
Terhitung Satu bulan sejak Suci keluar dari rumah sakit, selama itu juga Suci tak pernah bertemu dengan Arga. Suci belum siap jika harus kembali mengingat betapa kejamnya pria itu padanya. Satu-satunya kekuatan yang ia punya dalam menjalani hidup harus kembali terenggut paksa oleh orang yang sama.
Keadaan itu sangat membuat Arga tersiksa, tak jarang ia tak bisa tidur dan melewatkan makannya karena merutuki dirinya sendiri dalam sebuah penyesalan yang mendalam.
Arga hanya bisa memperhatikan Suci dari kejauhan tanpa berani menghampiri. Bukan tak ingin, tapi ia terlalu takut dan pengecut menerima kemarahan dan kebencian Suci. Rindu, sudah menjadi teman untuknya, kesepian sudah menjadi sahabat setia bagi hari-harinya. Ia terima itu, ia menyadari kesalahannya, inilah hasil yang harus ia tuai dari segala perbuatan kejamnya pada Suci, kebencian.
Mata Arga memerah, berkaca-kaca saat melihat Suci keluar dari rumahnya dengan tertawa bersama Tari, sahabatnya. Arga mulai berfikir jika Suci memang bahagia tanpanya. Ingin rasanya Arga menghampiri Suci dan memeluknya, menumpahkan semua rasa rindunya pada perempaun itu, mengatakan banyak hal tentang rasa cinta, rasa rindu dan rasa penyesalannya. Kerinduan ini teramat menyiksanya, tapi ia tak punya keberanian bahkan untuk sekedar mengatakan "Suci aku merindukan mu". Semua tertelan oleh rasa bersalahnya.
Tidak ada yang sesakit ini, hari-harinya terkurung dalam rasa bersalah dan penyesalan. Bahkan Arga menganggap jika dirinya seorang pembunuh. Lihat saja penampilannya, ia seperti pria tak terurus, lusuh dan tubuhnya mengurus.
"Kamu bahagia tanpa ku sayang? Apa aku harus menyerah dan melepaskan mu? Tapi aku tidak sanggup teru menerus hidup dalam rasa rindu dan penyesalan, harus dengan cara apa aku menebus kesalahanku agar kamu mau memaafkan aku?"
Inilah yang kerap ia lakukan selama sebulan ini, menatap Suci dari jarak yang tak terlalu jauh dari rumahnya, hanya bisa dari dalam mobil, karena Arga tidak mau jika Suci melihatnya dan kemarahannya akan kembali membuat Suci menangis dan semakin membencinya.
***
Hari ini Suci memulai kuliah kembali setelah sempat mengambil Cuti untuk pemulihannya. Awalnya Suci putus asa dan memutuskan untuk putus kuliah meski ummi dan abi memaksanya untuk melanjutkan kuliahnya, karena Suci sadar, fakultas kedokteran membutuhkan uang yang sangat banyak, dan Suci tidak mau membebani kedua orang tuanya.
Namun tanpa Suci duga, mama Tara dan papa Tara datang berkunjung beberapa hari yang lalu. Mereka meminta maaf karena baru menjenguk Suci, mereka tidak tahu musibah yang menimpa Suci, karena Arga baru memberi tahu mereka setelah mereka mendapatkan informasi dari anak buah papa Tara yang di utus untuk mencari tahu keadaan putra dan menantunya yang susah di hubungi, dan kenyataan yang mereka dengar sangat mengejutkan mereka.
__ADS_1
Suci masih ingat betul kekecewaan dan tangisan mertuanya itu, mereka bahkan meminta maaf atas nama Arga. Mereka malu dengan segala perlakuan buruk Arga yang lagi-lagi menyakiti Suci.
"Maafkan putra mami nak, dan maafkan kami yang baru mendatangi mu".
"Mama tidak usah minta maaf, aku sudah mengikhlaskannya ma, tapi untuk kembali rasanya sangat berat ma. Aku tidak sanggup berada di samping mas Arga, aku takut tidak bisa mengendalikan kemarahan ku padanya".
"Mama sama papa tidak akan memaksamu untuk kembali padanya nak, mama tahu itu berat untuk mu. Untuk yang ke dua kalinya putra mama menghilangkan seseuatu yang berharga dalam hidup mu, mama bisa mengerti kekecewaan mu padanya nak".
"Terima kasih ma". Suci memeluk mama mertuanya, mengusap punggungnya yang bergetar karena iasak tangisnya.
Papa Tara pun meminta maaf pada abi dan ummi, lagi-lagi putri mereka harus terluka karena putranya.
"Aku lagi ngambil cuti pa, tapi sepertinya aku tidak akan melanjutkan kuliah ku, aku akan mencari pekerjaan saja pa".
Mama dan papa Tara saling menatap, kemudian mereka mengangguk seolah memberikan isyarat bagi keduanya.
"Lanjutkan kuliah mu nak, mama dan papa yang akan bertanggung jawab atas semuanya". Ucap papa.
"Tidak pa, aku tidak mau merepotkan mama dan papa. Aku bisa mencari pekerjaan dulu untuk menabung".
__ADS_1
"Jangan menolak nak, kurangi rasa bersalah kami dengan menerima ini. Mama dan papa mau kamu melanjutkan kuliah mu. Kejar cita-cita kamu nak".
"Tapi ma, aku..."
"Mama mohon sayang, kamu putri mama kan?"
Suci mengangguk.
"Karena itu biarkan kami bertanggung jawab pada mu, dan pada masa depan mu".
Suci terdiam, ia menoleh pada ummi dan abi secara bergantian. Mereka tampak mengangguk.
"Baiklah ma, pa, Suci terima".
Setelah hari itu, Suci kembali melanjutkan kuliahnya, setiap hari Tari akan menjemput dan mengantarnya kuliah, karena tempat bekerja Tari yang baru berada di seberang kampus Suci.
GAESSS JAN LUPA MAMPIR KE KISAHNYA SAGARA DAN MAYRA. "kIFAH CINTA"
DAN JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE JIKA BERKENAN...PENCET TOMBOL LOVE AGAR CERITA-CERITA RECEH MAK JADI LIST FAVORIT KALIAN
__ADS_1