
Ikut aku ke kantor dulu ya sayang, cuma sebentar kok. Abis itu kita pulang".
Suci mengangguk, mereka tengah dalam perjalanan setelah beberapa saat yang lalu pamit pada ummi dan abi dan meninggalkan rumah sederhana itu.
Beberapa saat hening, Arga melirik istrinya, perempuan itu seperti tengah memikirkan sesuatu yang susah untuk di ungkapkan. "Kenapa sayang? Apa ada yang mau kamu omongin ke aku??"
Suci memposisikan dirinya duduk miring menghadap Arga, ia ragu, tapi ia harus membicarakan ini dengan suaminya. Helaan nafas dalam terdengar berhembus dari mulutnya, sekedar untuk mempersiapkan keberaniannya mengenai apa yang akan ia bahas dengan suaminya. "Mas...'
"Iya sayang.."
"Apa aku boleh lanjut bekerja?" Tanyanya ragu, mendapati Arga yang terdiam membuat Suci menunduk dengan menautkan jari jemarinya dan meremasnya. Untuk manghalau rasa takut jika Arga marah dan tak mengijinkannya. "Mas..."
Arga menghela nafas dalam, kemudian menoleh pada Suci sekilas dan kembali fokus pada jalanan di depannya.
"sayang, aku minta maaf. Karena aku kamu jadi bekerja, kamu pasti terluka dengan semua perkataan dan perlakuan ku pada mu. Aku sungguh menyesalinya".
"Bukan begitu mas, aku sungguh sudah memaafkan mu. Tapi aku sudah terlanjur bekerja di sana. Aku mempunyai tanggung jawab untuk itu".
"Sayang, aku akan mencukupi semua kebutuhan mu. Aku..."
"Mas, ini bukan tentang uang. Tapi tanggung jawab aku, seenggaknya, biarkan aku bekerja di sana selama satu bulan penuh. Aku berhutang budi sama yang punya cafe itu, dia udah nolong aku ngasih pekerjaan di saat aku membutuhkannya".
Arga memalingkan wajahnya, ia sangat tidak setuju jika Suci kembali bekerja. Tapi ia pun tak mau terlalu mengekang Suci dan merusak hubungan mereka yang baru saja membaik.
__ADS_1
Selain itu, ia sangat tidak suka jika Suci terlalu banyak berinteraksi di luar dengan pria manapun selain dirinya.
"Apa kamu malu mempunyai istri seorang pelayan cafe?"
"Tidak seperti itu sayang, aku hanya tidak mau kamu terlalu lelah. Aku juga bisa sangat cemburu jika kamu terlalu banyak berinteraksi dengan pria lain meskipun kamu tidak mengenalnya sama sekali".
Suci menganga, ia tak percaya dengan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut seksi suaminya itu. "Apa katanya? Dia bisa cemburu?" Batinnya
"Mas, aku mohon. Kalau pun aku berinteraksi dengan pria lain, itu semua karena pekerjaan, dan aku juga tak mengenali mereka bukan??"
"Iya aku tahu, tapi sayang..." Arga kembali menghela nafas dalam. "Berat, ini benar berat sayang. Nanti kita bicarakan lagi ya".
Suci mengangguk, sepertinya ia pun harus berfikir ulang mengingat hubungan mereka baru saja membaik.
Tiga puluh menit waktu yang mereka lalui dari rumah Suci ke kantor Arga. Setelah memberikan kunci mobilnya pada salah satu penjaga di depan pintu utama, Arga menggandeng tangan Suci memasuki gedung yang merupakan tempat sangat bersejarah bagi Suci.
Mereka di sambut Vino yang dengan sigap membungkukan sedikit badannya saar Arga dan Suci datang mendekat.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya. Senang bisa bertemu anda kembali"
Suci mengangguk seraya tersenyum. Arga tampak melirik sinis sang asisten, Vino terlihat tersenyum kikuk saat tatapan tajam Arga seolah siap menerkamnya.
"Maaf tuan, mari saya antar. Tuan justin sudah menunggu anda".
__ADS_1
"Justin? Untuk apa dia datang? Kita tidak ada janji bukan??"
"Saya tidak tahu tuan, karena tuan Justin tidak ingin mengatakannya dan bersikeras menunggu anda".
"Ada apa dengannya?" Gumam Arga
Arga kembali melangkah dengan tetap menggandeng tangan Suci, tak membiarkan perempuan itu jauh dari jangkauannya. Sapaan-sapaan dari para karyawan yang kebanyakan wanita itu tak Arga hiraukan sama sekali, Arga muak dengan para pencari perhatian itu, sudah jelas Suci ada di sampingnya, tapi mereka tetap melakukan aksi genitnya.
Dengan menggunakan lift khusus presdir, Arga, Suci dan Vino menuju ke lantai teratas dimana ruangan Arga berada.
"Dimana Justin menungguku?"
"Di ruang tamu tuan".
Arga tak lagi bertanya, ia sibuk merangkul bahu Suci dan mengecupi puncak kepala istrinya yang tertutup pashmina berwarna hitam.
"Jadi nyamuk kan gue?!!" Batin Vino
Sampai di lantai teratas gedung pencakar langit itu, Vino mempersilahkan Arga dan Suci ke ruang tunggu khusus tamu. Untuk menemui Justin yang katanya tengah menunggu kedatangannya.
Sampai di ruang tunggu khusus tamu, Justin terlihat tengah menatap ke luar jendela kaca besar yang mengarah langsung pada pusat kota. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana cream yang ia kenakan, entah apa yang ia fikirkan hingga pria itu tak menyadari kedatangan Arga.
Vino berdehem sebelum akhirnya menyapa Justin dan memberitahunya jika Arga telah tiba. "Ekhemmmm, maaf tuan Justin, Tuan Arga sudah tiba".
__ADS_1
Justin berbalik, matanya membulat dengan sorot mata yang sulit di artikan. "Suci, kau kah itu??"