
“Ekheeeeemmm”.
Nata dan Suci kompak menoleh saat mendengar suara deheman dari seseorang yang berdiri menjulang di dekat meja mereka.
“Ma..mas Arga..” Suci sontak berdiri, meraih tangan suaminya dan menariknya agar mendekat.
Sementara Nata mengerutkan dahinya menatap seorang pria berahang tegas yang tampak tak asing baginya. Tatapan tajam Arga membuat Nata tak nyaman.
“Kamu sedang apa disini sayang??” Kata sayang itu terdengar mengerikan dengan ucapan dingin yang di lontarkan Arga.
“Sayang??” Batin Nata.
“Aku sedang makan siang mas, kenalkan, ini kak Nata, manager di café tempat aku kerja kemarin mas”.
“Kak Nata, ini suami aku”.
Arga bernafas lega, setidaknya, Suci memperkenalkannya sebagi suaminya. Dan hal itu sedikit mengurangi rasa cemburunya.
“Suami? Kamu sudah menikah??”
“Iya kak, sudah lama”.
“Kok kamu gak pernah cerita??”
Pertanyaan Nata membuat amarah Arga kembali memuncak. “Sedekat apa istri saya sama kamu? Kenapa dia harus menceritakan masalah pribadinya padamu??”
__ADS_1
“Mas…” Suci mengusap lengan Arga, agar pria itu sedikit tenang.
Melihat sorot teduh sang istri membuat Arga memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Mata itu selalu membuatnya lemah, mungkin karena terlalu besar rasa cintanya pada Suci hingga dia mudah tersulut amarah karena rasa cemburunya. Dan mata teduh Suci menjadi penawar rasa panas dalam dirinya. “Maaf sayang..” Lirihnya, “lanjutkan makan siang kamu, aku harus menemui klien”.
Arga hendak beranjak, namun tangan Suci yang masih menggenggam tangannya menahannya. Arga menatap Suci dengan sebelah alis terangkat. “Jelaskan nanti di rumah, dan bersiaplah menerima hukuman mu sayang, aku rasa lima ronde cukup untuk mengurangi rasa cemburu aku”. Bisik Arga, bisikan yang mampu di dengar juga oleh Nata.
“Ekhemmmm, maaf, aku masih di bawah umur untuk mendengar kalimat fulgar seperti itu”. Geram Nata
“Hey, diam kau. Cari mati hah? Siapa yang mengijinkan kamu untuk bicara anak kecil??”
“Sial, aku bukan anak kecil lagi. Kau yang terlalu tua”.
Arga dan Nata saling menatap tajam. Tatapan mematikan yang bisa membunuh lawannya.
“Jangan menatapku seperti itu, kau terlihat jauh lebih tua jika seperti itu”. Nata mendelik kesal, kedua tangannya bersidekap di depan dada, mengacuhkan kemarahan Arga yang di kepalanya sudah mengepulkan asap.
“Ampun kak, jangan lah…”
“Adik???”
Suci menatap Arga dan Nata bergantian, ia tak mengerti dengan keadaan di depannya.
"Ada apa ini mas??"
Arga dan Nata saling menatap, kemudian keduanya tertawa.
__ADS_1
"Mas??"
Tatapan mengancam Suci membuat tawa Arga terhenti, dan Nata tertawa puas melihat Arga takluk pada Suci.
"Kau sudah menemukan pawangmu rupanya, kau terlihat seperti kerbau yang bodoh kak". Suci membulatkan matanya mendengar ucapan Nata pada Arga, setahu Suci tak ada yang berani berbuat tidak sopan pada Arga, apalagi sampai meledeknya seperti kerbau.
"Sial.." Arga mengusap tengkuknya, kemudian memberikan tatapan mematikan pada Nata. "Awas saja kau!!"
"Mas, bisakah kalian menjelaskan ada apa ini?? Aku benar-benar tidak mengerti mas".
"Dia adikku, adik sepupu ku". Ucap Arga dengan malas. "Sayangnya aku harus mengakuinya".
Tawa Nata kembali pecah, "benar Suci, dia yang bodoh itu kakak ku".
"Ya Allah, kalian membuatku bingung". Suci melepaskan Arga dan kembali duduk dengan memijat pelipisnya, ia sudah sangat takut dengan kemarahan Arga, ia takut Arga akan salah faham padanya. Dan sialnya lagi, Tari sangat betah berada di kamar mandi, hingga Suci terlihat seperti sedang makan berdua saja dengan Nata.
"Maaf tuan, tuan Arson menunggu anda". Vino muncul dengan tiba-tiba, membuat Arga, Suci dan Nata terlonjak kaget.
"Astaga, kamu membuatku kaget". Rutuk Nata
"Aku sampai lupa kalau aku sedang ada pertemuan penting, ini karena kau adik kurang ajar".
Nata mendelik kesal, kemudian tersenyum manis pada Suci yang tengah menatapnya.
"Aku pergi dulu sayang". Arga mengecup puncak kepala Suci kemudian mengusapnya dengan lembut. Tatapannya beralih pada Nata yang tengah tersenyum mengejeknya, "dan kau, antar kakak ipar mu ini selamat sampai ke rumah."
__ADS_1
"Ya ya, pergilah sana. Aku akan bersenang-senang dengan kakak ipar ku ini".
Sayangnya waktu tak memungkinkan Arga untuk melanjutkan perdebatannya dengan Nata, ia beranjak dengan enggan meninggalkan istri dan adiknya.