PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
TERBIASA


__ADS_3

Pagi itu, Suci tengah bersiap untuk bekerja kembali. Tak ada persiapan khusus, hanya mengoleskan lipgloss berwarna peach dan bedak tabur bayi. Gamis berwarna mocca menjadi pilihannya, di padukan dengan kerudung segi empat berwarna cream. Setelah di rasa cukup, Suci mengambil tas hitam lusuh kesukaannya.


Pintu kamar ia buka, sepasang kaki berbalut sepatu hitam mengkilat berdiri di depan pintu, membuat Suci mendongak untuk mengetahui siapa pemilik kaki tersebut. "Pak Arga?? Ada apa pak? Apa bapak membutuhkan sesuatu? aku sudah menyiapkan semua keperluan bapak di atas ranjang pak". Suci menunduk saat Arga tak juga menjawab.


"Jadi selama ini yang menyiapkan keperluan aku itu kamu??".


Suci terkejut, ia salah bicara. Karena memang Suci menyiapkan keperluan Arga secara sembunyi-sembunyi, ia tak pernah bertemu dengan Arga saat ia pergi ke kamar pria itu untuk menyiapkan keperluannya. "Ma..maaf pak, aku lancang. Aku hanya ingin melaksanakan tugas ku pak, aku tidak bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun."


Arga terkekeh melihat Suci menunduk, "terima kasih, dan ternyata selera mu mencocokan pakaian lumayan bagus, sesuai seleraku, aku suka".


Suci mendongak, kemudian kembali menunduk saat mendapati Arga tersenyum padanya. "Apa, saya melakukan kesalahan pak??".


"Tidak, aku hanya ingin memberikan ini. Pakailah, maaf baru aku kasih sekarang. Seharusnya aku memakaikannya di hari pernikahan kita, tapi aku baru sempat membelinya kemarin." Arga memberikan kotak berwarna merah yang isinya sebuah cincin dengan berlian kecil di tengahnya. "Pakailah, aku juga memakainya." Arga mengangkat tangannya, memperlihatkan jari manisnya yang juga tersemat cincin yang sama di sana.


"Apa ini tidak berlebihan pak?".

__ADS_1


"Tentu saja tidak, cincin itu menandakan kalau aku dan kamu sudah terikat satu sama lain. Agar semua orang tahu kita sudah memiliki pasangan".


Suci, menggenggam kotak merah itu, ia ragu untuk memakainya. Pernikahannya tidak seperti yang lainnya, hanya sebagai bentuk pertanggung jawaban Arga terhadap Suci atas apa yang di lakukannya.


"Apa perlu aku memakaikannya??". Tanya Arga.


"Tidak usah pak Arga".


"Kalau begitu pakailah".


"Dan ini, simpanlah ini. Pernikahan kita sudah terdaftar sekarang. Itu artinya pernikahan kita sah di mata agama dan hukum". Arga menyodorkan buku kecil berwarna merah dan hijau pada Suci. "Simpan dua-duanya".


Suci mengangguk, ia mengambil buku kecil yang menjelaskan statusnya itu dari tangan Arga, kemudian menyimpannya di dalam tasnya.


"Ayo berangkat, pengawal mu sudah menunggu mu di bawah". Ucap Arga.

__ADS_1


Suci mengangguk, mengekori langkah lebar Arga tepat di belakang tubuh tinggi kekar itu.


Tepat saat akan menuruni anak tangga, Arga menghentikan langkahnya, membuat Suci yang berjalan di belakangnya menabrak punggung liatnya.


"Astaghfirullah". Suci mengusap keningnya yang terasa sedikit nyeri, ia mendongak menatap Arga yang justru tertawa geli padanya.


"Sakit??". Tanyanya.


Suci mengangguk, ia mencebik kesal karena Arga justru semakin melebarkan tawanya.


"Hati-hati dong, sini aku liat". Arga menarik tangan Suci yang masih mengusap dahinya, kemudian mengusapnya dengan ibu jarinya. "Udah gak sakit??". Tanya Arga lagi.


Suci terpaku, bukan karena perlakuan manis Arga, tapi ia merasa aneh karena tubuhnya tak lagi bergetar saat Arga menyentuhnya. Apakah itu artinya ia mulai terbiasa dengan keberadaan Arga? Rasa takutnya pada pria itu pun sedikit berkurang karena Arga memperlakukannya dengan sangat baik, mungkin karena itulah Suci mulai menerima Arga.


__ADS_1


Boleh gak sih Mak ganti visual Arga nya sama Evan? Mak suka banget sama pasangan ini.....😁😁🙏🙏


__ADS_2