
Menjelang sore hari, Suci sengaja mempersiapkan makan malam romantis dengan Arga, ia sendiri yang memasak. Memasak makanan kesukaan Arga. Suci akan mengabarkan kabar bahagia ini pada Arga saat makan malam nanti.
Meski para pelayan melarangnya, namun Suci tetap melakukannya. Energinya mendadak naik kembali saat mendapati kabar bahagia itu. Hatinya bak di liputi bunga-bunga bermekaran, rasanya tak bisa di ungkapkan betapa ia sangat bahagia dengan kehamilannya saat ini, hanya bibirnya yang selalu menebar senyum yang dapat membuktikan betapa ia sangat bahagia dan bersyukur.
Setelah masakannya tersaji sempurna, Suci memutuskan untuk membersihkan dirinya untuk menyambut kedatangan Arga. Ia memakai wewangian kesukaan pria itu, mengenakan make up tipis dan gamis berwarna pink pemberian dari Arga. Pashmina senada ia kenakan untuk menutup rambut panjang hitamnya, ia memastikan semuanya sempurna. Suci tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin, sangat sempurna menurutnya.
Terdengar suara deru mesin mobil di bawah sana, Suci sedikit berlari ke balkon kamar, mobil Arga sudah memasuki halaman rumah, dengan senyum yang masih mengembang ia berjalan cepat menuruni anak tangga hendak menyambut kedatangan suaminya, jika tak ingat sedang hamil, mungkin Suci akan berlari untuk segera dapat bertemu dengan Arga.
Arga baru saja memasuki rumah, Suci semakin melebarkan senyumnya saat mata mereka bertemu pandang. Tapi tunggu, ada yang berbeda dengan Arga, pria itu tak membalas senyumnya, Arga terlihat membuang muka. Mungkin karena lelah, begitu fikirnya.
"Mas udah pulang??" Suci mengulurkan tangannya pada Arga, meminta tangan pria itu untuk ia salami seperti biasanya.
Arga pun mengulurkan tangannya menyambut tangan Suci, tapi tak ada sapaan di sana, apalagi senyuman. Mungkin karena dia lelah, Suci masih berfikir hal yang sama.
"Sini aku bawain tas sama jas kamu". Kata Suci.
Namun lagi-lagi Arga mengacuhkannya, pria itu tak menjawab juga tak memberikan tas dan jas yang sudah tersampir di lengannya itu, Arga melengos pergi mengabaikan tangan Suci yang sudah terangkat untuk mengambil tas dan jasnya.
Suci mencoba mengerti, mungkin dia lelah atau tengah ada masalah di perusahaannya. Suci memilih mengejar Arga ke kamarnya.
Sampai di kamar, arah terlihat membuka dasinya dengan kasar, Suci mengernyit, ada apa sebenarnya? Arga terlihat sangat berbeda. Suci mencoba kembali berbicara pada Arga.
__ADS_1
"Mas, kamu mau mandi? Aku siapkan air hangat yah?". Suci menyentuh bahu Arga, namun pria itu menepis tangan Suci dengan kasar.
Kaget? Tentu saja Suci kaget, tak biasanya Arga bersikap kasar seperti itu. "Mas, ada apa? Apa ada masalah?".
"DIAM!!!!!!!"
Suci melangkah mundur mendengar teriakan Arga yang terdengar mengerikan. Ini pertama kalinya ia mendengar Arga berteriak, Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Jangan bicara lagi padaku Suci!!"
"Apa salah ku mas??". Tanya Suci dengan bibir bergetar. Ia sangat takut, ia juga sedih mendapat teriakan dari pria itu.
Suci menggelengkan kepalanya, ia memang tidak tahu maksud video yang Arga perlihatkan padanya. "Aku tidak mengerti mas". Suci menghapus air matanya, ia menanti penjelasan dari Arga, mengapa pria itu berteriak padanya hanya karena sebuah video saja.
"Munafik". Hardik Arga.
Suci mematung mendengar cacian itu, air matanya kembali menetes. Ia sama sekali tak mengerti dengan kemarahan Arga padanya.
"Kamu yang membawa minuman itu untuk ku saat malam kejadian itu??"
