
Justin mengangguk seraya tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan kesedihan yang mendalam dan luka yang tak berbekas namun terlihat jelas di sorot matanya.
Arga menghela nafas dalam setelah melihat Justin menghilang di balik pintu lift. “Sejujurnya, saya tidak pernah mau keadaan tidak nyaman seperti ini, Justin pria yang baik, sahabat yang baik. Saya harus bagaimana Vin??”
Vino tergagap mendengar pertanyaan mendadak yang di tujukan padanya. Ia tak siap menjawab, “Ah, itu…tuan anu….”
Arga berdecak, melirik sinis ke arah asistennya kemudian berucap. “Anu anu, anu apanya Vin?? Saya nanya kamu malah anu anu aja. Lagi mikirin apa sih? Nasib minyak wangi kamu? Tenang saja, saya akan menggantinya dengan yang lebih mahal, turuti saja kemauan istri saya, mungkin parfum kamu memang bau aki-aki Vin”.
Vino tak sempat menjawab karena Arga lebih dulu memasuki ruangannya. Membuat mulutnya menganga karena ingin berbicara namun tidak jadi. "Astaga, pasangan ini.” Gumamnya
Sesaat kemudian pintu ruangan Arga kembali terbuka, Arga mengeluarkan kepalanya dengan sebelah alis terangkat. “Kamu mengumpat saya Vin??”
“Tidak tuan, mana berani saya mengumpat anda.”
“Awas saja kamu, dengar Vin, jangan ada yang masuk dan mengganggu saya. Saya sibuk!!.
BRAK
Pintu kembali Arga tutup dengan keras, menimbulkan suara nyaring yang membuat Vino terjingkat kaget, pria itu kembali mengumpat seraya mengelus dadanya yang kaget. “Sibuk?? Sibuk sama nyonya?? Gak di rumah gak di kantor, tancap gas terus”.
Vino memilih memasuki ruangannya, ia akan mengerjakan pekerjaannya seraya mengawasi ruangan bosnya jika saja ada yang berkunjung dan mengganggu kegiatan tuannya itu.
Sementara itu…..
“Ayolah sayang….”
Arga terus merayu Suci dan membujuknya, agar istrinya itu mau melakukan pertempuran mendadaknya. Sayangnya perempuan itu bersikeras menggelengkan kepalanya tanda menolak.
“Ini di kantor mas, kamu ih gak bosan apa?”
“Aku gak pernah bosan sama kamu, semakin sering mencicipi aku semakin dalam kecanduan sama kamu”.
Suci memukul dada suaminya, ia berdecak kesal mendengar ucapan Arga. “Mas ih, ngomongnya….”
Arga tertawa, “Kenyataan sayang, hayu, sekaliiiii saja. Dosa loh nolak suami”.
Senjata ampuh yang tak pernah bisa Suci tolak. Akhirnya ia mengangguk pasrah dan berbaring pelan saat Arga mendorong bahunya dengan lembut.
__ADS_1
“Aku hanya mau menghapus kenangan buruk kamu di kamar ini, dengan kenangan indah yang aku ciptakan.” Bisiknya dengan suara parau penuh gairah, mata sayunya selalu mampu membuat Suci meleleh dan terpesona.
“Lakukan sayang…” Bisik Suci dengan manja, membuat Arga tersenyum penuh arti dan mulai mengecup kening Suci dan merambah ke area lainnya.
***
Pergumulan panas beberapa saat yang lalu membuat Suci lelah dan terlelap. Akhir-akhir ini ia memang merasa cepat lelah. Jangankan beraktivitas berat seperti tadi, hanya berjalan kaki menaiki anak tangga menuju ke kamarnya saja bisa membuatnya ngos-ngosan dan lelah.
Arga melanjutkan pekerjaannya kembali, ia memerintahkan Vino untuk menyiapkan makan siang untuknya dan Suci di ruangannya saja. Suci masih tertidur dan dia sendiri pun sangat malas untuk keluar kantor. Jika saja pekerjannya tak banyak mungkin ia akan memilih tidur memeluk istrinya, tapi sayangnya pekerjaannya sangat menumpuk dan ia harus menyelesaikannya.
Pintu ruangannya terdengar di ketuk, dan Vino masuk menghampirinya setelah Arga menyuruhnya untuk masuk.
"Makan siang anda sudah siap tuan".
"Letakkan di meja Vin, dan kamu boleh pergi makan juga".
"Baik tuan, saya permisi".
Arga mengangguk, membiarkan Vino keluar dari ruangannya dan ia sendiri mematikan layar laptopnya kemudian beranjak membangunkan Suci yang masih terlelap di ruangan pribadinya.
"Sayang....bangun dulu, makan siang yuk". Arga mengusap kening Suci yang matanya masih rapat terpejam. Perempuan itu sama sekali tak terganggu dengan suara dan sentuhan Arga.
Suci masih betah memejamkan matanya, sentuhan Arga malah semakin membuatnya nyaman.
