
Suci memakai kembali pakaian yang semula ia pakai, meski nyonya Tara memberikannya satu set gamis beserta jilbabnya, Suci dengan halus menolaknya. Suci benar-benar tidak ingin terkait apapun dengan keluarga Arga, hal sekecil apapun berusaha Suci tolak, ia tak mau lagi berurusan dengan Arga, yang hanya akan mengingatkannya kembali pada masa-masa hancurnya.
Biarlah ia menyembuhkan luka fisik dan psikisnya dengan caranya sendiri. Menjauh sejauh-jauhnya dari Arga dan hal apapun yang menyangkut dirinya. Jika ia punya cukup banyak uang, mungkin ia akan memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya walau harus melanggar kontrak dengan pembayaran denda yang sangat besar. Karena di tempat itulah semuanya di mulai.
Suci berjalan cukup jauh dari pintu utama rumah nyonya Tara ke gerbang tinggi yang di jaga dua satpam itu, meski rasa pusing masih menderanya, namun ia paksakan pergi.
Sementara itu, Arga berdiri di balkon kamarnya. Matanya yang tajam menatap sendu pada perempuan lemah yang tengah berjalan di halaman rumahnya menuju ke gerbang keluar. Berkali-kali Arga menghela nafas resah, namun kegelisahan dalam dirinya tak juga hilang. Bukan hanya Suci yang merasa jijik pada dirinya sendiri, Arga pun merasakan hal yang sama. Ia merasa menjadi pria paling bejat di dunia, menodai seorang gadis tapi tak bisa bertanggung jawab. Yang lebih menyakitkan lagi, ia melihat sang mama meneteskan air mata kecewa karena dirinya.
Arga merogoh ponsel dari saku celananya, mencari kontak Vino kemudian menghubungi asistennya itu. "Vin, suruh orang buat awasi perempuan itu. Dia keras kepala, dia menolak semua kebaikan nyokap gue!".
Tanpa menunggu jawaban dari orang di seberang sana, Arga menekan tombol merah di layar ponselnya kemudian memasukan benda pipih itu kembali ke dalam saku celananya. Matanya mengedar, Suci sudah tak nampak di area rumahnya, artinya perempuan itu sudah keluar gerbang.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Satu hari berlalu, sore itu hujan kembali turun mengguyur bumi meski tak sederas kemarin, namun airnya cukup membuat tanah bumi basah.
Suci yang masih merasa pusing memilih meringkuk di bawah selimut sederhananya. Beberapa kali ummi Fatimah mengetuk pintu kamar dan mengajak Suci makan siang, namun Suci menolaknya dengan alasan masih tak enak badan dan tak bernafsu makan.
Ummi Fatimah kembali mengetuk pintu kamar Suci, mengatakan pada sang putri jika ada seorang teman yang ingin menemuinya.
"Siapa ummi??". Tanya Suci.
__ADS_1
"Tari katanya nak, teman kamu kerja". Jawab ummi, raut sendu yang terpancar dari mata sang putri membuat ummi merasa sedih. "Apa mau ummi bilang kalau kamu sedang tidur?". Tawar ummi.
Suci menghembuskan nafas pelan, kemudian berkata, "Tidak apa ummi, biarkan Tari masuk."
"Baiklah nak, akan ummi suruh kesini langsung, nemenin kamu".
Suci menganggukan kepalanya, ummi tersenyum lembut kemudian mengusap rambut panjang Suci yang tergerai. "Ummi keluar ya nak".
Suci kembali mengangguk, membiarkan ummi keluar kamar untuk memanggil Tari.
"Assalamualaikum Ci".
"Gak papa lah Ci, kita kan sesama perempuan".
Tari duduk di sisi ranjang, berhadapan dengan Suci yang wajahnya tampak pucat. "Kamu masih sakit Ci? Maaf yah, kemarin aku gak bisa ngejar kamu. Pak Vino udah ngangkat kamu duluan pas kamu pingsan".
"Pak Vino? Jadi yang mengangkat aku itu pak Vino?". Suci terbelalak kaget, satu pria lagi yang sudah menyentuhnya. "Kenapa mereka memperlakukan aku semaunya, tanpa menghargai aku sedikitpun." Lirihnya, satu tetes air mata berhasil membasahi pipi.
