PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
PUTUS ASA


__ADS_3

Setelah dua hari beristirahat, dengan terpaksa Suci harus kembali bekerja seperti biasanya. Kedatangan Tari kemarin sedikit membuatnya lebih baik dan lebih kuat, Suci pun merasa sedikit lega membagi beban yang selama ini ia tanggung kepada sahabatnya.


Pagi itu, Suci datang lebih pagi dari biasanya. Tak ada lagi kerumunan wartawan seperti saat terakhir ia bekerja tiga hari yang lalu. Arga pasti sudah memberesknnya.


Suci bertekad untuk kembali bangkit, melanjutkan hidup dan berusaha sedikit demi sedikit melupakan kejadian buruk yang menimpanya. Masih ada orang yang menyayanginya, masih ada orang yang mengkhawatirkannya, ia tak mau menambah kekecewaan mereka dengan terus terpuruk menyiksa diri sendiri.


Sampai diruang ganti, Suci bergegas mengambil baju seragamnya di dalam loker, kemudian berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Suasana masih tampak sepi, hanya segelintir orang yang sudah terlihat mondar-mandir dengan pekerjaannya.


"Suci? Kamu udah sehat??".


Suci menoleh, Rudi kepala bagian OB dan OG itu tampak berjalan menghampiri Suci.


"Alhamdulillah sehat pak". Jawab Suci, ia memundurkan langkahnya saat pria itu berjalan semakin mendekat.

__ADS_1


"Syukur deh kalo gitu, pak Vino kemarin yang telpon langsung ke saya meminta izin".


Suci diam tak menanggapi, ia semakin risih dengan tatapan Rudi padanya, tatapan itu seolah merendahkan. "Maaf pak, saya permisi mau berganti pakaian". Suci membalikan badannya, tanpa berniat menunggu jawaban Rudi ia bergegas melangkahkan kakinya. Namun ucapan Rudi membuat Suci berhenti melangkah.


"Kenapa harus di sana? Ganti baju saja di sini?". Kata Rudi, ia tersenyum meremehkan.


Deg


Suci kembali menoleh, "Apa maksud anda? Jangan kurang ajar pak, anda tidak sopan pada saya". Tubuhnya bergetar menahan amarah, matanya tampak berkaca-kaca. Apakah Rudi mengetahui sesuatu?


Jeder


Bak tersambar petir, Suci diam mematung dengan air mata sudah membanjir di kedua pipinya. Pakaian yang sedari tadi ia dekap kini terjatuh kelantai bersamaan dengan tarikan keras di lengannya.

__ADS_1


"Ayok ikut saya". Rudi menarik tangan Suci, membawanya ke salah satu bilik kamar mandi. Suasana yang masih sepi semakin melancarkan aksi tak bermoral pria itu.


Suci meronta, menangis dan menjerit meminta tolong. "Toloong, jangan lakukan ini pak. Lepaskan saya!!". Jerit Suci.


"Diam dan turuti saja apa mau saya jika semuanya tak ingin tersebar. Saya punya Vidio waktu pak Arga menyeretmu ke ruanganya". Ancam Rudi.


Suci menggeleng-gelengkan kepalanya, pergelangan tanganya terasa sakit karena tarikan Rudi yang sangat kencang. Inikah akhir hidupnya? Apakah dia harus kembali hancur dan tak mempercayai takdirnya sendiri? Kenapa hidup begitu kejam padanya? Di saat ia bertekad ingin bangkit dan melupakan kejadian buruknya, seseorang hadir dan kembali ingin menghancurkannya.


Rudi menarik jilbab instan panjang yang Suci pakai, melemparkannya ke lantai kemudian menutup pintu kamar mandi saat Suci berhasil ia tarik paksa.


"Jangan lakukan ini saya mohon". Suci menepis tangan Rudi yang mengarah ke dadanya, menghindari pria itu saat wajahnya semakin dekat untuk mencium Suci. "Tolooong".


Suci meronta saat sebelah tangan Rudi membekap mulutnya, dan sebelah tanganya yang lain menarik pinggangnya.

__ADS_1


"Mmmmmpphh". Air mata mengalir deras saat tangan Rudi meremas bokon*nya.


Terhina, tersakiti, hancur, kacau, takut, jijik, semua bercampur menjadi satu. Menjadikan Suci mematung dengan tatapan kosong dan mata memerah mengucurkan air mata kepedihan.


__ADS_2