PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
TAK SADARKAN DIRI


__ADS_3

Sore itu tampak mendung, awan hitam menutup senja. Malam belum tiba namun gelapnya sudah terasa, angin bertiup cukup kencang, menembus tulang para penghuni bumi dan memaksa mereka untuk segera berteduh kala gerimis mulai menyapa.


Suci menggenggam tangan Tari dengan erat, halte bis menjadi tempat mereka berteduh. Berbaur dengan para pejalan kaki lainnya yang juga tengah berteduh menghindari hujan. Wajah gadis itu terlihat memucat, ketakutan akan jati dirinya terbongkar membuat tubuhnya gemetar.


"Ci, kamu gak papa kan? Ada apa sebenarnya? Berbagilah dengan ku Ci, jangan memendamnya sendirian". Tari mengusap punggung tangan Suci yang menggenggamnya dengan erat. Berusaha memberikan ketenangan pada sahabatnya itu.


"Aku takut Tar, aku akan ceritakan semuanya Tar. Tapi tidak di sini".


Suci mengedarkan pandangannya, begitu pun dengan Tari. Itu memang bukan tempat yang tepat untuk mereka bertukar cerita, suasana ramai oleh orang-orang yang tengah berlindung dari hujan.


Sebuah mobil mewah berhenti di depan halte, hujan semakin deras, hari pun semakin gelap, membatasi jarak pandang semua orang untuk sekedar melihat siapa pemilik mobil mewah itu.


Seorang pria yang Suci tahu namun kurang ia kenali turun dari dalam mobil dan berlari ke arahnya. "Nona Suci, anda bisa ikut saya? Ada yang ingin kami sampaikan pada mu". Dia adalah Vino, asisten pribadi Arga.


Suci menggeleng takut, jika Vino ada di sana, sudah di pastikan jika Arga pun ada di sana.


"Saya tidak bisa Tuan, maaf saya harus pergi".


Suci bangkit berdiri, berlari menembus hujan tanpa memperdulikan teriakan Tari yang memanggilnya.


Dengan tubuh bergetar juga menggigil, ia memelankan langkahnya, kepalanya terasa berdenyut nyeri. Teriakan para pengendara yang hampir saja menabraknya tak ia hiraukan, Suci hanya ingin mencari tempat untuk berlindung dan bersembunyi dari Arga. Namun tubuhnya yang lemah limbung, terhuyung ke belakang kemudian jatuh tak sadarkan diri.


Tepat di pinggir tempat Suci tergeletak, Vino menghentikan mobilnya. Arga memang memerintahkan Vino untuk mengikuti Suci, bukan karena mengkhawatirkan perempuan itu, lebih tepatnya, Arga butuh berbicara dengan Suci.


"Dasar keras kepala, bawa dia masuk Vin".


"Baik tuan muda".

__ADS_1


Vino turun dari dalam mobil, menembus hujan untuk membawa Suci yang tak sadarkan diri masuk ke mobilnya, Arga berpindah duduk di depan, agar Suci bisa di baringkan di jok belakang.


Samar-samar Tari melihat kejadian itu, meski jarak pandang terbatas karena derasnya hujan, tapi Tari tahu betul jika itu mobil atasannya, dan Vino adalah bukti akurat jika Suci memang di bawa oleh Arga. Tari mengikuti Suci, berniat mengejarnya karena cemas, dan dugaan tentang scandal itu pada Suci semakin kuat.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Samar-samar terdengar suara adzan menyelusup ke sebuah kamar yang penghuninya terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya, cahaya lampu di atasnya membuat ia menutup matanya dengan punggung tangan, ia melenguh merasakan pusing yang teramat di kepalanya. Setelah beberapa saat menyesuaikan diri, ia mengedarkan pandangannya. Perempuan itu memaksa bangun saat mendapati dirinya di ruangan asing, ruangan luas dan mewah. Bahkan luas rumahnya saja kalah oleh luas ruangan itu.


Rasa nyeri di kepalanya membuat ia memukul-mukul pelan sisi kepalanya. Mencoba mengingat kejadian apa yang terjadi sebelum ia tak sadarkan diri dan tiba di ruangan asing itu.


Suci teringat ketika Vino menghampirinya, tiba-tiba saja ketakutan itu mulai menguasai benaknya. Membuat ia menggigil menarik selimut yang sedikit tersingkap karena gerakan bangunnya tadi. Ia meraba kepalanya, polos, tanpa jilbab yang menutupi rambut hitam panjangnya. Ia semakin ketakutan saat mendapati pakaian yang di kenakannya bukanlah pakainya yang tadi ia kenakan. Oh Tuhan, bayangan buruk itu kembali terlintas, kejadian itu benar-benar membekas, meninggalkan trauma psikis yang sangat menyiksa.