"Ci, apa ada yang mau kamu ceritain ke aku? Berbagilah dengan ku. Setidaknya beban kamu akan sedikit berkurang". Tari meraih tangan Suci yang sedikit hangat, menggenggam jemarinya dengan lembut. "Meski pun kita belum lama bersahabat, tapi aku ingin berguna untukmu. Setidaknya aku bisa memberikan pundak aku untuk kamu bersandar saat kesulitan dan kesedihan menghampiri mu".
Suci menunduk, tetesan air matanya semakin deras. Di saat ia mulai hilang kepercayaan diri, di saat ia mulai tak menyayangi dirinya, di saat ia mulai meragukan dirinya, ternyata masih ada orang yang menyayanginya dan mendukungnya. Itu salah satu bukti kasih sayang Allah padanya tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Aku kotor Tar, aku ternoda". Ucapnya, tak dapat lagi ia menahan tangisnya, ia meraung sejadi-jadinya untuk mengeluarkan beban dahsyat yang selama ini mengungkungnya.
Bukan tak percaya pada ummi dan abinya, tapi Suci lebih leluasa mengungkapkan perasaan sakitnya pada Tari karena ia tak mau menambah beban fikiran ke dua orang tuanya yang sudah tak muda lagi.
Tari terpaku, masih mencerna kalimat singkat yang di utarakan Suci, tapi sekuat apa pun ia berusaha mengerti, nyatanya ia tak menemukan jawabannya. Yang Tari bisa lakukan saat ini hanya memeluk suci, mengusap punggungnya untuk menenangkan sahabatnya.
Lama ia menunggu Suci tenang, Tari tak bertanya, Tari membiarkan Suci yang menjelaskan semuanya.
Setelah cukup tenang, Suci menarik diri dari pelukan Tati, ia masih menundukkan kepalanya. "Kamu benar Tar, orang yang ada di gambar berita itu adalah aku. Maafkan aku jika sebelumnya aku berbohong, aku hanya malu Tar. Aku ingin menutupi semuanya sendiri, tapi ternyata aku tidak sanggup Tar, aku tertekan, aku stres, aku jijik sama diri aku sendiri. Pak Arga memperkosa aku Tar, dia bajingan, dia pria bejat. Dia menghancurkan aku. Aku merasa kotor Tar, aku merasa tidak pantas dekat dengan siapa pun, aku minder, aku tidak sanggup melihat tatapan jijik orang-orang padaku jika mereka tahu yang sebenarnya. Karena di posisi ku sekarang, orang lain tidak akan menyalahkan Arga, akulah yang akan mereka salahkan".
Suci kembali meraung, meluapkan perasaan sakit yang beberapa hari ini ia pendam.
"Apa kesalahan ku di masa lalu Tar? Hingga hal buruk ini menimpa ku? Aku beribadah taat, aku menutup aurat ku, tapi Allah memberikan aku ujian seburuk ini".
"Istighfar Ci istighfar, tidak seharusnya kamu meragukan takdir yang Allah berikan pada mu. Suci, kamu sombong dengan merasa kamu taat beribadah dan menutup aurat mu, itu adalah kewajiban mu, tidak sepantasnya kamu mengatasnamakan semua itu dengan musibah yang kamu alami. Ingatlah, Allah memberikan jalan hidup seseorang berbeda-beda, sudah sepaket dengan cobaan, musibah, juga kebahagiaan. Kita pasti akan mengalami hal itu, tapi dengan cara yang berbeda Ci. Jika kamu bisa ikhlas, mengambil hal baik dari hal buruk yang kamu alami, maka kamu akan mendapatkan kasih sayang-Nya Ci."
"Apa masih ada hal baik dari keburukan yang menimpa ku Tar?".
"Ada Ci, pasti ada. Ikhlaskan lah, supaya beban kamu tidak terasa berat. Pasrahkan semuanya pada yang memberi kehidupan, kita ikuti alurnya, jangan menentangnya. Karena menentang dan melawan arusnya justru akan menyakiti kamu".
"Astaghfirullah ya Allah, ampuni aku".
__ADS_1