
“Maaf kak, aku harus berhenti bekerja, Aku gak bisa bilang alasannya apa, tapi aku benar-benar minta maaf kalau aku terkesan seperti menyia-nyiakan kepercayaan yang kak Nata kasih ke aku”.
Mendapati keterdiaman Nata dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan membuat Suci menunduk dengan gugup, jari jemari tangan Suci saling bertaut dan meremas dengan pelan. “Maafkan aku kak..”
Nata menghela nafas panjang, ia pun juga tak bisa memaksakan Suci untuk tetap di sana. “Aku gak bisa maksa kamu Ci, tapi aku berharap kamu akan berubah pikiran. Pintu café ini akan selalu terbuka untuk kamu, jika suatu saat nanti kamu membutuhkan pekerjaan lagi atau membutuhkan aku, datanglah kesini”.
“Terima kasih kak, aku akan selalu ingat kebaikan kakak. Aku sangat berhutang banyak sama kak Nata”.
“Kalau kamu anggap itu hutang, bayarlah dengan kembali lagi kesini suatu saat nanti”. Kata Nata, tangannya ia simpan di atas meja, sedikit mencondongkan dirinya untuk mentap Suci lebih dekat lagi. “Aku harap kamu bisa luangkan waktu mu untuk makan siang dengan ku sebagai tanda terima kasih kamu ke aku Ci”.
Suci terkekeh, “Kamu terkesan seperti tidak ikhlas menolongku kak”.
Nata tertawa, membuat Suci juga tertawa meski tak selepas Nata. “Anggaplah seperti itu Ci”.
“Ya ya baiklah, aku akan menebusnya dengan makan siang dengan mu. Tapi aku mau Tari juga ikut. Supaya gak menimbulkan fitnah dan menghindari kekecewaan para penggemarmu kak”.
“Ok, itu bisa di atur. Tari bisa ikut gabung”.
__ADS_1
“Aku akan bantu-bantu disini dulu sebelum jam makan siang tiba. Apa pak manager ini mengijinkan jika saya membantu sebentar disini?”
Nata tertawa tanpa suara kemudian mengangguk. “Baiklah, apapun untukmu tuan putri.”
Setelah berpamitan pada Nata, Suci menemui teman-temannya di bawah, kemudian mulai membantu pekerjaan di sana hingga jam makan siang tiba.
Suci berpamitan pada mereka dan mengatakan jika Suci tak akan bekerja lagi. Meski sempat ada drama kesedihan, namun semuanya melepaskan Suci dengan baik. Mereka mengerti dan tak menanyakan alasan apapun kenapa Suci berhenti bekerja.
Dan disinilah mereka sekarang, di salah satu resto mewah yang terletak di tengah kota.
“Makanlah, jangan sungkan. Anggap saja ini sebagai tanda perpisahan dari ku”. Ucap Nata
“Kak Nata gak harus seperti ini, aku yang meminta keluar tapi kak Nata yang malah mengeluarkan uang. Harusnya aku yang membayar ini semua.”
“Jangan sungkan Suci, ini gak seberapa”.
“Iya Ci, biarkan saja dia yang bayar. Dia kan banyak duitnya”. Tari menimpali dengan mulut penuh makanan.
__ADS_1
“Pelan-pelan Tar, makanannya masih banyak. Habiskan, kalau perlu nanti aku pesan lagi”. Ucap Nata
Tari mengangguk, “Aku ke toilet bentar yah, mendadak kebelet”.
Nata dan Suci kompak mengangguk, kemudian kembali melanjutkan menyantap hidangan di atas meja.
Di pintu masuk resto yang terbuat dari kaca itu, seorang pria yang baru saja tiba mengepalkan tangannya dengan mata memicing tajam, langkahnya terhenti saat menatap tawa lepas seorang perempuan yang tengah asik menyantap makan siang dengan seorang pria.
“Tuan, Tuan Arson sudah menunggu anda di lantai dua”. Ucap Vino, ia berusaha mengalihkan tatapan sang bos dari perempuan cantik yang tengah asik berbincang dengan seorang pria.
“Naiklah lebih dulu, aku akan menyapa istriku”.
“Tapi tuan…”
Arga menoleh pada Vino dan menatapnya dengan tajam, tatapan mematikan yang menyiratkan jika Arga tak ingin menerima menolakan dari perintahnya.
“Baik tuan, saya ke atas lebih dulu”.
__ADS_1
Dengan langkah lebar, Arga menuju salah satu meja dimana Suci dan Nata tengah menikmati makan siang dengan tawa dan perbincangan yang terlihat asik.