
Arga menatap Suci dengan senyum tertahan, melihat raut wajah cantik itu merajuk membuatnya sangat gemas. Kegiatan panas mereka semalam bukan hanya menguras tenaga Suci saja, tapi juga menyita waktu tidurnya, menjelang subuh Arga baru melepaskan Suci dan membiarkan perempuan itu terlelap. Namun sialnya, mata yang baru saja terpejam itu harus kembali bangun karena adzan subuh berkumandang.
Bak pasangan pengantin baru, Arga seolah tak ada puasnya membuat Suci menjerit manja. Dan herannya lagi, kenapa tenaga pria itu tak pernah habis dan tetap berstamina kuat meski beberapa kali melakukannya.
“Jangan ketawa terus mas, aku lagi kesel loh bukan lagi seneng”. Protesnya, Suci melingkarkan dasi ke belakang leher Arga, mengatur dua sisinya dan mengikatnya dengan tali simpul tiga.
“Kamu lucu kalau lagi kesel. Tambah cantik..”
Suci menahan senyumnya, kemudian kembali dengan mode kesalnya agar pria itu tak melihatnya tersenyum. “Gombal, kali ini aku gak akan kemakan rayuan kamu mas”.
“Aku gak gombal, kenyataanya gitu kok”. Arga menarik pinggang Suci agar merapat padanya saat Suci hendak beranjak karena tugasnya memasangkan dasi sudah selesai.
“Mas, nanti baju kamu gak rapi lagi loh”.
Arga tak menjawab, ia sibuk menatap istrinya dengan pancaran kekaguman dan kerinduan. Meski sepanjang malam mereka bertempur sebagai bentuk penyaluran rasa rindu mereka, tapi nyatanya tak mengurangi rasa rindu Arga pada Suci. Dan Arga tak akan pernah puas jika itu menyangkut dengan Suci, perempuan bermata teduh dengan wajah sejuk di pandang itu telah menjadi candunya.
Suci menunduk gugup, senyum malu-malu terulas di bibir tipisnya. “Jangan liatin aku terus, malu ih”. Tangan mungilnya memukul pelan dada suaminya, membuat pria itu terkekeh dan menunduk untuk mengecup bibir istrinya.
__ADS_1
“Bagaimana ini?? Aku jadi malas bekerja”. Arga menenggelamkan kepalanya di bahu istrinya, kedua tangannya menarik pinggang Suci agar perempuan itu tak bisa jauh darinya.
Suci tertawa, “Duh, bayi gede aku.” Ucapnya seraya melingkarkan tangannya di pinggang Arga dan mengusap punggung pria yang mendadak jadi manja itu.
“Hp aku mana sayang??”
“Ada di atas nakas mas, kenapa memang?”
“Aku mau nelpon Vino, mau ngasih tau supaya kerjaan aku dia handle hari ini dan untuk tiga hari ke depan”.
“Gak kemana-mana sayang, mau di rumah aja sama kamu atau kita pergi bulan madu?? Kita kan belum bulan madu sayang”.
“Ya ampun mas, gak perlu bulan madu. Di rumah juga sama aja, aku tetap gak bisa tidur hampir semalaman gara-gara kamu. Lagian kita nikah udah lama, gak perlu bulan madu”.
Arga memberenggut, “perlu lah sayang, supaya kita bisa lebih semangat lagi tempurnya, kita butuh suasana baru”.
Suci menangkup pipi suaminya dengan kedua tangannya, memberikan tatapan penuh cinta dengan seulas senyum lembut terukir di bibir tipisnya. “Di sini saja ya sayang, gak perlu jauh-jauh. Aku gak mau kamu buang-buang uang”.
__ADS_1
Arga melebarkan senyumnya meski mendapat penolakan dari Suci, kata SAYANG yang di sematkan dalam kalimat yang di utarakan Suci sangat membuatnya bahagia dan melayang-layang, mungkin pipinya tengah merona saat ini, karena wajahnya terasa memanas mendengar kata manis itu. “Tapi aku mau bikin kamu bahagia, uang aku buat kamu nikmatin. Semuanya untuk kamu.”
“Terima kasih mas, tapi aku sudah sangat bahagia sekarang. Aku…aku belum siap berada di lingkungan yang asing dan baru buat aku, maafin aku ya sayang”.
Arga semakin melebarkan senyumannya ketika kata itu kembali Suci ucapkan. Giginya terasa kering karena ia tersenyum sangat lebar memperlihatkan gigi gingsul yang menjadi pemanis dalam senyuman pria itu. “Gak papa, pelan-pelan, kamu pasti bisa sembuh. Kita bisa pergi bulan madu lain waktu. Berarti tempurnya di rumah aja ya sayang”.
Suci terkekeh pelan, suaminya itu masih saja membahas hal itu, hal yang selalu membuat Suci merona saat mengingat kejadian itu lagi. "Iya di rumah aja. Tapi sekarang sudah siang, kamu bisa terlambat ke kantor mas". Cubitan tangan mungil Suci di ujung hidungnya membuat Arga tersenyum malu malu. Bak seorang pemuda yang baru merasakan jatuh cinta dan mendapatkan pujian dari kekasihnya. Seperti itulah ekspresi Arga saat ini.
"Aku gak kerja ah, kan kamu udah setuju kita perbanyak tempur di rumah aja".
"Gak gitu maksud aku mas, kamu kerja dulu sana".
"Gak mau ah, aku maunya kamu bukan kerja".
"Kerja atau kamu gak dapet jatah sama sekali mas??" Ancam Suci.
Arga gelagapan, kalimat kramat dan ancaman paling menakutkan bagi seorang pria beristri adalah tak mendapatkan jatahanya. Dimana selain menahan hasrat, juga harus siap dengan kepala yang pening dan berakhir dengan uring-uringan sepanjang hari.
__ADS_1