PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
BERTAMU


__ADS_3

Matahari mulai meninggalkan peraduannya, berganti dengan rembulan yang juga mengajak bintang untuk memperindah langit malam itu. Seorang pria tampan bertubuh tinggi tampak tengah mempersiapkan dirinya untuk pergi ke suatu tempat. Entah apa yang dia fikirkan, hingga ia mempersiapkan dirinya se sempurna mungkin.


Wangi aroma maskulin tercium di seluruh ruangan kamarnya, dengan memakai celana hitam dan kemeja putih yang di padukan dengan jas hitam pria itu terlihat berkharisma. Rambutnya ia sisir rapi, jam tangan mewah berharga fantastis melingkar di pergelangan tangan kirinya. Memastikan ulang penampilannya di depan kaca cermin besar yang terletak di ruang gantinya, "Sempurna". Gumamnya.


Ia berfikir, jika penampilannya seperti ini, setidaknya tidak akan ada cela untuk gadis yang akan ia mintai menikah menolaknya. Padahal bukan keinginannya menikahi gadis itu, tapi entah kenapa bisa-bisanya ia ingin terlihat sempurna di mata gadis yang bahkan tidak akan mau menatapnya.


Yusuf Argantara, pria dengan segudang uang dan sejuta pesona itu terlihat sempurna dari sisi mana pun. Sikapnya yang dingin justru menambah nilai ketampanannya.


Dengan langkah yang khas, Arga menuruni anak tangga melewati ruang keluarga hendak menuju ke samping rumah yang menembus langsung area garasi koleksi mobil mewahnya. Namun suara tegas seseorang menghentikan langkahnya.


"Mau kemana kamu Arga??". Dari nada bicaranya, terlihat jelas jika kemarahan dan kekecewaan masih menguasai tuan Tara.


"Menyelesaikan masalah yang udah aku buat pa". Jawabnya dengan menoleh.


"Maksud kamu??". Kali ini sang mama yang ikut bertanya.


"Arga mau ke rumah gadis itu ma, mengabulkan permintaan mama untuk Arga bertanggung jawab".


Tuan Tara dan istrinya saling menatap dengan raut terkejut tercetak jelas. Ada sedikit senyuman tipis dari bibir kedua orang tuanya itu.


"Tunggu sebentar, mama ikut".


Arga terkejut, "Untuk apa ma? Biarkan Arga yang menyelesaikannya".


"Jangan mendebat mama mu, papa juga akan ikut". Kali ini tuan Tara pun beranjak, menyusul sang istri yang telah lebih dulu beranjak memasuki kamarnya.


Arga tak ada keberanian lagi untuk menolak, sudah cukup ia membuat kedua orang tuanya marah dan kecewa karena perbuatannya. Pria itu hanya bisa mendesah pasrah dengan mendudukan dirinya di sofa ruang keluarga yang televisinya masih tampak menyala.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜

__ADS_1


Tiga puluh menit menempuh perjalanan di ibu kota dengan mengikuti panduan dari salah satu aplikasi di ponselnya, kini Arga dan orang tuanya sampai di depan sebuah rumah sederhana berpagar hitam yang tampak sudah usang terkena sinar matahari dan hujan.


Rumah bercat putih itu tampak sepi, namun lampu-lampu di dalamnya masih menyala, menandakan jika penghuninya masih terjaga.


Arga menghentikan langkahnya, begitu pun dengan ke dua orang tuanya yang juga ikut menghentikan langkah. Tersirat keraguan dari mata tajam Arga, rasa percaya dirinya mendadak anjlok ketika bayangan kebencian terpancar jelas dari gadis yang malam itu di tidurinya.


"Kenapa nak?". Nyonya Tara yang menyadari keraguan sang putra bertanya.


"Aku cuma ragu aja dia mau terima aku ma".


"Jangan menyerah sebelum mencobanya, perkara dia mau terima atau tidak, itu urusan nanti. Setidaknya kamu bisa meminta maaf secara langsung padanya juga kedua orang tuanya. Kesalahan kamu bukan hanya satu, tapi menilai kehormatan gadis itu dengan uang juga pasti menyakitinya. Mama tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tuanya".


