
Seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan rambut berantakan tengah duduk tertunduk di kursi stainles ruang tunggu IGD salah satu Rumah sakit. Wajahnya tampak gusar, sorot matanya menunjukkan penyesalan yang vteramat atas apa yang telah ia lakukan beberapa waktu yang lalu pada istrinya.
Rasa penyesalan itu semakin mendalam saat satu kenyataan baru saja ia ketahui, istrinya tengah mengandung, dan ia sama sekali tak mengetahui hal itu.
Hampir tiga puluh menit berlalu dari sejak kedatangannya ke rumah sakit itu, tapi sang dokter belum juga keluar dari ruangan pemeriksaan istrinya.
Tak ada air mata yang menetes di paras tampannya, namun matanya yang memerah cukup menunjukkan betapa ia sangat bersedih atas apa yang terjadi pada sang istri, dan parahnya, itu semua karenanya.
"Keluarga nyonya Suci". Seorang perawat datang menghampiri.
"saya suaminya sus, bagaimana kondisi istri saya".
"silahkan masuk dulu pak, dokter akan menjelaskannya pada anda".
Arga mengikuti langkah suster, memasuki ruangan IGD. Dadanya terasa teremas saat melihat wanita yang sangat di cintainya terbaring lemas tak berdaya dengan wajah memucat. Ya, Arga sangat mencintai Suci, tapi rasa kecewanya pada Suci menutup persaan cintanya.
"Dokter, bagaiman keadaan istri saya??"
Dokter menghela nafas dalam, ada sebuah keraguan untuk menyampaikan keadaan pasiennya. Tapi apapun keadaannya, baik atau buruk, tetap harus ia sampaikan.
"Maaf pak, kami tidak bisa menyelamatkan janinnya."
DEG
Arga meremas besi pembatas ranjang, rasa bersalah kian menghujam jantungnya, ia yang menyebabkan Suci kehilangan calon anak mereka. Ia yang menyebabkan Suci seperti ini. Ingin rasanya ia menjerit, meluapkan rasa sesak yang meremas dadanya. Entah bagaimana reaksi Suci padanya setelah ia sadar dan tahu semuanya. Arga menggelengkan kepalanya, rasa takut tiba tiba datang, takut jika karena kesalahannya ia kehilangan Suci.
"Nyonya Suci masih dalam pengarus obat pak, mungkin akan tersadar sekitar satu jam lagi, kami akan memindahkannya ke ruang rawat, benturan di kepalanya juga cukup keras, lukanya cukup dalam".
Arga hanya bisa menunduk dalam mendengar penuturan dokter, lidahnya kelu tak dapat berucap, bahkan untuk sekedar mengucapkan kata YA atau TIDAK. Fikirannya carut marut, lelehan air mata yang sedari tadi di tahannya akhirnya menetes tanpa permisi.
Arga memandangi wajah pucat Suci, tampak sangat jelas jika wanita itu menanggung beban yang teramat berat. Dan lagi lagi itu karenanya.
__ADS_1
"Sebaiknya anda mengurus administrasinya pak, kami akan mengurus kepindahannya ke ruang rawat". Kalimat terakhir yang dokter sampaikan sebelum akhirnya dokter pergi meninggalkan ruangan itu.
Arga berpesan pada salah satu perawat untuk memindahkan Suci ke ruangan VVIP, sedangkan dirinya segera mengurus administrasi rawat inap Suci.
***
satu jam berlalu, Suci pun sudah di pindahkan ke ruangan rawat VVIP sesuai permintaan Arga. Namun sayangnya, mata indah itu tak kunjung terbuka.
Ummi dan Abi pun telah berada di sana sekitar tiga puluh menit yang lalu, dan Arga telah menceritakan semua kejadian yang menimpa Suci, tanpa ia kurangi sedikitpun. Agra menangis, memohon ampun pada ke dua mertuanya, penyesalahn yang sangat dalam tetap tak mampu mengembalikkan keadaan apapun. Ummi dan Abi hanya bisa menangis dan memaafkan Arga. Meski rasa kecewa pada Arga sangat dalam, tapi mereka sadar, mereka hanya manusia, tak berhak menghakimi apalagi menentukan hukuman.
"Ummi kecewa pada mu nak, selama ini ummi kira kalian baik-baik saja. Tapi ternyata Suci menyimpan lukanya sendiri".
"Ampuni aku ummi, abi. Aku memang egois, aku sangat bersalah". Arga terisak, ia menundukkan kepalanya tak berani menatap mata sendu mertuanya.
"Sudahlah nak, mungkin ini sudah jalannya. Kami memang kecewa pada mu, tapi kami juga tidak berhak menghakimi mu. Kami hanya menyesal tidak mengetahui jika Suci ternyata tengah mengandung".
