
Vino memecah jalanan pagi dengan mengendarai mobil bak kesetanan, Arga yang duduk di belakang berpindah menjadi duduk di depan di samping Vino yang memegang kendali stir.
"Lama banget sih Vin!!". Sentak Arga, pria itu terlihat gusar, entah sudah ke berapa kalinya Arga memprotes Vino dalam mengendarai mobil yang katanya seperti kura-kura, padahal kecepatannya sudah di atas rata-rata.
Sampai di pelataran gedung perusahaannya, Arga membulatkan matanya melihat keramaian memenuhi gedung itu. Tak hanya karyawannya saja yang tampak berkerumun, tapi juga wartawan pemburu berita, entah siapa yang berani menghubungi mereka.
Mobil terparkir asal, Arga dan Vino berlari memecah kerumunan, di lobby utama, ia melihat pemandangan yang membuat amarahnya memuncak. Suci tampak berjongkok seraya menangis, Tari pun terlihat memeluk perempuan itu dan melindunginya dari lemparan-lemoaran kertas yang di gulung-gulung. Berbagai cacian dan hinaan terdengar saling bersahutan. Vira dan Mira berdiri tak jauh dari Suci, mengahalau para karyawan yang tengah bertindak semena-mena pada Nyonya nya, namun sayangnya kekuatan keduanya tak mampu menghentikan banyaknya orang yang tengah menghakimi Suci.
Vira mencoba mengatakan jika Suci adalah istri dari bos mereka tapi Suci menahannya, ia tak mau membuat keadaan semakin ramai dan memojokannya.
"HENTIKAAAAN!!!". Teriak Arga, lampu sorot kamera yang menangkap gambarnya membuat Arga menatap tajam pada kerumunan wartawan yang tengah memanfaatkan situasi ini untuk penghasil uang.
Hening, dalam sekejap suasana tampak mencekam. Kemarahan Arga mampu membekukan semuanya.
Arga menghampiri Suci, ia meraih bahu perempuan itu untuk berdiri, kemudian ia dekap dengan erat. "Ssstt jangan nangis, ada aku". Bisik Arga.
__ADS_1
"Aku takut". Lirih Suci.
Arga mengusap punggung Suci, memberikan ketenangan agar perempuan itu tak ketakutan lagi. Beberapa kali Arga tampak mengecup puncak kepala istrinya, membuat siapapun bertanya-tanya tentang hubungan Suci dan Arga.
Tak terkecuali Tari, ia memang tak mengetahui jika Suci telah menikah dengan Arga. Beberapa hari Suci absen dari pekerjaan membuat Tari susah untuk menanyakan kabarnya, ponselnya pun tak bisa Tari hubungi, ingin berkunjung ke rumahnya Tari cukup sibuk dengan pekerjaannya yang melelahkan.
"Apa kesalahannya pada kalian sehingga kalian berbuat seperti ini padanya???". Arga kembali berteriak, tak ada yang berani menatap mata merahnya. Mereka tertunduk dengan ketakutan.
"Jawab!!! Kenapa kalian melakukan ini padanya??!!".
Dengan takut karyawan itu menjawab. "Tadi pagi beredar Vidio anda dan Suci pak Presdir, di sana memperlihatkan jika Suci dan anda memasuki ruangan pribadi anda. Dan kami kira Suci menggoda Anda dan akar dari permasalahan skandal anda beberapa waktu yang lalu".
"Kira?? Kalian hanya mengira-ngira?? DIA ISTRIKU!!!!!". Teriak Arga, kalian memperlakukan istriku seburuk ini? Apa kalian sudah siap berurusan dengan ku??".
Terkejut, tercengang, bahkan hampir pingsan. Begitulah perasaan para karyawan yang baru saja mendengar kabar mengejutkan dari Presdir idaman mereka. Takut, sudah pasti. Mereka salah menyerang orang, mereka tidak tahu siapa yang berdiri di belakang orang yang mereka serang.
__ADS_1
"Kalau benar dia istri anda, apakah ada buktinya??". Salah satu wartawan bertanya, membuat Arga tersenyum kecut dengan tatapan dingin.
"Apa kamu membawa buku nikah kita??". Tanya Arga pada Suci.
Suci mengangguk. "Di tas aku".
Arga mengambil tas lusuh Suci yang tergeletak di lantai, kemudian mengambil buku berwarna hijau dan merah yang pagi tadi ia berikan pada Suci. "Apa ini cukup membuktikannya??". Arga membuka buku itu, terlihat fotonya dan Suci di sana. Kemudian ia mengangkat tangan Suci dan tangannya, memperlihatkan cincin yang sama yang mereka pakai. "Apa kalian puas??!!".
Semua tampak tertunduk, tatapan dingin Arga tampak sangat menakutkan, membekukan siapa saja yang berada di sekitarnya.
"Bubar, bubar." Teriak Vino, "Saya akan mendata siapa saja yang menjadi biang kerusuhan di sini".
Suci masih memeluk Arga dengan erat, ia tak berani menunjukan wajahnya sedikitpun, ia malu, ia takut, tubuhnya bergetar hebat. "Bawa aku pergi". Lirihnya.
Arga mengangguk, "Ke ruangan aku yah?".
__ADS_1
Suci mengangguk meng iyakan, ia tak berfikir apapun selain pergi dari lobby.