
Satu minggu sudah Suci di rawat di rumah sakit, selama itu juga Arga tak pernah bisa menemui Suci. Jika Arga dating, Suci akan menangis histeris dan mengusirnya. Rupanya perempuan itu amat terluka olehnya, bagaimana tidak, ia kehilangan anak yang bahkan belum genap satu bulan menghuni rahimnya.
Arga hanya bisa menatap Suci dari balik kaca pintu ruangan yang tak seberapa besar. Seperi pagi ini, Arga sengaja menyambangi rumah sakit dari sejak subuh tadi, ia hanya ingin puas menatap Suci sebelum perempuan itu terbangun. Karena jika Suci menyadari kehadirannya, maka Suci akan menangis kencang dan mengusir Arga.
Arga mengusap ujung matanya, air bening pertanda kesedihan itu kembali merembes keluar tanpa permisi. Ia tak menyangka, jika dirinyalah yang menjadi penghancur rumah tangganya sendiri. Menghilangkan kehidupan kecil di Rahim istrinya sendiri.
Arga tersiksa dalam penyesalan, tak pernah sehari pun ia lalui dengan tanpa menangis. Setiap sudut rumahnya bahkan mengingatkannya pada perlakuan kejamnya pada sang istri. Suci pantas tak memaafkannya, ia memang kejam, ia memang manusia jahat yang tega menyiksa batin dan fisik istrinya sendiri.
“Aku merindukan mu sayang, maafkan aku”. Lirihnya.
Baru saja Arga melangkah hendak meninggalkan kamar rawat Suci, Abi terlihat baru saja tiba di sana. Sajadah yang tersampir di lengannya menandakan jika Abi baru saja sholat di mushola yang tak jauh dari kamar rawat inap Suci.
“assalamualaikum nak Arga”. Kata Abi, senyum lembut dari pria tua itu membuat hati Arga semakin merasa bersalah, sekejam apapun Arga pada putrinya, pria bijaksana itu selalu memaafkannya dan menganggap semua yang terjadi sudah atas jalan takdirnya.
“waalaikumsalam abi”. Arga menyalami Abi, mencium tangannya dengan lembut.
__ADS_1
“Kenapa di luar nak? Masuklah”.
“Tidak abi, Suci pasti masih membenci Arga.”
Abi tersenyum, menepuk pundak Arga beberapa kali. “Hari ini Suci boleh pulang, Bolehkah Abi membawanya ke rumah Abi? Biarkan dia tenang dulu, pelan-pelan Abi akan membuatnya mengerti dan memaafkan kamu nak”.
Arga tak lekas mengangguk, ia terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pasrah. Arga sadar, ia tak bisa memaksakan Suci untuk tetap bersamanya.
“Aku minta maaf Abi, Aku menyakiti putri Abi”. Lirih Arga, ia menunduk dalam. Bahunya yang naik turun menandakan jika pria itu tengah menangis menumpahkan rasa bersalahnya.
Arga mengusap air matanya, ia menghambur memeluk mertuanya itu. Entah terbuat dari apa hati pria tua yang tengah ia dekap ini, mengapa setiap kata yang terlontar dari mulutnya terasa sangat menyejukkan? Mengapa setelah perlakuan kejam Arga pada putrinya, pria tua itu masih bisa memaafkannya dengan segala kebijakan kata-katanya. Rasanya Arga benar-benar malu, ia terasa kerdil di hadapan Abi.
Abi menepuk-nepuk punggung Arga, memberikan kekuatan pada menantunya. “Temuilah istrimu setelah ia merasa tenang, Abi akan menunggu kedatangan mu di rumah. Rumah kami akan selalu terbuka untuk mu”.
“Terima kasih Abi, sampaikan maaf dan salam ku pada ummi, maaf Arga tidak menemuinya dulu, Arga takut Suci bangun”.
__ADS_1
Abi mengangguk.
“Assalamualaikum Abi”.
“Waalaikumsalam nak”.
Abi menatap punggung tegap Arga yang mulai menjauh, matanya berkaca-kaca. Tak bisa di pungkiri jika Abi pun merasa kecewa pada Arga, tapi memupuk rasa kecewa, marah apalagi dendan dalam waktu yang terlalu lama hanya akan membuat hatinya terkurung dalam sebuah emosi yang bisa saja menenggelamkannya pada lubang kebencian.
Abi kembali melanjutkan langkahnya memasuki ruangan Suci, ternyata putrinya sudah bangun.
“Assalamualaikum”. Ucap Abi
“Waalaikumsalam”. Jawab Ummi dan Suci.
Abi tersenyum lembut menghampiri Suci, mengusap kepalanya yang tertutup hijab instan berwarna hitam denjgan perban masih menempel di pelipisnya. "Sudah siap pulang nak?" Tanya abi.
__ADS_1
Suci mengangguk, tatapannya masih tampak kosong. Meski sudah bisa sedikit tenang dan bisa di ajak komunikasi, tapi Suci masih irit bicara, dia hanya menanggapi ucapan Ummi dan Abi dengan senyuman kecil, gelengan kepala, atau anggukan kepala saja. Selebihnya ia masih betah dengan keterdiamannya.