
"TARI??".
Suci menatap Tari dengan sendu, ia tak percaya jika sahabatnya sendiri yang melakukan itu. Lalu mengapa beberapa menit yang lalu Tari melindunginya? Apakah itu hanya sandiwara untuk menutupi kesalahannya ataukah sebagai bentuk rasa bersalahnya saja?.
Arga mengepalkan tangannya, pria itu juga sama tak menyangkanya dengan Suci. Satu asatunya teman dekat istrinya pun menjelma sebagai pengkhianat.
"Kenapa Tar? Apa aku mempunyai kesalahan padamu? Hingga kamu tega menjadikan aku umpan bulan bulanan mereka."
Tari hanya menunduk seraya terisak.
"Ini bukti buktinya tuan muda, semuanya terekam jelas di sini".
Vino memberikan ponselnya pada Arga, Arga mengambilnya, kemudian memutar rekaman vidio yang memperlihatkan jika Tari tengah berbicara di telpon dengan seseorang yang di yakini sebagai dalang yang sebenarnya.
Dalam percakapan itu terdengar jelas jika Tari mengakui kesa lahannya dan meminta pada lawan bicaranya agar ia di lepaskan dan meminta sebuah rekaman sebagai jaminan atas apa yang dilakukanya pada Suci di berikan pada gadis itu.
"Jelaskan pada istri ku alasan kamu mengkhianatinya!!". Tak ada teriakan dari Arga, namun suara dinginnya ternyata tak kalah menakutkan. Tatapan tajamnya dapat mengintimidasi lawan bicaranya.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku Suci, aku terancam. Aku dalam kendali seseorang". Tari meremas tangannya sendiri, tubuhnya bergetar akibat tangis dan rasa takutnya.
"Katakan dengan jelas, aku tidak akan pernah mengampuni siapapun yang telah menyakiti istri ku, termasuk kamu".
"Ampuni aku pak, Rudi mengancam ku akan menyebarkan vidio pelecehan yang dia lakukan pada ku. Dia juga mengancam jika aku tidak melakukan perintahnya, dia sendiri yang akan melukai Suci."
Arga meradang mendengar nama itu, nama pria yang dulu mencoba menghancurkan istrinya. "Apa ini Vin? Kenapa dia bisa lolos? Bukankah kamu bilang dia sudah di penjara?".
"Dia bebas dengan jaminan pak". Ucap Tari.
Arga kembali memeluk Suci, ia mengusap punggung perempuan itu dengan lembut. "Tenanglah, selama kamu di dekat ku, tidak akan ada yang bisa melukai mu lagi".
Suci meremas kemeja Arga di bagian dadanya, tubuhnya bergetar takut. "Aku takut". Bisiknya
Arga sibuk menenangkan Suci, hal yang tak Tari dapatkan dari siapapun. Suci beruntung meski pun musibah buruk selalu menimpanya, tapi masih ada seseorang yang menenangkannya dan melindunginya. Sedangkan dirinya tak bisa membagi aib itu pada orang lain bahkan pada ke dua orang tuanya sendiri. Mengadu pada yang berwajib pun ia terlalu takut akan ancaman yang di berikan Rudi padanya, pria itu benar-benar seperti monster yang tak segan-segan melakukan apapun demi tujuannya.
"Maafkan aku Suci". Tari menunduk dalam, menyesali karena telah menyakiti sahabatnya.
__ADS_1
Suci melepas pelukan suaminya, ia menghampiri Tari dan memeluk gadis itu dengan erat. Mereka saling menumpahkan air mata kesedihan. Tari bernasib sama dengannya, tapi ia lebih beruntung dari Tari karena Arga menikahinya, dan kini pria itu menjadi pelindungnya, sedanghkan Tari? Ia tak dapat meminta pertanggung jawaban pada orang seperti Rudi. Bukan mensyukuri sebuah musibah atau dosa, tapi inilah hikmah yang dapat Suci ambil dari kejadian buruk yang di alaminya. Ia mendapatkan suami yang bertanggung jawab dan melindunginya juga memperlakukannya dengan sangat baik. Terlebih lagi kedua orang tua Arga sangat menyayanginya walau status sosial mereka sangat berbeda.
"Maafkan aku Suci, aku bersalah".
Suci menggelengkan kepalanya, "Aku juga meminta maaf pada mu, aku sempat menyimpan kemarahan pada mu. Tapi ternyata kamu juga korban di sini".
Arga dan Vino saling menatap, Arga menggelengkan kepalanya pada Vino agar Vino tak memberikan hukuman pada Tari, karena istrinya sudah dengan besar hati memaafkan Tari.
Di tengah suasana haru itu, ketukan di pintu membuat mereka menoleh, Siska sekretaris Arga muncul dari balik pintu dan mengingatkan pada Arga jika Arga harus segera memasuki ruangan meeting.
Arga beranjak, ia sedikit merapihkan jasnya juga dasinya kemudian melangkah mendekati Suci. "Aku harus pergi, kamu mau pulang atau beristirahat di sini?".
"Aku di sini saja, bolehkah Tari menemani ku di sini?".
Arga mengangguk seraya tersenyum, ia mengusap puncak kepala Suci yang tertutup hijab. "Tentu saja boleh, istirahatlah di kamar, aku akan segera kembali".
Suci mengangguk, senyum tipis mengantar kepergian Arga setelah Suci mengucapkan terima kasih pada pria itu.
__ADS_1