
Malam semakin larut, udara semakin dingin. Menarik semua penghuni bumi untuk berselancar di alam mimpi dengan bergelung di dalam selimut tebalnya. Namun tidak untuk Arga, pria itu tampak mondar-mandir di ruang tamu rumah mewahnya menanti kedatangan sang istri yang hingga saat ini tak kunjung terlihat.
Arga mengerang kesal, helaan nafas dalam terdengar beberapa kali keluar dari mulutnya, menggambarkan betapa frustasinya pria itu saat ini. Arga menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, “Udah jam sepuluh, kamu di mana sayang??” Gumamnya
Setelah kejadian siang tadi, Suci meminta Arga untuk membiarkannya sendiri dulu. Arga mengijinkannya, dan bodohnya Arga, ia tak tahu Suci akan pergi kemana dan ia tak bertanya.
Entah sudah keberapa kalinya Arga menatap jam mewah nan mahal itu, berharap waktu tak cepat berlalu semakin larut meski nayatanya itu mustahil dan tak membuat jarum jam kecil itu berhenti bergerak maju.
Arga menatap layar ponselnya, berharap ada satu saja pesan dari Suci yang mengabarkan jika ia akan segera pulang, tapi nihil. Sejak siang tadi perempuan itu tak bisa di hubungi.
Ini memang salahnya, andai saja ia tak mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Suci tersinggung, mungkin sekarang Suci ada di sisinya. Sesungguhnya, Arga sama sekali tak ingin menyakiti Suci dengan membiarkan perempuan itu merasa tak penting dalam hidupnya, ia hanya ingin Suci bahagia, dan sorot mata Suci ketika menatap Justin membuatnya berfikir jika Suci masih mencintai Justin. Maka Arga pun berusaha merelakan meski ia sendiri tak tahu ia akan sanggup hidup tanpa Suci atau tidak, sungguh, Arga hanya ingin Suci bahagia.
Arga kembali menyalakan layar ponselnya, namun ia kembali mematikannya. Ingin bertanya pada ummi dan abi tapi jika Suci tak berada di sana, itu akan membuat kedua mertuanya itu cemas. Menunggu kabar dari anak buahnya pun belum membuahkan hasil.
__ADS_1
“Aku gak bisa diam terus”, Gumamnya lagi
Arga memutuskan untuk mencari Suci, meski ia sendiri belum tahu pasti akan mencari Suci kemana, tapi itu lebih baik ketimbang ia hanya berdiam diri saja menunggu kabar dari orang-orangnya.
Dengan setengah berlari Arga menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, ia melangkahi dua anak tangga sekaligus agar ia cepat sampai di ruangan pribadinya itu.
Arga memakai jaketnya, mengambil kunci mobil dari atas nakas kemudian bergegas kembali keluar dan menuruni anak tangga.
“Bi, Bi inah..”
“Bi, aku keluar sebentar, bibi kunci semua pintu yah. Aku bawa kunci cadangan kok”.
“Iya tuan muda..hati-hati”. Pesannya
__ADS_1
Arga mengangguk, kemudian bergegas pergi setelah mengusap lembut lengan wanita tua yang di anggapnya sebagai ibu ke dua itu.
Arga berlari menuju ke mobilnya setelah memberi pesan pada dua penjaga di pintu rumahnya jika Suci datang agar segera mengabarinya.
BIPBIP
Suara remote mobil Arga terdengar menyala ketika sang empunya menekan tobol kunci terbuka di gantungan kuncinya. Tangan kokohnya terulur untuk membuka pintu mobil, namun lampu menyala dari sebuah mobil yang terparkir di depan gerbangnya membuatnya terpaku dengan rahang mengeras. “Justin…” Gumamnya
Tak hanya Justin yang membuat tangannya mengepal, tapi Suci tampak keluar dari pintu yang lain ketika Justin membukakan pintunya.
Arga memutuskan untuk kembali ke teras rumah, menunggu kedatangan istrinya di sana. Tak ada kalimat umpatan yang keluar dari mulutnya, namun sorot matanya mengatakan semuanya.
Suci menghentikan langkahnya sejenak setelah satpam membukakan pintu gerbang untuknya. Tatapannya bertemu dengan mata tajam Arga, meski dari jarak jauh, Suci dapat melihat mata penuh tanya pria itu.
__ADS_1
Sampai di teras rumah, Suci mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Arga, Arga menyambutnya meski hanya membalas uluran tangan saja tanpa sebuah kalimat manis atau sebuah senyuman tipis.