PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
JAWABAN MEMATIKAN


__ADS_3

Suasana ibu kota masih terasa panas meski matahari mulai tenggelam. Lalu lalang kendaraan roda dua ataupun roda empat terlihat semakin memadati jalan di jam pulang kerja seperti saat ini.


Tepat pukul lima sore, Arga keluar. Di ikuti oleh Vino di belakangnya. Belum lagi mobil mereka tiba, wartawan tampak kembali berkumpul, menghadang Arga yang hendak pergi hingga pria tampan itu tak bisa lagi bersembunyi dan mengelak.


Arga menghela nafas panjang, bersiap membetikan senyum palsunya pada para pemburu berita yang terkadang menyuguhkan berita yang berlebihan dari keadaan sebenarnya.


"Maaf tuan muda, saya akan membereskan mereka." Bisik Vino.


"Tidak perlu Vin, saya juga tidak mungkin terus menghindar. Mereka tidak akan menyerah".


Vino mengangguk, mengikuti langkah Arga yang berjalan lebih mendekat ke arahnya.


"Selamat sore pak Arga, maaf mengganggu waktunya sebentar." Ucap salah satu wartawan.


Arga mengangguk, cahaya kamera mulai mengarah padanya. Semua tampak bersiap mendengarkan statement yang akan keluar dari mulut tuan muda penguasa Gold advertising itu.


"Apa yang ingin kalian ketahui??". Ucap Arga tegas.


"Pak Arga, bagaimana tanggapan anda tentang berita yang akhir-akhir ini beredar??". Tanya salah satu wartawan bertubuh kurus di sisi kanannya berdiri.

__ADS_1


"Kenapa bertanya pada saya? Bukankah kalian lebih tahu dari pada saya?".


Hening sesaat, kemudian salah satu di antara mereka kembali bertanya.


"Siapa gadis yang ada di gambar itu pak??".


"Simpulkan saja oleh kalian sendiri, bukankah selalu seperti itu??".


Hening kembali, jawaban dari Arga seolah mematikan suasana.


"Ada lagi? Jika tidak ada, mohon maaf saya harus segera pergi". Ucap Arga.


"Silahkan". Arga menatap seorang wanita berambut sebahu yang memegang ponsel yang ia gunakan sebagai alat perekam.


"Ada yang mengatakan, jika gadis itu adalah salah satu karyawan anda pak Arga".


Deg


Pertanyaan itu membuat Arga terkejut, namun meski begitu, bukan Arga namanya jika tidak bisa menguasai diri dan menampilkan ekspresi datarnya.

__ADS_1


Dan bersamaan dengan terlontarnya pertanyaan itu, Suci dan Tari baru saja keluar dari dalam kantor. Suci nyaris limbung saat mendengar itu.


Tari yang tadi sudah mendapatkan penjelasan dari Suci bahwa bukan dia yang berada di dalam foto itu, kini kembali menatap suci dengan tatapan curiga.


"Ci, kamu gak papa kan??".


Suci menggelengkan kepalanya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian ia hembuskan perlahan. Berharap gemetar di tubuhnya sedikit berkurang.


"Tar, kita keluar lewat samping saja yah". Pinta Suci, wajahnya tampak memucat. Ia takut jika kebenarannya akan terbongkar.


Tari mengangguk, rasa khawatir pada sahabatnya lebih besar ketimbang rasa penasarannya saat ini. Meski banyak kecurigaan di benak Tari, namun ia memilih bungkam dan menunggu saat yang tepat untuknya bertanya.


Arga mengalihkan tatapannya pada wartawan yang melayangkan pertanyaan yang membuatnya sedikit terkejut itu. "Kenapa kalian tidak bertanya saja pada orang yang mengatakan itu??".


Hening kembali, semua pertanyaan dari para pencari berita di jawab dengan pertanyaan kembali oleh Arga. Hingga kerumunan wartawan itu tak berkutik dan mempunyai celah untuk bertanya dan memperpanjang waktu.


"Terima kasih, kalian semua sudah rela menunggu saya. Tapi saya mohon maaf tidak bisa berlama-lama".


Setelah mengatakan hal itu, Arga pergi membelah kerumunan wartawan menuju ke mobilnya yang telah terparkir tak jauh dari sana, di ikuti Vino di belakangnya.

__ADS_1


Helaan nafas lega pria itu hembuskan, ia berharap semoga itu semua bisa membungkam para pemburu berita itu untuk tak menyebar berita yang lebih merugikan lagi, dan yang paling terpenting, semoga mereka tidak mencari tahu siapa gadis yang bersamanya saat itu.


__ADS_2