
“Gak apa mang, mang Ujang pulang saja. Saya juga sebentar lagi pulang..”
Di luar dugaan, Arga justru tak marah sama sekali. Mang Ujang bernafas lega, kemudian pamit pada Arga dan beranjak meninggalkan area rumah sakit itu.
Bukan Arga tak kesal, Arga kesal dan ingin marah karena ia di ikuti secara diam-diam. Namun Arga juga sadar, mang Ujang melakukan itu atas perintah istrinya. Pria tua itu tak sepenuhnya salah.
Arga menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil yang masih tertutup rapat, Suci pasti marah padanya. Dan ia harus berfikir keras bagaimana caranya menjelaskan semuanya pada Suci tanpa menyakiti perempuan itu. Arga memutuskan untuk langsung pulang dan tak kembali ke kantornya setelah sebelumnya menghubungi Vino untuk menanyakan jadwalnya yang ternyata kosong. Arga memerintahkan Vino untuk menghandle pekerjaannya dan ia sendiri tancap gas menuju kerumahnya.
Arga berkali-kali mengumpat kesal saat kendaraan di depannya menghalangi jalannya, jam makan siang yang sudah tiba membuat jalanan padat oleh para pemburu isi perut dan para pejuang rupiah yang rehat sejenak dari aktivitasnya.
Perjalanan yang harusnya di tempuh lima belas menit saja menjadi sedikit lama. Tiga puluh menit Arga baru tiba di rumahnya. Ia keluar dari mobilnya yang ia parkir sembarang di depan teras rumahnya. Arga melemparkan kunci mobilnya pada salah satu penjaga untuk memarkirkan mobilnya ke garasi, ia sendiri berjalan sedikit berlari masuk ke dalam rumahnya dengan paperbag di tangannya.
“Selamat siang Tuan..” Sapa salah satu pelayan yang berpapasan dengannya.
__ADS_1
“Nyonya dimana?”
“Nyonya baru saja tiba tuan, sepertinya nyonya di kamar”.
Tanpa menunggu lama lagi, langkah lebarnya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya yang pintunya sedikit terbuka, Suci tampak tengah duduk di sisi ranjang dengan kepala tertunduk.
“Assalamualaikum sayang..”
Suci mendongak, menatap suaminya dan memberikan senyuman tipis pada pria itu. “Waalaikumsalam mas..”
Suci tersenyum hambar, “Tadinya aku hanya ingin memberimu kejutan, tapi…”
“Tapi kamu yang terkejut? Kenapa kamu gak nyamperin aku?”
__ADS_1
“Untuk apa? Aku tidak mau mengganggumu dan dokter Clara, sepertinya kalian memang membutuhkan waktu berdua.”
“Maafkan aku sayang, aku tahu tindakan ku bertemu Clara tanpa memberitahumu salah, tapi aku hanya membutuhkan waktu sedikit untuk menyelesaikan semuanya.”
“Kalian belum selesai mas, masih ada cinta dimata mu untuknya, masih ada rindu yang kamu pendam untuknya. Maafkan aku, karena kehadiranku di hidupmu menjadi penghalang untuk hubungan kalian. Aku sungguh tidak tahu jika ada hati yang tersakiti karena pernikahan kita. Sebuah kesalahan membuat kamu harus berpisah paksa dengan perempuan yang kamu cintai, dan kamu malah menikahi aku yang jelas-jelas gak kamu kenal, aku sungguh merasa jahat”. Suci menunduk dalam, air matanya menetes membasahi punggung tangan Arga yang masih meggenggam tangannya.
“Ini bukan salahmu sayang, aku yang salah. Aku yang sudah menyeretmu dalam kesedihan dan penderitaan yang dalam.”
“Harusnya aku tidak kembali pada mu mas, sekarang aku hamil, apa yang harus aku lakukan?” Suci semakin terisak.
“Apa kamu menyesal kembali padaku? Apa kamu menyesali kehamilan mu?” Tanpa sadar Arga meremas tangan Suci, hingga perempuan itu sedikit meringis.
“Sakit mas..”
__ADS_1
“Astaga, maafkan aku sayang..” Arga beranjak, ia membawa Suci ke dalam dekapannya, Suci tak membalas, ia hanya terisak di dada bidang suaminya. Menumpahkan segala rasa yang berkecamuk di hatinya. “Aku sangat mencintaimu Suci, jangan ragukan itu, jangan menyesali pernikahan kita. Karena pernikahan kita adalah sesuatu yang berarti dalam hidupku, sangat berarti”.
“Tapi kamu masih mencintainya mas”.