Tuan Tara mengusap pundak istrinya, menghela nafas panjang kemudian mengajak mereka untuk melanjutkan niatnya. "Sudah lah, sebaiknya kita segera ke sana".


Arga terdiam sejenak, kemudian mengikuti langkah kedua orang tuanya yang lebih dulu berjalan menuju ke teras rumah sederhana itu.


"Assalamualaikum". Tuan Tara mengetuk pintu bercat putih itu, berkali-kali menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan hatinya yang juga terasa resah.


"Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam, sebentar". Jawaban dari dalam sana membuat suasana ketiganya menegang.


Sesaat kemudian handle pintu terlihat bergerak, pintu terbuka perlahan, sosok wanita paruh baya berjilbab coklat muncul dari baliknya. "Maaf, cari siapa yah??". Tanyanya dengan sopan.


"Apa benar ini rumah nak Suci??".


"Benar pak, mari silahkan masuk".


Tuan Tara mengangguk, menoleh sekilas pada Arga dan istrinya agar mereka masuk.

__ADS_1


"Sebentar pak, bu, saya panggilkan suami saya dan Suci, permisi".


"Silahkan Bu, maaf kami mengganggu waktu istirahatnya".


"Ah tidak apa Bu, permisi sebentar". Umi Fatimah menghilang di balik pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang televisi yang dari sana terlihat jika televisi itu masih menyala. Menandakan sang empunya rumah masih terjaga dan berkumpul di sana.


Tak menunggu lama, terlihat Abi Abdullah menghampiri tamunya, di belakangnya Suci tampak berjalan mengikuti sang Abi.


Tuan Tara, nyonya Tara dan Arga kompak berdiri, menyambut kedatangan sang tuan rumah dengan segan. Baru kali ini mereka merasakan se segan itu menghadapi seseorang. Rasanya berbeda jauh dengan menghadapi puluhan klien yang baru mereka kenali.


"Maaf pak, kedatangan kami mengganggu". Ucap tuan Tara.


"Tidak-tidak, mari silahkan duduk".


Suci yang sedari tadi menunduk mulai mengangkat wajahnya saat nyonya Tara menyapanya.


"Ini Suci??".


"Betul Bu, putri kami". Jawab Abi. "Suci, kemarilah, apakah kalian saling mengenal?". Abi yang di landa rasa penasaran bertanya. Dari penampilannya saja sudah dapat di tebak jika ke tiga orang yang tengah bertamu ke rumahnya itu bukanlah orang sederhana dan sembarangan, dari mana Suci mengenali mereka??


Suci membulatkan matanya, sorot matanya menajam menatap Arga. Tubuhnya mulai gemetar, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, air mata mulai memupuk di kelopak matanya. Gadis itu mundur satu langkah dengan jemari yang saling meremas, bayangan malam itu membuatnya merasa takut dan tertekan. "To..tolong usir dia Abi, usir dia". Tunjuknya pada Arga.


Semua tersentak kaget, kini Abi dan umi dapat menebak siapa mereka sebenarnya.


"Abi, kenapa Abi diam saja. Usir dia Abi". Suci mulai terisak, hendak melangkah pergi namun nyonya Tara meraih tangannya dan memeluk gadis yang tengah ketakutan itu.


Nyonya Tara dapat merasakan, betapa tersiksanya gadis itu. Wanita paruh baya itu pun menangis, mengusap punggung suci berkali-kali agar gadis itu bisa tenang dan dapat di ajak berkomunikasi. "Maafkan putra Tante nak, maafkan dia". Hanya kata itu yang bisa nyonya Tara utarakan, lidahnya seakan kelu melihat kehancuran gadis dalam pelukannya itu.


"Dia jahat". Lirih Suci, sedetik kemudian tubuhnya ambruk dalam dekapan nyonya Tara, Suci tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2