
Satu bulan berlalu begitu saja dari sejak penyatuan raga mereka. Suci pun sudah berpindah kamar bersama Arga, kegiatan suami istri di malam hari pun sudah rutin terlaksana demi sebuah misi mendapatkan momongan dan memberikan cucu bagi ke dua orang tua mereka.
Suci sudah resmi menjadi seorang mahasiswi kedokteran, Arga benar-benar menepati janjinya untuk mendaftarkan Suci ke salah satu Universitas ternama di ibu kota, dan berkat kecerdasan Suci, ia masuk seleksi di fakultas kedokteran.
Nyonya Tara dan tuan Tara memutuskan untuk menetap di New York, mengurus perusahaan tuan Tara yang berkembang di sana. Mereka kini bisa tenang meninggalkan Arga bersama perempuan yang tepat.
Hari-hari Suci dan Arga berjalan sangat bahagia, meski sampai sekarang kata cinta tak pernah terucap dari bibir keduanya, namun keduanya bertekad untuk terus bersama.
Siang ini Suci tengah mondar mandir di kamarnya, tak ada jadwal kuliah membuatnya bermalas-malasan hanya berdiam diri saja di ruangan nyaman itu, ruangan yang merupakan syurga bagi Arga dan Suci. Tubuhnya terasa lelah bahkan hanya untuk turun ke bawah sekedar mengurus taman bunga yang selalu ia lakukan setiap harinya. Raut cantiknya terlihat cemas menunggu seseorang yang ia suruh membeli sesuatu di apotek yang tak jauh dari komplek rumahnya.
Beberapa saat berlalu, suara ketukan pintu terdengar beberapa kali dari luar sana. Dengan langkah tergesa, Suci membuka pintunya, ia mengembangkan senyumnya saat yang di tunggunya telah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Gimana bi? Ada??" Tanya Suci
"Ada nyonya, ini". Bi Inem mengacungkan kantong plastik berwarna putih yang di bawanya.
Suci meraihnya dengan bahagia, ia sangat berharap hasilnya akan menggembirakan, pasalnya, sudah dua pekan ini ia terlambat datang bulan, ia harap bisa memberikan kejutan pada suaminya saat pria itu pulang nanti. "Terima kasih Bi".
"Semoga hasilnya positif ya nyonya".
Bi Inem mengangguk, kemudian undur diri untuk kembali melakukan tugasnya.
Suci membawa empat alat test itu ke kamar mandi. Ia sengaja membeli dengan merk yang berbeda, agar hasilnya lebih meyakinkan.
__ADS_1
Harap-harap cemas Suci menunggu alat itu bekerja, ia duduk di pinggiran bathup, menatap wadah kecil berisikan empat alat test kehamilan yang baru saja ia celupkan.
Air matanya menetes saat hasilnya nampak jelas dua garis berwarna merah di bagian tengah ke empat alat test itu. Penantiannya kini terbayar, Arga pasti akan sangat bahagia ketika mengetahui kabar ini. Ia akan memberikan kejutan untuk suaminya saat ia pulang kerja nanti.
Suci tersenyum bahagia di sela isak tangisnya, ia sudah dapat membayangkan wajah bahagia suaminya. Karena pria itu sangat berharap jika di rahim Suci segera tumbuh Arga junior.
"Kita akan kasih papa kejutan nak, terima kasih sudah mau hadir di sini". Suci mengusap perutnya yang masih datar, "Kamu akan menjadi penguat untuk mama dan papa".
❤️❤️❤️❤️
Sementara itu, di kantor perusahaan Argantara group, Arga tengah menatap sesuatu di layar laptopnya, ia terlihat menahan amarah, matanya memerah dan rahangnya mengeras. Terlihat jelas kekecewaan dan kemarahan dari sorot matanya yang tajam. Ia mengambil ponselnya, mentransfer data dari laptop ke ponselnya. Kemudian beranjak untuk pulang, saat seperti ini Vino pun tak berani bertanya pada sang Presdir, ia hanya diam mengikuti langkah Arga
__ADS_1
Gaes, Mak bakalan publish Saga sama Mayra kalau lapak Suci udah rame yah. sekarang Mak mau nabung bab dulu. cuplikannya udah Mak post di FB Mak yahhhh