PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
MALAM DINGIN TAPI HANGAT


__ADS_3

Sampai di kamar yang di tuju, Suci dan Arga di buat terperangah oleh kamar luas dengan banyaknya taburan bunga mawar merah di atas ranjangnya. Aroma wewangian semakin membuat mereka nyaman, balkon kamar terarah langsung pada pantai dan hamparan lautan.


Selain bunga mawar merah, di atas ranjang itu juga terdapat sebuah lingerie seksi berwarna hitam dan piyama tidur untuk Arga.


Arga memberikan uang tips untuk pegawai hotel yang tadi mengantarnya, "Terima kasih mas, ini sangat berkesan". Ucap Arga pada pelayan itu.


Setelah menutup kembali pintu kamarnya, Arga mengedarkan pandangannya mencari Suci, perempuan itu menghilang entah kemana dari semenjak ia masuk ke dalam kamar. "Suci, kamu di mana?"


"Aku di sini mas, di balkon".


Arga menghampiri Suci, perempuan itu terlihat bahagia, ia memejamkan matanya untuk merasakan terpaan angin malam menyapu wajahnya. Deburan ombak masih terdengar jelas dari atas sana.


"Di sini dingin, kenapa kamu malah melepas hoodienya?".


"Gak dingin kok, aku suka".


Arga mengurung Suci di antara dua tangannya yang menjulur memegang besi pembatas balkon. Perempuan itu tampak menunduk malu, namun Arga tak membiarkan Suci beranjak. Entah sejak kapan Arga menyukai wajah Suci ketika tengah malu malu seperti itu, Suci manis dan menggemaskan.


"Jangan seperti ini mas, aku malu. Gimana kalau ada yang lihat?".


"Gak akan ada yang lihat, kita itu di lantai tiga puluh loh. Kalau pun ada yang lihat ya gak papa, kita kan udah halal".

__ADS_1


Suci terdiam, ia seolah baru menyadari jika mereka memang sudah halal untuk berbuat apapun. Bagaimana kalau Arga meminta haknya? Ah, Sepertinya Suci akan mencobanya. Ia tidak mungkin menghindar terus menerus. Suci sadar itu adalah kewajibannya dan hak Arga.


Malam itu terlihat sangat indah, bulan sabit menerangi malam di temani dengan kerlip bintang yang menawan.


Perlahan Arga mengarahkan tangannya pada perut datar Suci, mendekap istrinya dari belakang dan menyimpan dagunya di bahu perempuan itu.


Jantung mereka sama sama berdetak kencang, darah mereka berdesir hangat menimbulkan rasa tak biasa yang baru pertama kalinya mereka rasakan. Entah perasaan apa itu? Perasaan ingin sama-sama saling memiliki ataukah perasaan cinta yang perlahan hadir tanpa mereka sadari.


Malam semakin larut, angin laut bertambah kencang. Arga mengertakan dekapannya pada Suci, perempuan itu terlihat pasrah dan nyaman.


"Kita masuk yah, anginnya semakin kencang. Gak baik buat kesehatan kamu". Ucap Arga.


Suasana kamar bertabur mawar merah itu membuat mereka berdiri kikuk dengan saling melirik satu sama lain.


"Mas.."


"Suci.."


Keduanya berucap kompak, saling menatap kemudian tertawa tanpa suara.


"Kamu dulu aja mas". Ucap Suci.

__ADS_1


Arga menggelengkan kepalanya, "Kamu dulu aja".


"aku..aku lupa mau ngomong apa". Suci meremas ujung pashminanya, ia bertambah kikuk saat Arga menarik tangannya dan membawanya duduk di sisi ranjang.


"Suci". Panggil arga.


"Ya, mas??"


"Kalau seandainya aku meminta hak ku pada mu, apa kamu siap?".


DEG


Suci menunduk, ia memejamkan matanya sejenak, ia tahu lambat laun ini akan terjadi mengingat hubungannya dan Arga semakin membaik. Ia pun mengangguk pelan, "Insya Allah aku siap mas, tapi aku tidak tahu trauma ku ini sudah sembuh atau belum. Tapi aku tidak lagi merasa takut saat kamu menyentuhku".


Arga tersenyum lembut, ia mengangkat dagu Suci dengan jari telunjuknya. "Kita akan mencobanya, pelan-pelan pasti kamu bisa".


"Iya mas, aku akan mencobanya".


GAES, ADEGAN NGANU-NGANUNYA MAK SKIP AJA YAH? HAHAHA....HAYOLOH, SIAPA YANG NGAREP MEREKA NGANU-NGANU??


YANG UDAH NGEDOAIN MAK, MAKASIIIIH BANGET, MAK BERSYUKUR PUNYA KALIAN SEMUA, KALIAN JADI PENYEMANGAT BUAT MAK SUPAYA CEPET SEMBUH DAN MEMBERIKAN UP UP UP LAGI LAGI DAN LAGI....SYUKRAN YA GAESSS...SALAM LOPE LOPE, POKONYA MAK SAYANG KALIAN..

__ADS_1


__ADS_2