PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
CEMAS


__ADS_3

Arga menggandeng tangan Suci saat ia turun dari mobil dan menginjakan kakinya di pelataran gedung kantornya. Ia menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu penjaga di depan pintu utama untuk di parkirkan di tempat parkir khusus untuknya. Kemudian beranjak masuk di sambut Vino di depan pintu masuk.


“Selamat pagi tuan, nyonya”.


“Pagi Vin, apa jadwalku hari ini??” Senyuman merekah dari bibir Arga nyaris membuat Vino oleng, tak biasanya bosnya itu tersenyum selebar itu padanya, hingga memperlihatkan gigi gingsul dan sedikit lesung pipi yang mempermanis senyumannya.


Vino menatap Suci yang juga tersenyum lebar, ia berdehem untuk mengatur ritme jantunya yang ketar ketir karena senyuman dua sejoli itu. Teruma Suci, senyuman wanita itu benar-benar mempesona, pantas saja jika bosnya sangat tergila-gila pada Suci. Karena semakin hari Suci semakin memperlihatkan aura kecantikannya, yang membuat semua orang terpana dan tak bosan menatapnya.


“Pagi ini anda ada pertemuan dengan tuan Justin tuan, dan tuan Justin sudah menunggu anda di lobi atas sejak sepuluh menit yang lalu”.


Mendengar nama Justin membuat Suci merasa tak nyaman dan mendongak menatap suaminya, namun pria itu justru memberikan senyuman menenangkan untuknya. Suci mencoba membalas senyuman suaminya, meski dalam hatinya ia mengutuk dirinya yang bersikeras untuk ikut dengan Arga ke kantor. Jika tahu suaminya ada pertemuan dengan Justin, mungkin Suci akan lebih memilih bersantai di rumah di temani bi Asih yang selama ini selalu setia menemaninya. Ah…tiba-tiba saja Suci merindukan wanita humoris itu.


“Kenapa aku bisa lupa kalau mas Arga masih ada kerja sama dengan mas Justin, Ya Allah, semoga mereka tidak ribut lagi”.

__ADS_1


Arga mengusap tangan Suci yang tanpa sadar sedikit mengeratkan pegangannya pada lengannya, untuk menenangkan dan meyakinkan Suci jika semua akan baik-baik saja.


“Mas, aku minta jangan ribut lagi”.


Arga mengusap pipi Suci, memberikan senyuman lembut pada perempuan itu. “Aku gak akan ribut lagi, aku janji”.


Suci mengangguk, mencoba mmpercayai semua perkataan suaminya.


Vino mempersilahkan Arga dan Suci melangkah lebih dulu, sedangkan dirinya mengekor dari belakang. Pemandangan itu tak luput dari mata-mata karyawan yang mencuri pandang pad abos mereka. Sepertinya mereka masih tak dapat menerima jika bos mereka milik Suci, perempuan itu di anggap sangat beruntung karena bisa mendapatkan pria setampan dan sekaya Arga. Siapa yang sangka, di balik keadaan yang membuat mereka iri itu terdapat banyak cobaan yang nyaris membuat rumah tangga mereka hancur.


“Janji ya mas, jangan berkelahi lagi. Aku benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan mas Justin”.


“Aku tahu sayang, tenanglah.” Suci mengangguk meski hatinya masih sangat resah, ia akan mencoba mempercayai suaminya.

__ADS_1


Saat lift terbuka, Vino mempersilahkan Suci dan Arga berjalan lebih dulu, namun saat Suci melewati Vino, perempuan itu menyusupkan wajahnya pada lengan Arga.


“Kenapa sayang??” Tanya Arga


“Aku gak suka wangi parfum kamu Vin”. Suci melirik Vino yang berdiri tak jauh darinya, pria itu tampak kikuk dan mengusap tengkuknya.


“Tapi saya masih memakai parfum yang sama yang selalu saya pakai nyonya”.


“Tapi aku gak suka Vin”, Suci berucap ketus. Ia menoleh pada Arga. “Mas, bilangin sama Vino ganti parfumnya, kalau enggak jangan masuk kantor lagi, aku gak suka. Wangi aki-aki bikin eneug”. Suci berjalan mendahului Arga dan Vino yang masih tampak diam mematung melihat tingkah Suci yang aneh.


“Vin, turuti kemauan istri saya, saya gak mau ambil resiko kalau dia marah”.


“Ba..baik Tuan”.

__ADS_1


Vino menghela nafas pasrah, padahal itu adalah wangi favoritnya, tapi sekarang ia harus membuangnya karena menurut nyonya-nya parfum itu seperti bau aki-aki. "Ya Tuhan, Cobaan apalagi ini? Bau aki-aki katanya? Kalau bukan bos udah aku remes tuh mulutnya. Astaghfirullah...."


__ADS_2