
Di dalam mobil yang di kendarai Vino, Suci dan Arga tampak saling diam. Vino jadi merasa penasaran, ada apalagi dengan tuan dan nyonya-nya ini? Tapi bertanya pun bukan solusi yang baik menurutnya.
Untuk mengusir bosan Vino menyalakan musik, setidaknya, di dalam mobil itu tidak akan terasa sepi lagi. Rasanya terlalu mencekam jika tuan dan nyonya-nya itu tengah perang dingin.
Arga bukannya marah, tapi pria itu masih merasa syok dengan kepintaran istrinya, ah entahlah, entah kepintaran atau kebodohan, beda-beda tipis menurut Arga. Dan dialah yang lebih bodoh, percaya begitu saja dengan ucapan wanita hamil itu.
Sedangkan Suci, ia memang malas berbicara. Bukan karena marah atau merasa bersalah pada suaminya, tapi karena memang malas saja.
“Suuusiiiis, houooowo suusiis. Suami takut istri..”
Sebuah lagu yang di nyanyikan salah satu komedian ternama itu menjadi pemecah keheningan di dalam mobil. Sayangnya lagu itu justru membuat Arga tersindir dan kesal sendiri, ia menendang jok bagian belakang di depannya. Dan Vino yang duduk di jok itu terlonjak kaget, hampir saja dia menginjak rem mendadak, tapi untunya ia masih waras dan bisa menguasai rasa kagetnya itu.
“Ada yang anda perlukan bos?” Vino memelankan musiknya dan menatap kaca spion dalam untuk menatap Arga.
“Matikan musiknya, kamu nih bikin kesel aja”. Omelnya.
__ADS_1
“Baik bos..” Vino mematikan musiknya, ia tak mengerti dengan kekesalan bosnya, matanya menangkap Suci dari kaca spion dalam yang justru tertawa jahil. “Ada apa dengan mereka?” Batinnya
Suasana di dalam mobil kembali hening sampai mereka tiba di salah satu hotel bintang lima tempat di adakannya resepsi pernikahan Clara dan suaminya.
Arga turun dari mobil terlebih dahulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk Suci dan menggandeng tangan lembut istrinya dengan hati-hati. Arga menautkan tangan Suci di lengannya, keduanya saling menatap dengan bibir mengukir senyum manis.
Dan lagi-lagi pemandangan itu membuat Vino bingung, setelah saling diam di dalam mobil tadi, kini kedua bosnya itu saling tersenyum manis. Hal itulah yang membuat Vino enggan berurusan dengan perempuan, apalagi sampai berhubungan lalu menikah, baginya hal itu hanya akan membuatnya terlihat aneh seperti tuan bosnya itu.
Ballroom hotel bintang lima yang sangat luas itu di sulap menjadi bak istana. Indah bertabur bunga dan lampu-lampu hias yang menambah kesan mewah pada tatanan ruangan itu. Tidak ketinggalan juga pelaminan yang di buat megah dengan singgasana yang menawan berhias bunga-bunga yang di dominasi dengan warna putih dan peach.
Clara dan suaminya tampak tersenyum lebar menyambut uluran tangan para tamu yang menyalaminya dan mengucapkan selamat serta mendoakan pernikahan mereka.
“Kamu capek? Kalau kamu capek kita gak usah ikut antri saja. Nanti kita bisa bicara secara langsung pada Clara dan suaminya untuk mengucapkan selamat.” Bisik Arga
Suci tersenyum pada suaminya, dari sorot matanya yang berbinar tak menunjukkan tanda-tanda lelah sedikitpu, “Gak apa mas, aku senang kok. Aku suka sama dekorasinya, sangat indah”.
__ADS_1
Arga menatap Suci yang terlihat menatap sekeliling ruangan megah itu dengan sorot mata kagum, dan ia jadi merasa bersalah pada Suci, ia sama sekali tak memberikan pernikahan yang layak untuk Suci, tak meninggalkan cerita atau kenangan indah di hari pernikahan mereka dulu, ia justru meninggalkan rasa takut dan trauma pada perempuan yang sekarang sangat di cintainya itu.
Bahkan tak ada resepsi dalam pernikahan mereka, Arga pernah menawarkan hal itu sekali, tapi Suci menolaknya. Dan setelah itu, Arga tak pernah menanyakan masalah resepsi lagi pada Suci. Tanpa Arga tahu, setiap perempuan pasti menginginkan hari istimewa itu dalam hidupnya, hari dimana wanita menjadi ratu sehari yang di istimewakan dan di hargai, sekali seumur hidup dan meninggalkan kenangan manis untuk kelak dapat di cetitakan pada anak anka mereka.
Tapi Suci pun menyadari, ia tak mau meminta hal itu pada Arga, baginya itu terlalu berlebihan mengingat awal pernikahan mereka karena sebuah kesalahan meski akhirnya mereka saling mencintai.
"Kamu mau kita mengadakan resepsi seperti ini? Aku akan dengan sennag hati mengabulkannya untukmu, apapun yang membuat kamu bahagia adalah tujuan utama aku sekarang, kamu prioritas utama ku".
"Tidak mas, itu tidak perlu. Kita sudah bahagia sekarang, itu yang lebih penting".
"Tapi aku tidak memberikan pernikahan yang layak padamu". Lirih Arga
"Mas..." Suci tersenyum lembut seraya mengusap lengan suaminya. "Aku sangat bahagia menjadi istrimu, itu sudah lebih dari cukup. Dengan kamu mencintaiku saja sudah sangat membuatku bahagia mas, aku tidak ingin apapun lagi".
"Terima kasih sayang, kamu segalanya untuk ku. Aku sangat beruntung memiliki mu".
__ADS_1
Mereka saling menatap dengan senyuman mengembang di bibir masing masing. Membuat seseorang di belakang mereka berdehem karena mereka membuat kemacetan antrian di belakang. Mereka bahkan tak menyadari jika Vino sudah berada di atas pelaminan dan menyalami kedua mempelai.
Serasa dunia milik sendiri, mereka lupa jika mereka tengah berada di resepsi pernikahan Clara.