PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
BELUM BERAKHIR


__ADS_3

Malam itu terasa berbeda bagi Suci, setelah Arga pergi entah kemana, Suci menguatkan diri untuk mencari keberadaan pria itu. Mulai dari ruang kerjanya, sampai ia susul ke bawah. Dan sayangnya Arga tak ada dimana pun. Suci tidak akan menyerah, ia tak terima dengan semua perkataan mengerikan yang terlontar dari mulut suaminya, ia melihat ada cinta di mata tajam pria itu, dari perlakuannya, dari kata-kata manisnya, dari tatapannya, terlihat jelas jika Arga mempunyai rasa yang sama dengannya. Ya, Suci akui ia sangat mencintai Arga.


Suci mencoba bertanya pada salah satu pelayan yang melintas di sana. "Bi, apa bibi melihat suami saya??"


Sang pelayan menggeleng, ia memang tak melihat keberadaan Arga.


"Terima kasih Bi". Suci beranjak ke ruang makan, ia menatap nanar makanan kesukaan Arga yang sengaja ia sajikan untuk pria itu, tapi rencana tinggal rencana, kenyataannya tak sesuai dengan ekspektasinya, bahkan ia belum sempat memberi tahu kabar bahagia itu, dan sekarang Suci mulai ragu untuk memberi tahu kehamilannya pada Arga.


Setetes air mata kembali merembes keluar dari ujung netranya, rasanya bagai mimpi, di saat kebahagiaan itu hadir, satu kenyataan pahit menyertainya. Suci memutuskan untuk kembali ke kamarnya, menunggu kedatangan Arga dan berharap kemarahan pria itu mereda.


Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tapi Arga tak kunjung pulang, Suci resah, ia juga gelisah, ia tak tahu keberadaan suaminya, pria itu pergi dalam kemarahan, dan hal itu semakin membuat Suci cemas.


Beberapa kali Suci membuka layar ponselnya, ingin menghubungi Arga namun selalu ia urungkan. Sejenak mata sembab itu terpejam dengan posisi duduk bersandar pada kepala ranjang, ia abaikan perutnya yang lapar, perasaannya tak menentu, ia tak akan berselera makan jika suaminya belum hadir di hadapannya dengan keadaan baik-baik saja.


"Sabar ya nak, kita tunggu papa pulang, baru setelah itu kita makan". Gumamnya lirih, ia mengusap perut datarnya, air mata itu kembali menetes saat kalimat Arga kembali terngiang di telinganya. "Mama bukan wanita murahan nak". Lirihnya


Suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya, Suci menghapus air matanya, ia menegakkan duduknya dan mencoba tersenyum saat pandangan matanya bertemu dengan mata tajam suaminya.


"Mas, kamu pasti belum makan kan?" Suci beranjak dari ranjang, ia mendekati Arga yang justru berbaring di atas sofa. Suci menguatkan dirinya, ia mencoba menyentuh bahu Arga yang berbaring miring membelakanginya. "Mas, kita makan yah".


Bukan jawaban yang Suci dapatkan, tapi perlakuan kasar dari pria itu, Arga menepis kasar tangan Suci. "Jangan menyentuhku!!". Ucapnya tajam.


Suci mundur, ia menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan getaran akibat cairan bening di pelupuk matanya kembali berdesakan meminta keluar. "Maaf". Lirihnya, ia menghapus air matanya yang keluar berbondong-bondong tanpa persetujuannya, "apa kamu sedang menyesali pernikahan ini mas??"


Tak ada jawaban dari Arga, Suci menunduk, bahunya naik turun seiring dengan Isak tangisannya. "Kalau kamu tidak mau lagi berbagi ruangan dan udara yang sama dengan wanita murahan ini, baiklah, aku akan mengemasi barang ku, aku akan tidur di kamar lain mas. Maaf kalau aku mengganggumu".


Suci beranjak ke ruang ganti, mengambil kopernya dan memasukkan semua barang-barangnya. Hanya beberapa pakaian dan perlengkapan kuliahnya.


Sebelum Suci benar-benar keluar dari ruangan itu, ia kembali menghampiri Arga, berdiri di dekat meja yang sofa yang Arga tiduri. "Aku kembalikan semua pemberian mu mas, aku akan membuktikan jika aku bukan wanita murahan yang hanya menginginkan uang, aku tidak berniat sedikit pun memakai harta mu untuk keperluan ku mas."

__ADS_1


Suci meletakan satu kartu ATM, kartu kredit dan uang cash yang beberapa waktu yang lalu Arga berikan untuk bekal kuliahnya, dan uang itu sama sekali belum terpakai olehnya. "Assalamualaikum mas".


Masih tak ada jawaban dari Arga, Suci menghela nafas panjang. Dadanya sangat sesak, selain itu tubuhnya bergetar menahan lapar, ia mengusap perut datarnya. "Maafkan mama nak, untuk malam ini kita gak bisa makan, mama janji besok kita cari makan yah nak".


