
“Tapi kamu masih mencintainya mas”. Isaknya
“Siapa yang mengatakan itu? Dia hanya masa laluku sayang, aku bertemu dengaannya hanya ingin menyelesaikan semuanya”.
“Tapi kamu masih menyimpan fotonya mas, aku sudah berusaha membuang rasa cemburu ku, tapi nyatanya tetap saja hatiku sakit melihat kalian. Foto itu bahkan kamu dekap dalam tidur mu”. Suci menarik diri dari dekapan Arga, ia menghapus air matanya. “Aku ikhlas jika kamu mau kembali padanya, aku akan berusaha untuk melepasmu. Aku tidak mau berbahagia di atas kesakitan orang lain, aku juga tidak mau bahagia seorang diri”.
“Apa yang kamu katakana? Jangan bebicara seperti itu aku mohon, aku bahagia bersamamu, aku tidak mau kehilangan mu lagi. Percayalah pada ku, aku sangat mencintaimu, aku tidak mempunyai perasaan apapun lagi pada Clara, dia bahkan akan menikah”.
Suci menatap Arga, mencari kebenaran lewat sorot mata tajam suaminya. Dan yang ia temukan memang sebuah kejujuran tanpa tersirat keraguan dan kebohongan sedikitpun. “Menikah?” Tanya Suci
Arga mengangguk, ia mengambil sesuatu dari saku dalam jasnya. “Dia mengundang kita ke pernikahannya”. Arga memberikan kartu undangan berwarna gold itu pada Suci, dan Suci menerimanya lalu membukanya. Kartu itu di berikan Clara saat Arga hendak pergi tadi.
__ADS_1
“Jadi dia memang mau menikah?” Ulangnya
“Iya sayang, dia mengharapkan kehadiran kamu di sana”. Arga kembali mendekap Suci, membelai puncak kepalanya dan memberikan kecupan berkali-kali di sana. “Jangan ragukan aku sayang, jangan ragukan cintaku. Aku sangat mencintai kamu, kamu tahu itu”.
Suci mengangguk, meski hatinya masih sangat ragu apakah Arga benar mencintainya atau hanya sekedar kasihan saja. “Maafkan aku mas, aku mencurigaimu..”
“Tak apa, aku senang kamu cemburu, itu artinya kamu mencintaiku”.
Arga tersenyum, sungguh ia sangat mencintai Suci, ia tak bermaksud menyakiti Suci dengan pertemuannya dengan Clara. Itu memang salah, dan Arga tidak akan mengulanginya lagi dan melakukan kesalahan yang akan membuat Suci meragukannya lagi.
***
__ADS_1
Setelah saling mengungkapkan penjelasan, Arga dan Suci kembali membaik.Hubungan mereka semakin harmonis, dan Arga pun berjanji pada Suci tak akan menyembunyikan apapun lagi padanya, begitu pula dengan Suci, apapun yang terjadi mereka akan saling jujur dan mengatakan semuanya. Walaupun mereka tahu betul, kejujuran tak selamanya berbuah manis, kejujuran terkadang cukup pahit untuk mereka terima dan mereka telan.
Clara pun sudah menghubungi Suci secara langsung dan meminta maaf jika kejadian tempo hari membuat Suci meragukan Arga. Dokter cantik itu bahkan mengundang Suci ke pernikahannya secara langsung yang akan di laksanakan sekitar dua pekan lagi. Tentu saja Suci sangat senang, meski awalnya ia sangat tidak enak pada Clara karena ia sudah berprasangka buruk pada suaminya dan Clara, tapi Clara sangat mengerti, apalagi Suci tengah hamil, hormon kehamilan membuat Suci lebih sensitif dari biasanya.
Arga kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk Suci, memusatkan perhatiannya pada perempuan itu. Ia tak mau lagi melakukan kesalahan yang sama dengan mengabaikan Suci dan membuat perempuan itu bersedih. Apapun yang Suci inginkan akan Arga penuhi, dia juga menjagi suami siaga yang siap melakukan penjagaan ekstra dan melakukan apapun demi membuat Suci bahagia dan merasa nyaman.
Seperti saat ini, Arga berusaha menahan kesalnya pada Suci saat perempuan itu mengerjainya, itu menurut Arga, padahal menurut Suci ia tak mengerjai pria itu, menurut Suci keingiannya itu normal-normal saja.
"Jangan minta hal itu dong sayang, yang lain saja gimana? Aku akan memberikan apapun yang kamu mau selain itu, aku bisa mati karena cemburu". Rutuk Arga.
"Apa susahnya sih mas? Kamu hanya tinggal menghubungi asisten mu itu, katakan padanya aku sangat merindukan wangi parfumnya itu..."
__ADS_1
"Ya tuhan.. cobaan apalagi ini..."