
Justin terdiam, ia masih mencerna semua kejadian menyakitkan ini. Namun sedetik kemudian….
BUG
Justin menarik Arga dan memukulnya, darah segar mengalir dari sudut bibir Arga.
“Mas, hentikan. Jangan seperti ini..” Suci berteriak, berusaha menghentikan Justin yang hendak kembali melayangkan pukulannya.
Vino menahan Justin, kedua tangan pria itu Vino tahan dengan kuat.
Justin menatap Arga yang juga menatapnya. Marah, kecewa, dan segala umpatan Justin ungkapkan pada Arga. Kini ia dapat mengerti kenapa Suci menikah dengan Arga. Scandal yang pernah Arga ceritakan ternyata melibatkan Suci.
Saat Justin membantu menangkap Broto, Arga menceritakan scandal yang ia buat dan membenarkan rumor itu, hingga membuat Arga menikahi gadis yang telah ia nodai. Justin sama sekali tidak menyangka jika gadis malang itu adalah Suci, perempuan yang di cintainya.
“Brengsek, laki-laki bejat. Jadi Suci gadis yang telah kamu nodai?” Teriak Justin. Ia hendak kembali menyerang Arga namun Vino menahannya.
Arga diam menunduk, ia akui ia memang brengsek, tapi ia berusaha menebus semua kesalahannya dengan mencintai dan membahagiakan Suci.
“Berhenti mas, jangan pukul dia lagi. Dia sudah bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan”.
“Tapi karena dia kamu meninggalkan ku Suci!!” Teriaknya lagi
Suci memejamkan matanya, ia tahu amarah Justin bukan untuknya, tapi mendengar teriakan keras itu membuatnya takut, tubuhnya bergetar. Tangannya saling beretaut dengan air mata yang deras mengalir.
__ADS_1
“Berhenti berteriak!!!” Sentak Arga, ia meraih Suci dan mendekapnya. “Tenanglah, jangan takut sayang. Aku disini”.
Suci mengangguk, ia memejamkan matanya dan membalas pelukan Arga dengan erat.
“Jangan berteriak di depannya, dia mengalami trauma”. Lirih Arga
Justin menarik tubuhnya dari cengkraman Vino hingga ia berhasil terlepas. Keadaan mulai tenang, melihat Suci ketakutan membuat mereka diam.
“Dan kau yang membuatnya seperti ini??” Justin menunjuk Arga tepat di depan matanya.
“Maaf tuan Justin, tolong turunkan tangan anda”. Vino menurunkan telunjuk Justin yang masih menunjuk Arga, Justin menepisnya. Kemudian menatap Suci yang terlihat ketakutan, ada luka yang dalam di balik mata indah yang berair itu.
"Kita pergi Suci, kita bisa memulainya dari awal. Aku akan menerima mu apa adanya".
Suci menggelengkan kepalanya dalam dekapan Arga, "Maaf mas, aku gak bisa". Lirihnya, Suci semakin terisak dan mengeratkan dekapannya pada Arga.
"Sayang..." Panggil Arga
Suci mendongak, menatap mata Arga yang tampak terluka. Mata sendu Suci membuat Arga memejamkan matanya sejenak kemudian mengukir senyum meski sangat sulit. Arga menangkup ke dua pipi basah istrinya, menghapus air kesedihan yang tampak tak berhenti mengalir dengan ibu jarinya.
"Jika kebahagiaan mu bersamanya, aku akan ikhlas melepaskan mu. Jika di sampingku akan membuatmu selalu terluka, aku akan melepaskan mu".
Suci membulatkan matanya, menatap tajam mata sendu suaminya, ia menarik diri dari dekapan Arga, mundur beberapa langkah menjauh dari ke dua pria yang sama-sama mencintainya.
__ADS_1
Arga melihat ada kemarahan dan kekecewaan di mata Suci, dan Justin melihat ada cinta yang besar di mata Suci untuk Arga.
"Apa itu yang ada dalam fikiran mu tentang aku mas??" Lirih Suci
Arga menggelengkan kepalanya, "Tidak seperti itu sayang, bukan gitu maksud aku. Aku hanya tidak ingin memaksamu tetap di sampingku kalau ternyata kamu terluka".
Suci menggelengkan kepalanya, rasa sesak di dadanya membuatnya semakin melangkah mundur menjauhi kedua pria yang memandangnya dengan penuh cinta. Mata ke dua pria itu tampak berair. "Kamu membuat aku kecewa mas, ternyata kamu masih belum cukup mengenalku".
Suci mengalihkan pandangannya pada Justin, "Dan mas, maafkan aku jika aku menyakiti mu. mungkin ini takdir yang Allah gariskan pada kita. Aku mencintai suami ku, maaf mas. Maafkan aku".
Suci berbalik, ia berjalan cepat meninggalkan tiga pria yang masih linglung di ruangan itu.
"Kejar dia Arga, dia memilih mu. Dia mencintai mu".
Arga menoleh pada Justin, anggukan dari pria itu membuat Arga berlari meninggalkan ruangan itu untuk mengejar Suci.
"Sayang, sayang tunggu. Maafkan aku". Arga meraih tangan Suci yang hendak memasuki lift, namun tangan Arga di tepis pelan oleh Suci.
"Aku ingin sendiri mas, tolong biarkan aku pergi".
"Tapi sayang, aku tidak bisa membiarkan mu pergi sendiri"
"Bukankah tadi kamu sendiri yang mengatakan jika kamu akan membiarkan aku pergi? Lalu kenapa sekarang menahan ku". Suci menatap kosong lorong panjang di depannya, kemudian tersenyum kecut, "aku merasa seperti barang yang kalian bisa tukar semau kalian."
__ADS_1
"Tidak, bukan seperti itu maksud aku.."
"Lalu seperti apa mas?? Kamu terlihat tidak mau mempertahankan aku di hadapan dia, kamu bahkan menyerahkan ku padanya. Apa itu yang kamu katakan mencintai ku??" Sentak Suci, Suci menutup wajah sendunya dengan kedua telapak tangannya, ia berjongkok dan menenggelamkan wajahnya pada lututnya tang terlipat. Ia menangis kencang, meluapkan rasa sesak di dadanya. Pertemuan tak sengaja itu membuatnya terkejut sekaligus kecewa. Kecewa pada suaminya yang dengan mudahnya menyerahkannya pada Justin karena mengira Suci tak bahagia dengannya, dan Arga fikir Suci masih menginginkan bersama Justin. Padahal Arga belum mengetahui kisah yang sebenarnya antar Suci dan Justin.