
Arga mengejar Suci, mengumpulkan rambut panjang Suci dengan satu tangan sementara tangannya yang lain memijat tengkuk Suci agar rasa mualnya sedikit berkurang.
Namun sayangnya, hal itu sama sekali tidak membantu, Suci semakin merasa tak nyaman, keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya. Suci memejamkan matanya saat ia merasakan rasa pusing di kepalanya, tubuhnya melemas dan ia pun tak sadarkan diri.
Jika saja Arga tak sigap menahan tubuh istrinya, mungkin Suci sudah ambruk menyentuh lantai marmer mewah milik Arga.
Arga panik bukan main, ia menggendong tubuh lemas Suci dan membaringkannya di atas ranjang, tangannya dengan lembut mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya, mengusap puncak kepala Suci dengan penuh kasih sayang. “Kamu kenapa sih sayang. Jangan buat aku cemas”.
Arga menghubungi Vino, memerintahkan agar asistennya itu menghubungi dokter pribadinya, bodohnya Arga, kenapa tidak dirinya langsung yang menghubungi dokter? Kenapa menghabiskan waktu dengan menghubungi Vino terlebih dahulu, rasa cemas membuatnya bertindak demikian.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, dokter dan Vino datang dan langsung di antar langsung ke kamar Arga. Suci masih tampak memejamkan matanya tak sadarkan diri, dan hal itu semakin membuat Arga cemas.
“Minggirlah, biar aku periksa istrimu dulu”. Ujar Wisnu, dokter pribadi Arga, ada tiga dokter yang di tugaskan mama dan papa Tara di keluarganya, dokter-dokter pilihan dan salah satunya Wisnu, sahabat Arga sendiri.
Arga bergeming, ia masih betah duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan dingin Suci. Wisnu berdecak kesal, ia kembali berucap. “Ga, minggirlah, aku mau memeriksa istrimu dulu”.
__ADS_1
Arga berdecak kesal, jika bukan melihat wajah istrinya yang semakin memucat, rasanya Arga tidak mau menjauh dari Suci. Dan membiarkan Suci di sentuh oleh Wisnu. “Iya iya sabar”. Gerutunya
Wisnu mulai memeriksa Suci dengan seksama, dari mulai tensi darah, denyut nadi dan hal penting lainnya. Wisnu menyunggingkan senyumnya, dan hal itu membuat Arga kesal.
“Hei, kenapa kau tersenyum? Suci lagi gak sadar kau malah senyum-senyum??” Ucap Arga sengit.
Vino mengangguk menyetujui ucapan Arga, ia ikut kesal dengan tingkah Wisnu.
“Sabar Ga, sewot aja kamu.”
“Gak papa, dia…”
“Gak papa gimana? Jelas-jelas dia pingsan, dan kau mengatakan Suci tidak apa-apa?? Dan dia muntah-muntah sebelum pingsan.”
“Astaga Arga, diam dulu bisa gak sih?? Aku belum selesai ngomong”. Semprot Wisnu.
__ADS_1
Arga berdecak kesal, tapi ia memilih mengangguk dan mendengar penjelasan Wisnu tentang keadaan Suci.
“Dia hanya kelelahan, dan ini hal wajar di awal kehamilannya. Jangan membuatnya kesal atau sedih, apalagi stress.” Wisnu menjelaskan panjang lebar, tapi semua itu terdengar seperti ocehan tak jelas di telinga Arga, yang jelas terdengar hanya kata KEHAMILAN saja di telinganya.
Arga mengerjap-ngerjapkan matanya saat Vino berhambur memeluk Arga dan menepuk-nepuk pundak Arga, untuk sesaat Arga tak sadar dengan perlakuan asistennya itu. Ia hanya bisa menggerakkan bibirnya sedikit demi sedikit membentuk sebuah senyuman sedikit lebar, bertambah lebar dan sangat lebar hingga gigi gingsulnya terlihat jelas.
“Selamat bro, Nyonya bos hamil”. Ucap Vino tersenyum sumringah.
Kemudian Arga tersadar, ia menatap tajam Vino bergantian menatap pada tangan Vino yang masih bertengger indah di pundaknya. Vino meringis dan menarik tangannya dengan pelan, “Maaf bro, saya lupa”.
“Bro??” Ulang Arga
“Bo..bos maksud saya”.
Jika saja Arga tidak sedang bahagia, mungkin saat ini Arga sudah menendang tulang kering pria itu. Tatapan Arga beralih pada Wisnu yang menyeringai lebar seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Jadi istriku hamil??”