PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
GAGAL


__ADS_3

Arga dan Suci kembali mencoba ritual suami istri yang kemarin malam gagal, sayangnya kali ini pun harus gagal. Bukan karena Suci ketakutan, tapi karena ponsel Suci yang terus menerus berdering mengganggu pertempuran mereka yang baru setengah jalan saja.


Suci menatap Arga yang masih berada di atasnya, meminta ijin pada pria itu untuk sejenak mengangkat telpon yang terus berdering, ia takut ada sesuatu yang penting. Terlihat jelas jika Arga tak rela melepaskan Suci, tapi pria itu berguling ke sisi Suci walau tanpa bicara apapun.


Bayangkan saja, hasrat sudah di ubun ubun, dan Arga sudah percaya diri jika kali ini akan berhasil, mengingat Suci tak merasakan getaran ketakutan saat Arga bermain main di area dadanya, tidak seperti malam kemarin yang ketika hanya baru menyentuhnya saja tubuh suci sudah gemetar takut, tapi kali ini Suci terlihat santai, hanya berkeringat saja tak sampai gemetar. Tapi gangguan lain membuatnya harus melepaskan Suci.


Suci beranjak duduk, ia menaikan selimut menutupi dadanya yang polos kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.


"Assalamualaikum abi".


Kalimat itu cukup menjadi jawaban bagi Arga, memang siapa lagi yang berani menghubungi Suci malam malam begini selain orang tuanya atau orang tua Arga.


Raut panik terlihat jelas di wajah ayu Suci, Arga bangkit, duduk di samping sang istri seraya menunggu perempuan itu mengakhiri sambungan telponnya.


"Iya abi, waalaikumsalam". Kalimat terakhir Suci sebelum akhirnya sambungan telponnya terputus.


"Kenapa sayang??" Tanya Arga, ia melihat Suci menangis tertunduk.

__ADS_1


"Ummi jatuh di kamar mandi mas, sekarang lagi di rawat di rumah sakit. Apa boleh kita pulang besok?"


Liburan mereka masih tersisa satu hari lagi, namun mengingat ummi mengalami musibah, Arga pun tak bisa egois. "Iya sayang, pagi pagi kita pulang yah". Arga memeluk Suci, membelai rambutnya dan memberikan kecupan di puncak kepalanya. "Jangan nangis sayang, aku gak tega lihat kamu nangis, apa mau pulang sekarang saja?"


"Tapi ini sudah malam mas".


Arga meraih ponselnya, menyalakannya untuk melihat jam. "Masih jam sembilan sayang, kita bisa pulang sekarang, dua jam juga sampai".


"Apa mas gak cape?"


"Gak, yuk siap siap". Arga hendak beranjak, namun Suci meraih tangannya, Arga pun kembali berbalik menatap Suci. "Ada apa sayang?"


Kalimat itu membuat Arga kembali duduk seraya tersenyum gemas. "Gak apa sayang, pelan pelan. Kamu polos banget sih, gemes kan jadinya". Ucap Arga, ia hendak mencium bibir Suci, namun wanita itu menghentikan Arga.


"Kita mau pulang mas".


"Eh aku sampai lupa, yuk siap siap".

__ADS_1


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, gagal lagi percobaan bercocok tanam mereka. Tapi ada yang lebih penting dari itu, mereka semakin dekat meski kata cinta belum terucap, keduanya telah saling merasa memiliki satu sama lain meski penyatuan belum terjadi.


Permintaan Suci yang ingin segera bertemu dengan umminya membuat Arga memutuskan untuk langsung ke rumah sakit tanpa pulang terlebih dahulu, Arga mengerti, Suci tidak akan merasa tenang jika tak melihat langsung bagaimana keadaan umminya.


Tengah malam mereka tiba di rumah sakit, atas informasi dari abi mengenai ruang perawatan ummi, mereka tiba dengan cepat tanpa harus mencari cari lagi.


Jam besuk sudah habis, beruntungnya dokter pribadi keluarga Arga yang menangani ummi secara langsung atas permintaan mama dan papa Tara, dokter itu mengijinkan Suci dan Arga masuk. Ummi di jaga dua puluh empat jam dengan fasilitas kesehatan lengkap dan terjamin.


Tiba di ruangan yang di tuju, Suci menghentikan langkahnya sejenak. Arga tampak mengusap ujung kepala Suci yang tertutup hijab instan berwarna hitam itu.


"Tenang ya sayang, aku yakin ummi baik baik aja".


Suci mengangguk seraya tersenyum, raut lelah terlihat jelas di wajahnya, ia memaksakan pulang karena tak akan bisa tenang jika belum melihat keadaan ummi secara langsung. "Makasih ya mas, maaf aku ngerepotin kamu terus".


"Apapun akan aku lakuin untuk kamu." Arga mengusap sebelah pipi Suci, perempuan itu memejamkan matanya merasakan kehangatan sentuhan suaminya, ketenangan ia dapatkan dari sana.


"Yuk masuk". Arga menggandeng tangan Suci, membuka pintunya terlebih dahulu kemudian memasuki ruangan dengan hati yang masih tak menentu.

__ADS_1


Suci merasa beruntung mempunyai Arga, pria itu tak segan segan berkorban untuk Suci. Keperduliannya pada Suci membuat Suci terenyuh, ada rasa kagum menyelusup di hatinya, mengagumi suaminya sendiri dalam diam.


__ADS_2