
Tiga hari berlalu dari sejak Arga pergi ke Surabaya, sayangnya, selama tiga hari itu Arga tak pernah sekalipun menghubungi Suci dari sejak terakhir pria itu memberi kabar bahwa ia sudah sampai di tempat yang di tuju. Dan sayangnya, ponselnya sekarang tak dapat di hubungi.
Tak pernah sedetikpun Suci bisa tak teringat dengan pria itu, di setiap helaan nafasnya nama Arga selalu terselip. Apakah ini cinta?
Seperti pagi ini, tangannya memang bergerak membereskan barang-barang ummi dan Abi, tapi fikiran dan hatinya ada pada Arga, pagi ini ummi di perbolehkan pulang, kondisinya membaik karena perawatan yang intensif. Tatapannya tampak kosong, mengingat bayangan kebersamaannya dengan Arga saat terakhir sebelum mereka pulang dari liburan, rasanya rindu itu semakin menggunung.
Tiga hari tak mendengar suaranya seakan membuatnya lemah tak bertenaga. Suci benar-benar merindukan sosok pria berparas tampan itu, senyuman pria itu terbayang jelas di benaknya.
"Nak, jangan melamun terus". Ummi mengusap sebelah pipi Suci, membuat Suci tersadar dari lamunannya.
"Mas Arga gak ngabarin aku ummi, ini udah tiga hari, tapi nomornya masih gak bisa di hubungi. Aku khawatir ummi".
"Sabar nak, mungkin suami mu sibuk, dia ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat pulang. Berfikir lah positif, doakan dia agar selalu berada dalam lindungan Allah."
"Aku terlalu mengkhawatirkannya". Lirih Suci.
"Bukan nak, kamu hanya terlalu merindukannya."
Suci menoleh, menatap ummi dengan malu-malu, semburat kemerahan tergurat jelas di pipinya. "Apa benar begitu ummi??"
"Kamu belum menyadari perasaan mu nak".
Suci menunduk, "Apa aku mencintainya ummi??"
"Terlihat jelas di mata mu nak, kamu hanya belum menyadarinya. Kamu tidak akan serindu itu padanya jika kamu tidak mencintainya".
Suci terdiam, apa yang ummi katakan benar, ia sangat merindukan Arga, mengapa dia begitu pandai membuatnya jatuh cinta dalam waktu yang singkat. Padahal dulu ia sangat takut dan benci pada Arga, tapi perlakuan manis pria itu mampu meluluhkan rasa bencinya. Cinta memang aneh, antara cinta dan benci beda tipis itu ternyata benar adanya, buktinya saja ia sangat mudah mencintai Arga saat hatinya mengatakan jika ia masih membenci pria itu.
Suci meraih ponselnya, membicarakan pria itu semakin menambah rasa rindunya. Ia cari kontak bertuliskan 'Mas Arga' di ponselnya, Suci kembali menghubungi nomor pria itu, namun sayangnya, masih suara operator yang terdengar menjawabnya, ia kecewa, ia khawatir, ia rindu, semua rasa itu bertumpuk menjadi satu. Sangat menyiksanya.
"Nomornya masih gak aktif ummi". Lirihnya
__ADS_1
"Sabar nak sabar" .
Suci menghela nafas dalam, sepertinya ummi nya memang benar, ia harus sabar.
💜💜💜💜
Satu pekan berlalu dari sejak ummi sudah kembali pulang ke rumah. Kondisinya semakin membaik bahkan sudah bisa berjalan kembali. Selama satu pekan itu juga Suci tinggal bersama ummi dan Abi.
Nyonya Tara maupun tuan Tara tak keberatan Suci tinggal di sana, karena mereka pun kembali melakukan perjalanan bisnis.
Malam itu Suci sama sekali tak bisa terlelap, kerinduannya pada Arga membuatnya resah. Arga sama sekali tak memberinya kabar, ponsel pria itu selalu tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Balik sana balik sini mencari posisi nyamannya, namun sayangnya netranya masih terbuka sempurna.
Sayup-sayup terdengar suara orang berbincang di luar sana, ia beranjak, memakai hijab instannya untuk keluar dari kamarnya. Baru juga hijab instan itu terpasang sempurna di kepalanya, suara seseorang membuka pintu kamar membuatnya berbalik.
"Ma..mas??" Suci menutup mulutnya yang bergetar menahan tangis, pria yang sangat di rindukannya kini berdiri di hadapannya, pria yang membuatnya sangat cemas kini hadir di hadapannya dengan raut lelahnya. "Ini kamu mas??"
