
Langit kota ibu kota siang itu membiru cerah, tak ada awan putih yang menggantung, hanya lautan langit biru yang memanjakan mata. Berbanding terbalik dengan hati seorang pria yang tampak menggelap, kekecewaan kedua orang tuanya menjadi tamparan keras untuknya.
Keadaan perusahannya mendadak kritis dengan adanya scandal yang telah ia perbuat, sebagian pemilik saham tak lagi menaruh kepercayaan padanya hingga tak sedikit juga yang menarik sahamnya secara mendadak.
Pria itu tak terlalu memikirkan nasib dirinya, yang menjadi beban pikulannya adalah nasib ribuan karyawan yang tengah berada di ujung tanduk.
"Vin, apa yang harus saya lakukan?". Pria berwajah dingin itu bertanya pada sang asisten yang sedari kejadian itu terungkap tak sedikitpun meninggalkannya.
"Apa saya boleh memberi saran tuan muda??".
"Katakanlah". Suaranya yang lirih menandakan jika pria itu tengah berputus asa.
"Nikahilah gadis itu tuan". Vino menghentikan ucapannya saat Arga menatapnya dengan tajam, "Apa tuan masih ingin mendengar saran saya?".
Arga berdecak, "Ck, ya. Lanjutkan!!".
"Jika tuan muda menikahi gadis itu, kita bisa umumkan ke media jika wanita yang tuan bawa dalam foto itu adalah istri sah tuan. Dengan begitu, mereka akan bungkam tuan".
__ADS_1
Arga memijat kepalanya yang terasa berat, memang ada dua keuntungan yang bisa Arga dapatkan jika ia menikahi gadis itu, ia bisa mendapatkan maaf dari orang tuanya juga gosip yang merebak akan terhenti. Namun ia sama sekali belum siap untuk menikah, meski ke dua orang tuanya mengajarkan rasa tanggung jawab atas segala perbuatan yang di lakukannya, tapi menikah bukanlah perkara mudah baginya.
"Bawa aku ke rumahnya nanti malam".
"Baik tuan muda, apa tidak sebaiknya anda manggilnya dulu? Gadis itu masuk hari ini".
"Tidak perlu, lakukan saja apa yang tadi aku perintahkan"
"Baik tuan, saya permisi untuk menyiapkan ruang meeting".
Arga mengangguk, membiarkan Vino meninggalkannya sendiri.
Jam makan siang telah tiba, namun wanita berjilbab hitam itu masih duduk sendirian di lokernya. Enggan untuk sekedar beranjak saja, apaplagi untuk makan.
"Ci, kamu gak makan siang? Nanti jamnya keburu habis loh?". Tari, teman seprofesinya bertanya. Tari satu-satunya gadis yang berteman cukup dekat dengannya.
"Enggak Tar, aku lagi gak enak badan. Kamu makan duluan aja".
__ADS_1
"Serius?? Atau mau aku mintain obat sama pak Rudi??".
"Gak usah Tar, nanti dia ngomel. Aku cuma butuh istirahat aja sebentar. Kamu makan gih, nanti keburu masuk lagi".
"Beneran??".
"Beneran sayang, gih makan".
Tari tertawa, "Dih geli amat Ci, yaudah, aku makan dulu yah".
Suci mengangguk, tersenyum mengiringi langkah sahabatnya keluar dari ruangan itu. Sesaat kemudian senyumnya memudar, keringat dingin mulai muncul di sekitar dahinya. Tak mudah baginya menapaki tempat kejadian naas yang dua hari lalu membuatnya kehilangan kehormatannya. Jika saja tak terancam denda finalty, ia tak akan sudi lagi menginjakan kakinya di tempat itu. Selain karena benci ia juga masih merasa takut jika bayangan kejadian itu kembali teringat.
Suci memutuskan untuk pergi ke mushola, melaksanakan ibadah empat rakaatnya seraya mengumpulkan kekuatan dan kesabaran dalam dirinya.
Dalam tangis ia berdoa, mengangkat ke dua tangannya dan bersimpuh di hadapan sang pemberi hidup.
"Ya Allah, kuatkan aku. Aku harus berjuang melanjutkan hidup meski rasanya enggan. Bukan hal yang mudah bagiku untuk melupakan kejadian buruk malam itu. Selamanya akan membekas, dan aku akan selalu ingat jika aku adalah seorang perempuan yang kotor. Ampuni hamba ya Allah, hamba berusaha ikhlas namun rasanya sangat sulit, ujian yang Kau berikan sangat berat, hingga aku ingin sekali mengakhiri hidupku jika saja aku tak mempunyai iman meski sekarang keimanan ku di pertanyakan."
__ADS_1
Fix ya gaes, mas Yusuf nya emak ganti..tapi emak gak membatasi imajinasi kalian tentang sosok Yusuf yah, ini hanya sekedar visual tokoh saja. terserah kalian mau bayangin sosok mas Yusuf itu seperti apa..yang penting mah tetep like sama komentarnya di ramein..hahaha