pergi mas, temenin aku disini".


"Iya sayang, aku disini. Aku gak akan kemana-mana".


Arga terus mengusap kening istrinya dengan lembut, hingga perempuan itu kembali terlelap.


💜💜💜


Tiga hari sudah Suci tinggal di rumah Arga, keadaannya mulai membaik. Arga mendatangkan psikolog terbaik ke rumahnya untuk memastikan jika trauma Suci tak muncul kembali. Meski apa yang di katakan psikolog itu tak sebaik yang di harapkannya, namun Arga tak putus asa, ia terus memberi pengertian pada Suci agar Suci mau berkonsultasi.


"Kamu pasti akan baik-baik saja sayang, kita hanya perlu bersabar untuk kembali menyembuhkan trauma kamu". Kata Saga, dengan telaten ia menyuapi Suci, sebisa mungkin Arga akan membuat Suci nyaman padanya. Karena itu salah satu cara agar Suci tak merasa ketakutan lagi.


"Maaf mas, aku kembali merepotkan mu".


"Mas.."


"Hemm? Kenapa nangis lagi? Sudah cukup kamu menangis. Jangan lagi sayang". Arga menghapus air mata Suci dengan ibu jarinya.


"Kenapa kamu menyelamatkan ku??"


Arga terdiam, ia sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu istriku, kamu tanggung jawab ku. Sudah seharusnya aku melindungi mu".


"Hanya karena itu??" Suci ingin tahu, apakah perasaannya sama dengan Arga, jika sama, maka Suci akan bertahan dan memaafkan Arga, memulai semuanya kembali dari awal. Tapi jika tidak, maka Suci akan mundur. Lebih baik ia mengakhiri semuanya, ia tak mau menahan Arga di sisinya jika Arga sama sekali tak mencintainya. Suci akan membiarkan Arga mencari kebahagiaannya sendiri.


Arga tersenyum lembut, kini ia mengerti maksud pertanyaan Suci. Sepertinya bagi seorang perempuan pengakuan memang di perlukan. Tak hanya perlakuan saja, tapi pengakuan pun penting. "Itu salah satunya, alasan yang paling penting adalah, karena aku mencintai mu Suci. Sangat mencintai mu, hampir dua bulan kita terpisah, dan apakah kamu tahu? Aku kehilangan arah Suci, aku kehilangan hidupku, kehilangan rasa ku, kehilangan separuh jiwa ku. Maafkan aku, karena aku membuat mu kecewa dan terluka. Bahkan aku tak bisa keluar dari penyesalan karena aku calon anak kita ja..."

__ADS_1


"Ssstttt, jangan lanjutkan mas. Jangan ungkit itu lagi, aku memaafkan mu".


Arga menatap Suci tepat di matanya dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Ia ingin memastikan apa yang ia dengar, "Ka..kamu memaafkan ku??"


Suci mengangguk, "Iya mas, kita mulai semuanya dari awal. Kata-kata mu cukup membuat ku harus bertahan di sisi mu, aku juga sangat mencintai mu mas. Kita sama-sama tersiksa dengan perpisahan itu, sekarang gak lagi, aku gak mau lagi jauh dari kamu."


"Terima kasih sayang, aku hampir gila karena memikirkan kamu tidak akan mau kembali pada ku".


Arga membawa Suci ke dalam dekapannya, mengusap rambut panjang Suci dengan lembut. "Besok kita ke rumah ummi sama Abi yah".


Suci menarik diri, menatap mata tajam Arga dengan perasaan tak menentu. Ia tak mau jika ummi dan abinya tahu jika sesuatu yang buruk kembali terjadi padanya. "Mas cerita tentang semua ini??" Tanya Suci.


Arga menggelengkan kepalanya, helaan nafas lega seketika terdengar dari mulut Suci. "Aku gak mau bikin ummi sama Abi khawatir, aku ngajak kamu kesana karena ingin meminta ijin dan restunya untuk membawa kamu pulang kembali ke rumah ini sayang. Aku akan meminta mu pada ummi dan Abi, agar keridhoannya menjadi doa untuk rumah tangga kita. Kamu mau kan??"


Suci mengangguk dengan sebuah senyuman. Namun raut cemas masih tergambar jelas di matanya.


"Kenapa sayang??". Tanya Arga


Ragu-ragu Suci bertanya pada Arga, "apa memar di pipi ku sudah tidak terlihat mas? Aku gak mau ummi sama Abi mempertanyakannya."


Arga mengusap pipi Suci dengan lembut. "Sudah tidak terlihat, kamu sudah cantik seperti sedia kala".


"Jadi kemarin aku gak cantik??" Suci memukul lengan Arga pelan, membuat pria itu terkekeh dan mengecup pipi Suci dengan gemas, ia melupakan jika Suci masih merasa takut pada sentuhan yang berlebihan. Namun melihat Suci tak bereaksi berlebihan juga membuatnya bertanya-tanya.


"Kamu udah gak papa sayang? Maaf barusan aku lupa, aku lupa kalau kamu masih takut".


Suci pun baru menyadari itu, "sepertinya aku sudah mulai terbiasa lagi dengan sentuhan kamu mas, aku juga baru menyadarinya".

__ADS_1


Arga tak dapat lagi menyembunyikan rasa bahagianya, ia kembali mengecup setiap inci wajah Suci bertubi-tubi. "Alhamdulillah ya Allah".


__ADS_2