Arga memberenggut kesal, perutnya sudah mendemo meminta makan, tapi istrinya masih betah di alam mimpinya. Senyum jahil terulas sempurna di bibirnya yang sedikit tebal, ia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, kemudian mengecup bibir Suci berkali-kali. Serangan bertubi-tubi itu berhasil membuat tidur Suci terusik, ia menggeliat seraya mengerang karena seseorang mengganggu kenyamanannya.
Perlahan matanya terbuka, seringaian Arga adalah pemandangan pertama yang ia lihat karena pria itu masih menunduk dan wajahnya masih sangat dekat dengan wajahnya. "Emmmmmhh mas, kamu jahat". Rajuknya
"Abis kamu gak bangun-bangun, aku laper sayang."
"Kenapa gak makan mas? memangnya ini jam berapa??"
"Mana bisa aku makan sendiri ninggalin kamu, ini udah masuk jam makan siang sayang. Tuh denger gak? Adzan duhur tuh". Arga mengacungkan jari telunjuknya, seolah menunjukkan suara adzan yang terdengar samar-samar agar lebih jelas terdengar.
Suci menggeliat seraya mengucek pelan matanya, ia beranjak duduk dan menurunkan kedua kakinya ke atas lantai. "Aku mandi dulu ya mas, kamu kalau laper makan duluan aja, nanti aku nyusul".
"Aku nunggu kamu aja, cepetan ya sayang".
__ADS_1
Suci mengangguk, kemudian beranjak ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Suci keluar dari ruangan pribadi Arga dengan memakai pakaian yang sudah Arga sediakan sebelumnya. Rok plisket warna hitam di padukan dengan kemeja panjang berwarna peach dan pashmina warna hitam. Sangat pas dan cocok di pakai perempuan berwajah teduh itu.
Arga sangat tahu selera Suci, dan apa saja yang perempuan itu sukai.
"Mas gak makan??"
Arga mengerjap, wajah segar Suci membuatnya terpaku. Padahal Suci tak memakai riasan apapun namun warna merah alami bibir perempuan itu selalu membuat Arga tergoda dan terpesona.
"Mas, kok malah bengong??" Tanya Suci lagi.
"Ah, ak..aku nungguin kamu sayang".
Suci tersenyum manis, kemudian duduk di samping Arga dan mulai bersiap menyantap makanan yang sudah siap di meja.
"Mas mau makan sama apa? Ayam atau udang??" Suci mengambil piring, bersiap memindahkan makanan yang Arga inginkan dari styrofoam ke piring.
"Ayam aja sayang, udang buat kamu aja. Kamu kan suka udang".
Suci mengangguk, memberikan piring yang sudah terisi nasi dan ayam bakar madu pada suaminya. Sedangkan ia bersiap menyantap udang manis pedas kesukaannya.
Namun baru satu suapan saja, perutnya terasa bergemuruh dan bergejolak, menimbulkan rasa mual dan mendorongnya untuk kembali memuntahkan makanan yang baru saja di telannya.
Suci menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, ujung matanya melirik pada Arga dengan rasa tak enak, suaminya sedang makan, tapi ia justru ingin muntah di hadapan pria itu.
Tanpa pikir panjang, Suci berlari ke arah kamar mandi, ia memuntahkan makanan yang baru saja masuk kedalam perutnya, baru satu suapan saja, hingga muntahan selanjutnya terasa sangat pahit.
Arga yang panik segera menyusul Suci, ia memijat tengkuk istrinya dengan rasa khawatir, karena sebelumnya Suci tak pernah seperti ini. "Kamu kenapa sayang? Kok gak biasanya muntah kaya gini? Masuk angin yah??"
Suci menggelengkan kepalanya, ia merasa baik-baik saja, tapi bau udang yang biasanya sangat terasa nikmat itu mendadak terasa euneuk dan membuatnya mual.
Setelah dirasa cukup membaik, Suci berkumur dan membasuh wajahnya, hingga pashmina yang ia pakai sedikit basah. Ia berbalik menghadap suaminya, keningnya mengernyit dan sedikit mendorong Arga yang tengah merangkulnya. "Jangan deket-deket aku mas, kamu bau. Aku mual lagi". Suci berbicara ketus, hal yang lagi-lagi tak pernah Suci lakukan pada Arga.
"Bau??" Ulang Arga, ia mengendus ketiaknya sendiri, kemudian kembali menatap istrinya. "Gak bau kok sayang, wangi parfum yang biasanya akau pakai".
"Bau mas bau. sana jauh-jauh. Jangan deketin aku pokonya". Suci mengibas-ngibaskan tangannya agar Arga menjauh darinya, dan dengan tampang bodohnya Arga mundur menjauhi Suci, ia lebih takut menghadapi kemarahn Suci dari pada menghadapi investor berwajah garang dan bertubuh besar sekalipun.
__ADS_1
Suci beranjak dari kamar mandi, meninggalkan Arga yang masih menganga dengan tingkah aneh istrinya. "Bau katanya? Jadi ini yang Vino rasakan tadi? Menyebalkaaaannnn!!"
Arga kini tahu seberapa kesalnya Vino saat Suci mengatainya bau, dan kini ia merasakannya.