Suci mengingat-ingat kembali kejadian yang sangat ingin ia lupakan itu. Kejadian dimana Arga merenggut kesuciannya. Suci ingat, ia memang lembur saat itu, dan Vino meminta Suci mengantarkan segelas teh ke ruangan Arga, tapi Suci tak sampai masuk ke ruangan itu, ia memberikannya pada Siska, sekretaris Arga. Karena Siska mengatakan, jika Arga akan segera keluar menghadiri makan malam bersama rekannya. Suci pun menurut, setelah itu ia kembali bekerja membereskan ruangan meeting yang saat itu baru saja di gunakan.
__ADS_1
Suci mengangguk, "Iya, aku memang mengantarkan minuman itu, tapi..."
"LALU APA YANG KAMU CAMPURKAN KE DALAM MINUMAN ITU SUCI???" Arga kembali berteriak, menggema memenuhi kamar itu. Suci ketakutan, tubuhnya bergetar memegang area perutnya, seolah melindungi calon anaknya dari kemarahan suaminya.
Suci menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mencampurkan apapun mas, aku berani bersumpah". Suci semakin terisak saat mendapati tatapan Arga penuh dengan kekecewaan, ia pun tak mengerti dengan situasi ini.
"Bohong!!!! Kamu mencampurkan obat perangsang agar aku meniduri mu??? Ternyata kamu sama saja dengan wanita murahan di luar sana. Yang hanya menginginkan harta dan uang dengan cara yang instan. Berapa pria di luar sana yang sudah berhasil kamu jebak hah? Berapa uang yang sudah kamu dapatkan dari hasil mereka menyentuh mu? Apa ini yang orang tua mu ajarkan pada mu?!!"
"Cukup mas, cukup!!!" Suci menutup kedua telinganya, kemudian memukul-mukul dadanya yang sesak, ucapan Arga benar-benar menyakitinya. "Kamu boleh hina aku, kamu boleh caci maki aku, tapi jangan bawa orang tua ku. Mereka mendidik ku dengan sangat baik, mereka mengajarkan aku bagaimana menerima sebuah musibah dengan ikhlas, mereka mengajarkan aku bagaimana cara memaafkan seseorang yang menyakiti ku. Jangan pertanyakan bagaimana mereka mendidik ku mas. Kenapa kamu jadi seperti ini? Seolah kamu yang menjadi korban di sini, kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan ku?".
"Wanita murahan, kamu tidak lebih dari seorang wanita murahan Suci".
"Lalu kenapa kamu mau menikahi wanita murahan seperti ku??! Kenapa tidak kamu abaikan saja aku?" Suci memegang perutnya semakin erat, melindungi agar sang jabang bayi tak mendengar cacian dari Arga. "Apa artinya perlakuan mu pada ku selama ini mas?"
"Jangan naif Suci, aku melakukan itu pada mu hanya karena sebuah kebutuhan. Aku laki-laki normal, kebutuhan biologis ku harus terpenuhi, jangan terlalu percaya diri dengan menganggap ku mencintai mu. Memang kapan aku pernah mengatakan jika aku mencintai mu?"
Suci semakin terisak, iya, Arga benar. Kapan pria itu pernah mengatakan jika dia mencintainya? Tidak pernah, dia tidak pernah mengatakan itu meski kata-kata manis selalu terlontar dari bibir pria itu. Sakit, perih, rasanya seperti tersayat sembilu. Hatinya hancur berkeping-keping, ia telah mencoba membuka hatinya untuk Arga, menyerahkan seluruh hidupnya pada pria yang bahkan menghancurkan masa depannya, tapi lagi-lagi ia hanya mendapatkan luka. Suci merasa bodoh, ia terlalu terbuai dengan perlakuan manis Arga, nyatanya, mereka memang berbeda, sulit untuk seorang Suci menggapai Arga yang kedudukannya di atasnya, jauh di atasnya.
Kenyataan baru yang menghujam hatinya membuatnya jatuh meluruh duduk di atas lantai, ia menatap nanar punggung lebar Arga yang beberapa waktu kemarin menjadi sandaran ternyamannya, semua palsu, semua hanya halusinasinya saja, impiannya terlalu tinggi untuk menggapai seorang Yusuf Argantara.
Tangisnya semakin pecah saat pria itu pergi tanpa menoleh lagi padanya. Entah cobaan apalagi yang mengharuskannya bersikap sabar dan ikhlas.
__ADS_1