
Sampai di area pantai, Arga memesan hotel yang terletak tak jauh dari pantai. Ia sengaja memilih hotel terdekat dengan pantai agar istrinya dapat langsung melihat lautan dari kamar mereka nanti.
Di resepsionis, Arga sempat bingung ia akan memesan dua kamar atau satu kamar saja. Ia menatap Suci saat resepsionis itu bertanya.
"Mau pesan berapa kamar?." Tanya Arga, Suci menunduk, ini area asing baginya, bahaya bisa saja ada di mana mana. Ia tak berani berpisah dengan Arga di area yang baru untuknya.
"Terserah kamu saja". Jawab Suci.
Arga yang takut Suci merasa tak nyaman berada satu ruangan dengannya memutuskan untuk memesan dua kamar saja. "Du..."
"Satu kamar aja mbak". Suci memotong ucapan Arga. ia menoleh pada suaminya. "Aku takut sendirian". Lirihnya.
Arga mengulum senyumnya kemudian mengangguk. "Satu kamar katanya mbak, maaf ya mbak, kami pengantin baru, jadi istri saya masih malu malu". Jelas Arga, Arga mengatakan hal itu karena dari tatapan resepsionis itu seolah mencurigainya dan Suci, ia tak mau di sangka pasangan yang belum menikah namun memesan satu kamar.
Suci memukul pelan lengan Arga seraya menunduk. Menyembunyikan rona merah yang pasti muncul di pipinya.
"Wah, pengantin baru yah. Mau ambil kamar paket pengantin baru gak kak? Kami siapkan yang special buat kakak kakak ini".
__ADS_1
Arga dan Suci terperangah, mereka saling menatap kemudian kembali menatap sang resepsionis. "Boleh mbak, ide bagus". Ucap Arga.
Suci menoleh pada Arga, dari tatapannya terlihat jelas jika Suci memprotes keputusan Arga. "Mas, kayanya gak perlu gitu deh, kita ambil kamar biasa aja ya mas?".
Arga yang semakin melambung karena panggilan Suci padanya malah semakin mantap untuk memesan kamar paket pengantin baru.
Suci menghela nafas pasrah, berdebat pun rasanya prcuma di tempat umum seperti ini.
"Baik kak, kami siapkan kamar pengantin baru yah. Selama menunggu, silahkan kakak kakak duduk dulu di sana, kami akan menyediakan minuman segar dan hangat untuk kalian".
Suci dan Arga pergi menuju ke tempat yang resepsionis itu tunjukan. Tepatnya di area samping hotel yang menghadap langsung pada area pantai. Angin pantai dan udara menjelang malam itu mulai terasa dingin.
"Tidak usah mas, aku suka kok. Anginnya segar. Lagi pula kamu pasti kedinginan pakai kaos pendek seperti itu".
Suci mengambil kembali hoodie milik Arga, hendak mengembalikannya tapi pria itu menahannya dengan sebelah tangannya melingkar di bahu Suci. "Kalau gini kita sama sama gak kedinginan kan?"
Suci menunduk malu, ada getaran aneh dalam tubuhnya, tapi bukan getaran takut atau traumanya, melainkan getaran listrik yang terasa menyengat dan membuat jantungnya berdetak kencang.
__ADS_1
Mereka sama sama menatap lautan dalam cahaya remang, deburan ombak terasa indah terdengar, menambah kesan romantis bagi pasangan itu.
"Suka??". Tanya Arga, ia mengeratkan dekapan tangannya pada bahu Suci. Mengusap lengan perempuan itu beberapa kali.
"Suka banget, makasih ya mas. Aku benar benar gak nyangka bisa ke pantai".
Arga mengangguk, pria itu tersenyum lebar menampilkan gigi gingsulnya yang menambah nilai ketampanannya.
"Kalau kamu suka, aku janji kalau aku punya waktu luang, aku akan mengajakmu ke pantai lagi, atau kemana pun tempat yang ingin kamu kunjungi. Suami mu ini banyak uang, tidak masalah jalan jalan kemana pun".
Suci mencebikkan bibirnya seraya memukul dada Arga pelan, "Kenapa jadi sombong?". Ia mendongak, menatap paras tampan suaminya yang ternyata semakin terlihat tampan terlihat dari posisinya.
"Emang aku sombong? Enggak ah, itu mah perasaan kamu aja."
Suci hendak menyanggah, namun kedatangan salah satu pegawai hotel yang mengabarkan jika kamar mereka sudah siap membuat Suci urung berucap.
Pegawai itu mengantarkan Arga dan Suci ke kamar yang telah di siapkan seraya membawa dua koper milik tamunya.
__ADS_1
Sedangkan Arga dan Suci mengekor di belakangnya, Arga menggenggam tangan Suci, mereka melangkah beriringan. "Jangan jauh jauh dari aku nanti ilang". Itulah kalimat modus Arga pada Suci agar Suci tak jauh darinya dan melepaskan genggaman tangannya. Suci yang polos dan banyak takut hanya bisa menurut saja.
Akankah Suci bisa melakukan kewajibannya dan memberikan hak Arga? Tunggu di episode selanjutnya ya gaes, mak lagi kurang Fit, mau ngetik lanjut tapi puyeng banget....mohon dukungannya ya anak2 mak yang baik hati...