
"Kamu yakin mau kerja Ci? nanti kamu kecapean loh". Kalimat yang entah ke berapa kalianya Tari lontarkan pada Suci atas keputusan Suci yang ingin ikut bekerja dengan Tari sebagai pramuniaga di salah satu cafe yang terletak di sebrang kampus Suci".
"yakinlah Tar, cape mah udah biasa buat aku, aku juga butuh kesibukan lain Tar".
"Kamu cuma butuh kesibukan untuk melupakan suamimu kan Ci? Kamu tidak membutuhkan uangnya?" Goda Tari
Suci terkekeh, memang benar apa yang di katakan Tari, ia hanya butuh kesibukan untuk menekan ingatannya tentang Arga, untuk bisa melupakan pria itu yang sebenarnya tak bisa ia lakukan, mengenai uang, hidupnya sudah terjamin oleh mertuanya.
"Kamu benar Tar, karena saat terberat mengingat seseorang itu saat dimana kita berada dalam keadaan kesepian, dan aku gak mau aku berada dalam situasi itu, sepi."
Tari merangkul bahu sahabatnya, mengajaknya ke parkiran motor untuk pulang bersama. Karena secara kebetulan, jam pulang kerja Tari bertepatan dengan jam kuliah Suci yang juga berakhir, mereka saling bertukar kabar dan akhirnya Tari menjemput Suci ke kampusnya, yang sebenarnya hanya tinggal menyebrang saja.
"Besok kamu masuk kuliah jam berapa?" Tanya Tari, tangannya terampil mengailkan helm yang baru saja ia kenakan.
"Besok aku gak ada jadwal kuliah Tar".
"Yaudah, besok kamu ikut aku aja ke cafe, kita ngobrol sama managernya, orangnya baik banget kok, kali aja dia mau terima karyawan part time".
__ADS_1
Suci bertepuk tangan kecil, binar kebahagiaan terpancar jelas di mata bulatnya. "Asiiikk, makasih ya Tar".
"Iya iya, yuk naik. Entar keburu maghrib".
Suci mengangguk, ia melipat sedikit gamisnya dan naik ke motor Tari.
***
Keesokan paginya, pukul 07.00 pagi Tari sudah berada di rumah Suci. Sesuai rencana, pagi ini Suci dan Tari akan menemui manager tempat Tari bekerja untuk menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan untuk Suci yang juga seorang mahasiswa.
Tari mengajak Suci memasuki cafe memaluli pintu belakang yang di khususkan untuk para karyawan. Berbeda dengan di area depan yang masih tampak sepi, tapi di area belakang sudah tampak ramai dengan para karyawan yang tengah berbenah dan bersiap untuk membuka cafe.
Ada yang tengah menyapu, mengepel, mengelap meja-meja tamu, dan mempersiapkan menu untuk hari ini. Semua tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Assalamualalikum". Tari menyapa teman-temannya.
"Waalaikumsalam". Jawab mereka serempak. Ada sekitar enam orang di area dapur, dan enam orang lagi di depan, tengah mempersiapkan meja dan kursi juga mengelap dinding kaca agar selalu terlihat bersih dan nyaman di pandang.
__ADS_1
"Mbak kiki, kak Nata udah dateng belum?" Tanya Tari pada salah satu rekan kerjanya.
"Udah Tar, baru aja dateng. Kayanya di ruangannya deh".
"Yaudah, aku ke ruangannya sebentar ya mbak, nganterin temen aku".
Perempuan bernama Kiki itu mengangguk, usianya sekitar lima tahun lebih tua darinya.
Suci mengikuti langkah Tari menuju ruangan Nata yang suci perkirakan adalah manager di cafe itu. Suci mengedarkan pandangannya, ia melewati ruangan ganti tempat beristirahat karyawan, mushola kecil juga toilet untuk para tamu. Sampai mereka keluar dari area belakang dan menaiki tangga yang tak jauh dari toilet.
Di lantai dua itu hanya ada satu ruangan, bertuliskan manager di atas pintunya dan kalimat "SELAIN KARYAWAN DILARANG MASUK".
Tari mengetuk pintu bercat cokelat klasik di depannya, tak lama terdengar sahutan dari dalam sana yang mempersilahkan mereka masuk.
"Selamat pagi kak Nata".
Kursi putar itu berbalik, untuk sesaat Suci tersentak kaget, "Kamu???"
__ADS_1