Suci harus berjuang dan berperang melawan rasa takut dan ketidak percayaan dirinya ketika berinteraksi dengan orang lain di lingkungan luar sana. Terkadang ia merasa jijik pada dirinya sendiri, untuk bercermin saja kerap menimbulkan rasa ragu.


"Aku dimana??". Lirihnya, ia mulai terisak, menatap pintu di depannya berniat untuk pergi, tapi mendapati kepalanya tak tertutup hijab membuatnya kembali urung.


Suara tuas pintu terbuka membuatnya mengeratkan selimut menutupi bagian dadanya yang tertutup piyama berlengan panjang juga celana panjang.


Seorang wanita paruh baya yang terlihat anggun berjalan mendekat. Senyum lembut tersungging di bibirnya. "Sudah bangun nak?". Sapanya.


"Anda? Nyonya Tara??".


Nyonya Tara mengangguk, mendekati Suci kemudian duduk di sisi ranjang menghadap pada Suci. "Gimana keadaan kamu nak?".


"Saya baik nyonya". Suci terdiam menunduk, benaknya penuh tanya, siapakah yang telah mengganti pakaiannya juga membuat kepalanya tak tertutup hijab.


Nyonya Tara mengerti akan hal itu, wanita paruh baya itu menarik tangan Suci kemudian menggenggamnya dengan lembut. "Mama yang gantiin baju kamu, di bantu sama bibi. Baju kamu basah, kamu bisa sakit kalau lama-lama pakai baju basah, maaf ya sayang, mama lancang". Sengaja nyonya Tara menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'mama', agar Suci tak canggung juga merasa nyaman berada di sana.

__ADS_1


Namun Suci justru merasa aneh dan tak nyaman dengan sebutan itu, karenanya dia hanya terdiam.


"Kamu marah sama mama nak?".


Suci memberanikan diri menatap wanita bermata teduh itu, ia menggeleng pelan. "Terima kasih nyonya, tapi maaf, apakah saya bisa mendapatkan jilbab saya? Saya harus pulang, ummi sama Abi pasti khawatir nyonya".


"Arga sudah mengabari Ummi dan Abi mu tadi, kamu tidak sadarkan diri, mama menyuruh Arga mengirimkan pesan lewat ponsel kamu ke Abi sama ummi kamu, maafkan mama, mama lancang lagi".


Suci gelisah, mendengar nama Arga saja sangat membuatnya takut. Bagaimana mungkin ia bisa menerima lamaran pria bejat itu??


"Saya mau pulang Nyonya". Lirih Suci.


"Tapi ini sudah malam sayang, di luar hujan masih deras. Sebaiknya kamu istirahat dulu di sini, mama janji, besok pagi mama sendiri yang akan mengantarkan kamu pulang".


"Tapi besok saya harus bekerja nyonya".


"Tidak nak, kamu demam, sebaiknya kamu beristirahat".


Benar, Suci memang merasakan tubuhnya demam, lemas dan dingin di bagian kakinya. Tapi ia sangat ingin pergi dari sana, ia tidak mau jika sampai bertemu dengan Arga. Tapi bagaimana jika ummi dan Abi nya berfikir yang tidak-tidak jika tengah malam begini tiba-tiba ia pulang?.


Ia mengangkat kepalanya ketika terdengar langkah kaki memasuki kamar dan semakin dekat ke arahnya.


"Ka..kamu??". Suci panik, tubuhnya bergetar hebat, Isak tangis mulai terdengar. Tanpa sadar ia menghambur ke pelukan nyonya Tara, mencari ketenangan dalam tubuh wanita itu. "Takut, saya takut. Tolong saya nyonya, usir dia dari sini".


Nyonya Tara mendekap Suci, mengusap punggungnya agar Suci tenang. Ia menoleh pada Arga yang berhenti melangkah. Pria itu tampak berdecak kesal, namun hati kecilnya juga menyadari, Suci seperti itu karena perbuatannya.


"Pergilah nak, jangan temui dia".

__ADS_1


Tanpa menjawab, Arga kembali membalikan tubuhnya untuk pergi dari kamar itu, menghindari tangisan ketakutan Suci yang membuatnya semakin merasa bersalah.


__ADS_2