PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
JAWABAN


__ADS_3

Suasana malam itu tampak hening, rumah sederhana yang lampunya masih menyala meski hari mulai larut itu pun masih menandakan adanya kehidupan di dalam sana.


Ketegangan dari raut orang-orang yang tengah berkumpul di rumah itu jelas terlihat, hampir lima belas menit Suci tak sadarkan diri. Masih belum ada tanda-tanda gadis itu akan membuka matanya.


"Maafkan saya pak". Kalimat singkat itu memecah keheningan di ruangan yang tak terlalu luas. Arga menunduk menandakan jika ia sangat menyesal atas apa yang telah ia lakukan pada Suci.


Abi Abdullah menghela nafas panjang, "Itu semua terjadi atas ijin Allah nak Arga. Kita hanya hambanya yang bahkan menggerakkan jari pun atas kehendaknya. Bukan ranah saya untuk menyalahkan atau menghakimi, itu urusan Allah. Taqdir memang rumit, kita tak akan pernah bisa menebak apa yang akan terjadi di hari esok. Musibah ini terjadi pada putri kami, kami pun tak menginginkannya. Tapi kembali lagi, ini semua kehendak Allah. Mungkin Allah akan menunjukkan sesuatu yang indah di balik musibah ini".


Arga tertegun, jawaban bijak itu semakin membuatnya merasa bersalah. Kornea mata pria tua yang tampak berkaca-kaca itu membuat Arga merasa malu pada dirinya sendiri. Malu akan perbuatannya yang menjijikan.


"Masya Allah pak, kami semua merasa malu pada bapak. Kami lah yang bersalah di sini, kami tidak bisa mendidik putra kami dengan baik. Hingga dia melakukan perbuatan berdosa itu." Tuan Tara menundukkan kepalanya, mengusap setetes air mata yang tanpa permisi meluruh keluar dari matanya.


Sakit rasanya, ketika Arga membuat orang tuanya meneteskan air mata karena perbuatan buruknya, dan justru mereka menyalahkan diri mereka sendiri atas dosa yang telah Arga lakukan.


"Saya ingin bertanggung jawab pak, saya ingin menikahi putri bapak". Kata Arga.


Abi Abdullah terkejut, namun ia mencoba mengendalikan rasa terkejutnya dengan menampilkan senyuman khasnya. "Alhamdulillah, terima kasih atas niat nak Arga. Tapi saya tidak bisa menentukannya, biarlah Suci yang menjawab niat baik nak Arga ini".


Arga mengangguk, menatap ke arah pintu kamar yang tertutup. Didalam sana Suci sedang terbaring tak sadarkan diri, di temani oleh umi Fatimah dan nyonya Tara.


Di dalam kamar...


Umi Fatimah terisak melihat keadaan putrinya yang ketakutan hingga ia tak sadarkan diri. Betapa hancurnya hati Suci, ketika menerima kenyataan bahwa ia tak suci lagi, tak sempurna sebagai seorang gadis. Bahkan Suci tak makan dan tidur ketika itu, kehidupannya bak di dalam neraka.

__ADS_1


Setelah Suci berhasil bangkit sedikit demi sedikit, Vino muncul dan membongkar semuanya di hadapan kedua orangtuanya, dan kini Arga datang membawa kembali ingatan buruk tentang kejadian malam kelam itu.


"Bu, saya benar-benar meminta maaf atas apa yang putra saya lakukan pada putri ibu, kami menyesal Bu, karena kelalaian kami dalam mendidiknya, kini ia melukai hati ibu dan putri ibu".


Nyonya Tara menunduk menyembunyikan rasa malunya menatap wajah terluka umi Fatimah.


"Saya marah nyonya, saya kecewa dan saya mempertanyakan taqdir putri saya pada Allah. Kenapa harus putri saya?? Dan itu juga kekhilafan saya, tidak seharusnya saya mempertanyakan jalan kehidupan yang sudah Allah atur untuk kami. Insya Allah kami sudah ikhlas nyonya, ini musibah untuk kami. Cara agar kami bisa belajar lebih bersabar lagi. kami memaafkan nak Arga, kita semua sedang di uji oleh yang maha kuasa."


Nyonya Tara semakin menunduk malu. Jawaban tak terduga yang terlontar dari umi Fatimah semakin membuatnya kecewa pada Arga yang telah menorehkan luka pada keluarga yang luar biasa itu.


Jari-jari lentik milik gadis yang kini tengah terbaring di atas kasur berukuran sedang itu bergerak, netranya mulai mengerjap. mengedip-ngedip menyesuaikan cahaya lampu yang menyorot dari atasnya. "Ummi". Lirihnya.


"Iya nak, umi di sini. Apa yang kamu rasakan nak? Mana yang sakit? biar umi pijat". Umi Fatimah meneliksik tubuh lemah putrinya, memastikan jika ada yang membuat sang putri merasa kesakitan. Tak ada yang lebih sakit lagi dari hatinya, dan umi Fatimah tahu pasti tentang hal itu.


"Aku tidak apa-apa ummi".


"Maafkan putra saya nak, ijinkan dia bertanggung jawab atas segala perbuatannya padamu".


Suci menggelengkan kepalanya, ia menghapus air mata yang meski ia hapus tetap mengalir.


"Maaf nyonya, saya tidak bisa".


"Kenapa nak? Bukankah lebih baik kalian menikah? biarkan dia mempertanggung jawabkan semuanya".

__ADS_1


"Saya tidak bisa nyonya, bagaimana saya bisa hidup dengan seseorang yang bahkan melihatnya saja saya merasa takut, marah, benci dan jijik pada diri saya sendiri".


"Tapi nak.."


"Maaf nyonya".


"Sayang.." Umi Fatimah menggenggam jemari putrinya, berusaha untuk membuat gadis itu tenang dan tak terburu-buru dalam mengambil keputusan. "Bukankah Kalian memang lebih baik menikah nak??". Tanya umi.


"Jangan paksa aku umi. Biarkan semuanya seperti ini". Suci menunduk terisak, bayangan itu kembali muncul hingga membuat tangannya gemetar.


"Tapi nak.."


"Umi, apa umi sedang mencoba mengatakan jika tidak akan ada pria yang mau menerima ketidaksempurnaan ku selain pria itu? Aku memilih untuk sendiri seumur hidup ku umi".


"Tidak seperti itu nak, istighfar sayang. Tidak seharusnya kamu memiliki pemikiran seperti itu. Menikah adalah penyempurna agama mu, niatkan semua karena Allah, insya Allah semuanya akan mudah untuk mu".


Suci semakin terisak, gadis itu memilih diam untuk meredam kemarahannya. Ia juga tidak mau berkata kasar dan melukai hati umi nya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Nyonya Tara dan umi Fatimah tampak keluar dari dalam kamar Suci, menghampiri para pria yang duduk menunggu di ruang keluarga. Televisi masih menyala, menemani suasana tegang menanti jawaban dari Suci atas lamaran Arga.


"Bagaimana ma? Apa Suci menerima niat baik kita??". Tuan Tara bertanya, menatap sang istri yang duduk menghampiri putranya, mengusap pundak Arga agar sang putra bersiap menerima jawaban dari Suci.

__ADS_1


"Nak Suci menolak pa".


Hai kalian holang-holang tersayang kuuuh. Kasih hadiah buat jempol emak dengan tekan tanda jempol di akhir episode ini dong, komentarnya juga ramein. Emak tuh suka sedih deh, kalo ngeliat views nya banyak tapi yang nyumbang jempol cuma segelintir aja..rasanya gimanaaaa gituuu😭😭😭


__ADS_2