
Suci menggenggam erat tangan Arga yang membawanya meninggalkan lobby utama, di ikuti Vira dan Mira. Sedangkan Vino, ia di perintahkan Arga untuk mencari dalang dari penyebaran Vidio itu. Para wartawan pun satu persatu bubar setelah pengawal Arga di kerahkan untuk membubarkan mereka.
Di dalam lift, Arga tak hentinya menenangkan Suci, wanita itu masih sesegukan, ia tak menyangka keputusannya untuk kembali bekerja akan berakhir seperti ini.
"Aku takut". Lirih Suci, entah sudah berapa kalinya Suci mengatakan dua kata itu. Arga dengan sabar menenangkan Suci seraya terus mengusap punggungnya yang masih bergetar.
Sampai di depan pintu ruangan Arga, tiba-tiba saja bayangan malam itu kembali melintas di benak Suci, membuat perempuan itu berhenti melangkah dan melepaskan genggaman tangannya pada Arga.
"Kenapa??". Tanya Arga.
Suci menunduk dan menggelengkan kepalanya, Arga tahu jika Suci pasti mengingat malam itu.
"Apa mau pulang saja?". Tanya Arga, "Kamu bisa pulang di temani Vira dan Mira, aku ada pertemuan penting setengah jam lagi." Arga menyesal tidak bisa menemani Suci lebih lama, pertemuan itu benar-benar tidak bisa di gantikan.
Suci menggeleng, "Jangan jauh-jauh dari aku, aku benar-benar takut". Isaknya.
__ADS_1
Arga menarik lengan Suci dan mendekapnya dengan erat. Perempuan ini begitu malang, kejadian buruk sejak malam itu selalu membayanginya, dan Arga semakin merasa berdosa telah membuat hidup Suci buruk. "Maafkan aku, karena aku kamu harus mengalami semua ini. Aku suami mu sekarang, aku akan selalu melindungi mu".
Suci mengangguk dalam dekapan Arga, ia meyakinkan diri jika Arga adalah suaminya, jika pun terjadi lagi kejadian seperti malam itu, bukankah itu memang kewajibannya dan hak suaminya?? Dia halal untuk di sentuh oleh Arga.
Dengan langkah pelan, Suci akhirnya memasuki ruangan itu. Ruangan yang meninggalkan kenangan buruk untuknya, bahkan sampai saat ini ia masih mengingat betul peristiwa menakutkan itu.
"Duduklah, aku akan menyuruh Vira untuk membawakan mu minum".
Suci mengangguk, ia duduk di sofa, membiarkan Arga kembali keluar untuk memerintahkan Vira membawakannya air. Tubuhnya masih bergetar karena rasa takut itu kini bertambah. Suci memejamkan matanya saat ia melihat pintu ruangan pribadi Arga, di mana kejadian naas itu terjadi. Ia memeluk dirinya sendiri seraya menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir fikiran buruk tentang suaminya.
"Tidak, aku akan mengganggu pekerjaannya nanti. Aku bisa sendiri, ada Vira dan Mira yang menemani aku".
Arga menghapus air mata Suci, wajah sendu itu semakin terlihat kacau dengan pipi yang basah dan mata yang sembab. "Jangan menangis lagi, aku merasa sangat berdosa sudah membuat hidup mu seperti ini".
Arga merengkuh bahu Suci kemudian kembali memeluknya. Suci memejamkan matanya, tangannya terangkat pelan untuk mencoba membalas pelukan suaminya. Ia mulai nyaman dan merasa aman saat Arga memeluknya seperti ini.
__ADS_1
Terdengar ketukan di balik pintu ruangan itu.
"Masuk". Arga, masih memeluk Suci, memberikan ketenangan pada perempuan itu.
"Tuan muda, saya sudah menemukan dalang dari penyebaran Vidio itu".
"Bagus, bawa dia kesini".
Vino mengangguk, ia kembali ke luar ruangan. Beberapa saat kemudian Vino kembali dengan seseorang yang terdengar menangis.
Suci yang semula menyembunyikan wajahnya di dada Arga mulai mengangkat wajahnya saat ia merasa mengenali suara itu.
DEG
"TARI???".
__ADS_1