Di sela percakapan itu, suara lirih Suci yang baru tersadar membuat semuanya berlari ke arah ranjang pasien dimana Suci terbaring.
Suci mengedarkan pandangannya pada seisi ruangan yang tampak asing baginya, bau obat yang tercium oleh indera penciumannya membuatnya tahu jika ia berada di salah satu ruangan rumah sakit, rasa nyeri di kepalanya membuat ia menyentuh kepala yang terbalut kain kassa itu, fikirannya berputar ulang pada kejadian sebelumnya, yang membuat ia terbaring di sana dengan rasa nyeri di sekujur tubuhnya.
"Nak, kamu sudah sadar". Ucap Ummi, wanita tua itu mengusap kepala Suci yang terbalut kain kassa.
"Ummi, Abi.." Lirihnya.
Ia menatap Arga sekilas, rasa nyeri di perutnya membuat Suci teringat satu hal, janinnya.
"Ummi, anak aku, bagaimana keadaan anak aku?"
Ummi diam menunduk, ia tak sanggup menyampaikan kabar menyakitkan itu.
"Abi, kenapa kalian diam saja. Bagaimana keadaan anak aku abi??"
__ADS_1
Suci sama sekali tak menatap Arga, namun Arga menghampirinya, menggenggam tangannya kemudian mengecupnya. "Maafkan aku sayang, anak kita..."
Suci sudah dapat menebak apa kalimat selanjutnya yang akan terlontar dari mulut Arga, permintaan maaf pria itu dapat menjelaskan semuanya.
Suci menepis tangan Arga, ia menangis tersedu. "Anak ku, anak ku".
"Sayang, maafkan aku.."
Suci bangun dan terduduk, ia menatap Arga dengan air mata terus berderai. "Pergiiii, pergi dari sini. Kamu manusia kejam, kamu membunuh anak ku. Jangan sentuh aku, kamu jahat". Teriaknya, Suci menangis histeris, mengingat perlakuan Arga padanya semakin membuat kemarahan menguasai hatinya.
Ummi memeluk Suci, menenangkan Suci dengan mengusap punggungnya. "Sabar nak, istighfar".
"Usir dia ummi, katakan padanya agar dia pergi. Dia jahat ummi dia kejam". Teriak Suci
Suci mengamuk histeris, dadanya sesak, hatinya sakit, ia kehilangan anak yang bahkan belum sempat menatap dunia, kandungannya baru genap satu bulan, dan harus gugur karena suaminya sendiri.
Suci semakin tak terkendali, darah bahkan naik dari selang infusnya, karena Suci berontak membuat jarum infusnya tertarik dan hampir patah.
"Nak Arga, sebaiknya nak Arga pulang dulu, biarkan Suci tenang dulu. Ini tidak mudah untuknya, tolong mengertilah". Abi bahkan terdengar memohon.
Arga mengengguk pasrah, air matanya semakin deras mengalir saat melihat Suci kembali terkulai lemas tak sadarkan diri, tapi ia pun tak mau semakin memperburuk keadaan Suci dengan memaksakan untuk tetap berada di sana.
Ummi menekan tombol darurat yang terdapat di atas ranjang. Agar dokter segera datang dan memeriksa keadaan Suci. Luka di kepalanya kembali merembes mengeluarkan darah, ummi menangis memeluk tubuh tak berdaya Suci. "Pergi nak Arga, ummi mohon".
"Iya ummi, aku pergi. Maaf, maafkan Arga ummi".
Arga melangkah keluar dengan hati yang kacau, langkahnya seolah tak menapak, dadanya terasa sesak dan sakit. Ia menyesal, sangat menyesal. Bahkan ia baru menyadari jika tubuh Suci tampak lebih kurus.
"Suami macam apa aku ini ya Allah, aku berdosa melukai istri ku sendiri". Lirihnya
Arga tak pulang, melainkan berdiam diri di mushola yang terdapat di area rumah sakit itu. Ia bersujud di sana, melupkan rasa penyesalannya. Meminta ampun pada sang pemberi takdir. Air mata mengiringi tiap sujudnya, ia benar-benar merasa takut saat ini. Melihat kemarahan Suci membuatnya merasa putus asa.
__ADS_1
Arga bahkan terlalu pengecut dengan tak menghubungi kedua orang tuanya, ia takut menerima kemarahan dan kekecewaan mereka.
GAESS,,,,KIFAH CINTA SAGARA & MAYRA UDAH MAK PUBLISH YAHH, JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LOVE NYA SUPAYA CERITA MEREKA JADI LIST FAVORIT DI PONSEL KALIAN...TENGKYUUHHHHH