
Hamparan air laut yang kebiruan menjadi pemandangan indah menyegarkan mata. Namun bukan hal itu yang membuat seorang pria berparas tampan itu tak berkedip menatap ke arah lautan. Fokusnya hanya pada satu titik, seorang perempuan berwajah syahdu dengan sorot mata teduh tengah memainkan air dengan kakinya. Perempuan itu terlihat bahagia, sesekali ia melambaikan tangannya pada pria itu, senyuman merekah dari bibir ranumnya.
Dia adalah Suci, perempuan yang memakai rok plisket berwarna hitam dengan atasan berwarna mocca itu tengah asik bermain air di tepian pantai, pashmina berwarna mocca menjadi penutup kepalanya, kacamata milik Arga masih bertengger manis di hidungnya yang mancung.
Arga tampak tak berpaling menatap ke arah istrinya, mungkin saat ini ia belum mencintai Suci, tapi rasa tertarik dan suka itu ada. Suci bagaikan magnet yang membuat dunia Arga hanya berfokus padanya, entah apa yang perempuan sederhana itu miliki, hingga Arga selalu tersedot untuk bisa terus memandangnya.
"Mas, kok ngelamun??"
Arga tersentak, ia tak menyadari jika Suci telah berada di hadapannya, ingatannya terusik oleh kejadian semalam, hampir saja mereka akan menjadi pasangan suami istri seutuhnya, namun rasa trauma Suci tiba tiba muncul saat tangan Arga menyentuh area dalamnya tanpa penghalang. Mungkin karena bersentuhan secara langsung membuat Suci kembali takut, entahlah, yang pasti ia akan berusaha membuat perempuan itu sembuh.
"Aku gak ngelamun sayang, aku cuma lagi mikirin kuliah kamu. Abis kita liburan, aku akan mengurus pendaftaran kuliah kamu, kamu bisa mengejar cita cita kamu lagi".
"Mas serius?". Suci terlihat antusias, binar di matanya tampak jelas jika ia sangat bahagia.
"Serius lah, masa aku bohong".
"Terima kasih mas, aku bahagia". Entah sudah ke berapa kalinya Suci mengucapkan kalimat 'aku bahagia' hari ini, Arga benar benar penuh kejutan.
"Tapi ada imbalannya loh". arga mengedipkan sebelah matanya pada Suci.
Suci mencebikkan bibirnya, "kesannya kamu kaya gak ikhlas loh mas".
Atas kalimat itu, Arga tertawa lepas, tawa yang lagi lagi membuat Suci terpaku dengan debaran jantungnya yang kian memacu lebih cepat.
__ADS_1
"Bukan gak ikhlas, tapi cuma minta bonus doang dikit". Kata Arga.
"Mas.."
"Hemmmm".
"Kalau di kantor kenapa sih kamu kaya jutek gituh? Aku aja kalau lihat kamu tuh takut banget. Padahal kamu mesum banget".
Arga kembali tertawa, "Harus jaga image dong sayang. Gak mungkin kan aku senyam senyum gak jelas ke semua orang. Aku di sangka gila dong. Kalau masalah mesum, itu cuma sama kamu doang kok. Mana pernah aku genit-genit sama cewek-cewek di luar sana, centil dong aku".
Suci memicingkan matanya, "Beneran sama aku doang?"
"Beneran, masa gak percaya sama suaminya sendiri".
Suci menyandarkan kepalanya pada bahu Arga, ia melingkarkan tangannya dengan manja pada lengan pria itu. Ia sangat berharap bisa sembuh secepatnya, agar ia bisa menjadi istri yang seutuhnya untuk Arga, ia tak mau kehilangan pria sebaik Arga. Dia mulai egois untuh bisa tetap bersama Arga, entah itu karena cinta atau naluri seorang perempuan yang merasa nyaman dan terlindungi karena Arga memperlakukannya sangat baik.
Kini ia sangat menyesal dulu sempat memupuk kebencian untuk pria itu, sekarang ia justru merasa bersyukur berada di samping Arga. Ia tak bisa membayangkan ketika kejadian buruk itu terjadi padanya dan bukan Arga pelakunya, mungkin ia tak akan sebahagia ini menjadi istri dari seorang Yusuf Argantara.