Suci memutuskan untuk pindah ke kamarnya dulu, ia buka pintunya kemudian ia tutup kembali. Tuas koper yang ia pegang sebelumnya terlepas begitu saja bersamaan dengan air mata yang kembali menetes, ia duduk di lantai, bersandar pada ranjangnya dengan melipat ke dua lututnya. Suci menenggelamkan wajahnya di antara lututnya, kedua telapak tangannya ia jadikan alas keningnya. "Ya Allah, rasanya sakit. Lindungi kami dari hal-hal buruk ya Allah."


Sementara itu, Arga bergeming, ada rasa bersalah menyusup dalam hatinya. Tapi ia marah, ia kecewa saat mengetahui jika Suci menjebaknya, semua bukti mengarah padanya. Ia lupakan masa-masa indah yang ia lalui bersama Suci, ia lupakan betapa terlukanya Suci saat kehilangan kehormatannya, perempuan itu bahkan trauma berat. Tapi rasa kecewanya menutup itu semua, ia tak berfikir jernih, ia seperti menyesali tindakannya menikahi Suci.


❤️❤️❤️


Paginya, seperti biasa Suci menyiapkan sarapan untuk Arga. Kemudian menyiapkan segala keperluan pria itu untuk bekerja, meski rasanya berat, tapi Suci tak melupakan kewajibannya mengurus sang suami.


Saat tengah menyiapkan pakaian Arga, pria itu keluar dari kamar mandi. Ia menatap dingin pada wanita yang tengah berdiri terpaku dengan memeluk pakaian ganti untuknya.


"Maaf, aku masuk tanpa ijin, aku hanya ingin menyiapkan keperluan mu. Sarapan mu juga sudah siap."


"Tidak usah lagi mencampuri urusan ku, mulai saya ini, jangan memasuki kamar ini dan menyentuh barang-barang ku tanpa seijin ku. Aku bisa melakukannya sendiri".


Suci menuruni anak tangga, tubuhnya sedikit lemas mengingat ia tak makan sejak kemarin siang, ia juga belum sarapan. ia memutuskan untuk pergi ke meja makan, ia sudah tak kuat lagi, tubuhnya bahkan gemetar menahan lapar dan lelah.


Suci memberanikan diri untuk makan lebih dulu, ia tak menunggu Arga seperti biasanya, yang ia fikirkan hanya janinnya. Janin itu sangat membutuhkan nutrisi untuk pertumbuhannya, ia tak perduli jika Arga akan marah padanya.


Beberapa saat kemudian, derap langkah seseorang yang sangat di kenalinya terdengar mendekat, Arga muncul dari balik pintu pembatas ruang makan dan ruang tamu. Suci tersenyum kecil saat ternyata Arga masih mau memakai pakaian pilihannya, setidaknya, itu hal terakhir yang berguna yang ia lakukan untuk suaminya.


"Maaf mas, aku makan lebih dulu. Aku.."


"Bukankah kamu akan membuktikan jika kamu bukan wanita murahan yang tak membutuhkan apapun dari ku? Lalu kenapa kamu masih menyantap makanan dari uang ku??"


Suci menunduk, air matanya kembali menetes. Ia telan makanan yang ia kunyah dengan susah payah. "Aku lapar mas". Lirihnya

__ADS_1


Arga berdecih, kemudian beranjak dari sana tanpa menyentuh sarapannya.


Suci meletakan sendok dan garpu yang ia pegang, ia hapus air matanya dengan kasar. Sakit, rasanya sangat sakit, bahkan makan saja ia tak di ijinkan.


Bi Imah menghampiri Suci, ia mengusap bahu Suci yang naik turun. "Nyonya tidak apa-apa??". Ucapnya lembut


Suci menggelengkan kepalanya. "Tak apa Bi, aku baik-baik saja."


"Nyonya harus banyak makan, kasian bayi nyonya".


Suci memaksakan senyumnya, masih ada orang-orang di dekatnya yang menguatkannya. Termasuk bi Imah, Suci memang memberi tahu kabar kehamilannya pada wanita tua itu saat ia memasak untuk makan malam kemarin, Suci terlihat bahagia dan antusias saat itu, namun sekarang keadaan berbalik drastis.


"Apa tuan muda tahu kehamilan nyonya?".


Suci menggeleng, ia kembali menghapus air matanya yang seolah tak mau berhenti mengalir. "Aku ragu untuk memberi tahunya bi, keadaan kami sedang tidak baik, dan dia marah padaku bi".


"Sebaiknya nyonya beri tahu kabar bahagia ini pada tuan muda".


"Tidak bi, aku takut dia menolak kehadirannya, aku tidak mau bayi ini mendengar penolakan dari papanya sendiri."


"Sabar nyonya, bibi yakin semua akan baik-baik saja".


Suci mengangguk, ia mengusap perutnya yang masih datar, seolah mengatakan jika semua akan baik-baik saja.


**Gaess follow akun Mak yah....


NT/MT Savana Alifa


IG @savanagunawan

__ADS_1


FB Savana Alifa**


__ADS_2