Arga mengangguk tersenyum, ia melangkah mendekati Suci, begitu pun dengan Suci, perempuan itu melangkah dengan dada bergetar karena rasa rindunya telah terbayarkan dengan kehadiran pria itu.
"Kok nangis sih sayang? Gak suka yah aku pulang??". Bisik Arga.
Suci menggelengkan kepalanya, ia tak bisa berbicara selain menumpahkan tangisannya dengan semakin erat memeluk Arga.
"Ssstt jangan nangis, aku kangen sama kamu, masa aku di sambut sama tangisan kamu sih??"
Arga tersenyum saat lagi-lagi Suci menggelengkan kepalanya. Arga menarik ke dua bahu Suci, hendak melerai pelukannya untuk dapat menatap wajah cantik perempuan itu, namun Suci semakin mengeratkan dekapannya.
Arga menyerah, ia membiarkan Suci memeluknya sepuasnya. Ia mengusap punggung Suci yang bergetar karena tangisnya, mengecup puncak kepala istrinya bertubi-tubi. "Mau peluk aku terus? Kamu gak pegal?". Tanya Arga.
Suci melonggarkan pelukannya, ia menunduk malu menyembunyikan pipinya yang basah.
Arga mengangkat wajah Suci, ia menangkup ke dua pipi basah istrinya. Dihapusnya air mata itu, kemudian dikecupnya kening sang istri dengan lembut. "Aku merindukan mu". Bisik Arga
__ADS_1
Entah keberanian dari mana, Suci menatap mata Arga dengan lekat, kemudian berjinjit mengecup pipi kanan pria itu.
Tentu saja Arga terkejut, ini pertama kalinya Suci menciumnya lebih dulu. Dan rasanya sangat luar biasa, darahnya berdesir hangat, menimbulkan sensasi sengatan listrik yang membuat tubuhnya memanas. Arga tersenyum lebar, membuat Suci kembali menunduk malu. Rasa rindu mendorongnya untuk melakukan hal yang sama sekali tidak pernah ia lakukan.
"Pipi sebelahnya lagi sirik loh kamu anggurin". Bisik Arga.
Suci menghapus sisa air matanya, ia tersenyum malu seraya memukul dada suaminya..
Sekian detik saling terdiam, Arga hanya menatap Suci dengan senyum tak luntur dari bibirnya, ia tengah menunggu keberanian Suci datang kembali. Namun perempuan itu hanya menunduk dengan sesekali meliriknya.
"Gak mau adil nih? Yaudah sini, aku aja yang cium kamu".
Arga menarik tangan Suci, agar perempuan itu lebih merapat padanya. Suci hanya menurut, ia memejamkan matanya saat Arga mulai mengecup keningnya, turun ke kedua pipinya, hidungnya, alisnya juga dagu perempuan itu. Nalurinya menuntut lebih, ia menatap Suci dengan lekat, menyampaikan keinginannya lewat tatapan mata sayunya.
Suci tahu tatapan itu, tatapan mendamba penuh rasa rindu, Arga menginginkannya. Suci pun mengangguk seraya tersenyum.
Arga menangkup pipi istrinya, mengusapnya dengan ibu jari kemudian mengecup keningnya berkali-kali. Perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya, mengecup bibir ranum Suci dengan lembut, lama dan memberikan sedikit pergerakan di sana.
Suci memejamkan matanya, ia pun tak tinggal diam. Ia mengalungkan ke dua tangannya di leher kokoh suaminya. Membalas ciuman memabukkan itu walau masih kaku.
Arga menggiring Suci ke arah ranjang, membaringkan perempuan itu dengan lembut lalu ia setengah menindihnya.
"Kamu gak cape mas?". Tanya Suci.
"Cape, makanya aku melakukan ini. Agar tenaga ku pulih kembali". Arga menjeda ucapannya, ia membelai pipi Suci dengan lembut. "Karena kamu adalah sumber tenaga dan kekuatan aku". Bisik Arga.
Suci sedikit mengangkat kepalanya, ia mengecup bibir Arga, membuat pria itu tak membuang kesempatan dengan tak melepaskan Suci.
Malam itu terasa bagai mimpi bagi keduanya, tapi ini nyata, mereka merasakan nikmatnya. Mereka juga merasakan hangatnya. Rasa rindu itu terbayar sudah dengan penyatuan mereka.
Ramein komennya dong gaes....Mak tuh suka semangat kalau baca komen kalian...
__ADS_1