Seperti sahabatnya Tari, Tari tidak dapat meminta pertanggung jawaban Rudi atas apa yang di alaminya.
"Mas, maafin aku yah, Dulu aku sempat benci banget sama kamu, coba aja dari dulu aku mau nerima kamu, mungkin sekarang aku udah sembuh dan bisa bahagiain kamu. Aku gak bisa bayangimn kalau yang lakuin itu ke aku bukan kamu, mungkin aku udah hancur banget".
Arga menggenggam jemari istrinya, mengusap pelang tangan perempuan itu dengan ibu jarinya. "Wajar kamu benci sama aku, semua perempuan juga akan melakukan hal yang sama jika hidupnya di hancurkan oleh seorang pria brengsek seperti aku. Dan aku bukan hanya menghancurkan hidup kamu, tapi aku juga menghancurkan semua impian kamu dan menempatkan kamu di posisi yang terlihat bersalah dengan hujatan-hujatan dari orang lain. Padahal jelas-jelas aku yang bersalah. Dan Allah membukakan hati kamu untuk menerima aku melalui kejadian-kejadian buruk yang menimpa kamu, itu artinya, Allah ingin memberikan kepercayaan di hati kamu untuk aku. Segala sesuatu itu akan terjadi pada waktu yang tepat dan di jalan yang baik. Bisa saja jika dulu aku paksain nikah sama kamu, kamu bakalan tambah benci dan trauma sama aku, bukan malah sembuh."
__ADS_1
"Kamu benar mas, dan aku beruntung menjadi istri kamu".
"Benarkah? Dulu nolak-nolak, benci banget sama aku. Padahal aku ganteng banget loh, yang ngantri di luaran sana banyak banget mau jadi pacar aku, kamu malah nolak aku mentah-mentah. Aku di usir lagi sama kamu".
Suci mendongak menatap Arga, ia menaham senyumnya. "Maaf mas, aku benar-benar kacau saat itu. Aku akui kamu ganteng, tapi saat itu aku liat kamu malah kaya monster mas, serem banget gak ada ganteng-gantengnya".
"Astaga, jahatnya". Pekik Arga.
Suci tertawa, membuat Arga terpaku dan lagi-lagi dadanya di buat berdesir oleh tawa manis perempuan yang saat ini menjadi istrinya itu.
"Kamu bayangin aja mas, sesuatu yang aku jaga banget dan satu-satunya hal yang berharga dalam diri aku kamu ambil paksa, gimana gak kaya monster tuh kamu. Aku boro-boro kaya gitu, pacaran aja gak pernah, deket sama cowok aja gak pernah, tau-tau kamu gitu sama aku".
"Maaf sayang, aku di luar kendali. Tapi aku bersyukur sih, karena malam itu yang aku temui itu kamu, coba kalau wanita-wanita nakal, saat ini aku gak mungkin bisa seberuntung ini jadi suami kamu. Kamu tuh berharga, di saat kebanyakan perempuan tidak mempermasalahkan hal itu, kamu justru berjuang menjaganya setengah mati. Dan aku juga beruntung jadi yang pertama buat kamu".
Suci menunduk malu, membahas hal sensitif seperti itu membuat pipinya merona.
Awal yang baru untuk mereka, mereka mulai menerima keadaan dan mulai saling bersyukur dengan memiliki satu sama lain.
Arga mengecup jemari Suci yang masih ia genggam, membawa jemari lentik itu untuk mengusap pipinya. "Jadilah istri aku selamanya, tetap di samping aku walau suatu saat nanti aku khilap dan menyakiti kamu, apapun itu, tetaplah di samping aku".
Suci mengangguk, membuat Arga tersenyum dan menarik perempuan itu ke dalam dekapannya, ia tak perduli dengan orang-orang di sekitarnya yang menatapnya iri. "terima kasih sudah mau jadi istri aku, dan mau menerima pria brengsek seperti aku".
"Kamu berharga buat aku mas".
__ADS_1
Ungkapan itu membuat Arga semakin mengeratkan dekapannya, rasanya bahagia. Ia juga tak akan membatasi diri untuk bisa jatuh cinta pada Suci, yang mungkin saja saat ini pun sudah namun ia tak menyadarinya.