PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
MERINDU


__ADS_3

Pagi harinya, Saga terbangun lebih dulu. Tubuhnya seakan kaku tidak terbiasa tidur di atas sofa. Ruangan VVIP itu terdapat dua sofa, Arga dan Abi tidur di atas sofa, sedangkan Suci memilih tidur di atas kursi dekat sang ummi.


Abi membuka matanya saat terdengar Arga tengah berbincang dengan seseorang di ponselnya, Abi segera bangun dan mengerjakan ibadah subuhnya.


Saat Abi kembali dari kamar mandi, Arga sudah kembali duduk di sofa.


"Sudah subuh nak??". Tanya Abi


"Alhamdulillah sudah Abi, aku bangunin Suci dulu ya Abi, aku harus ke Surabaya ada masalah di proyek. Apa tidak apa-apa kalau aku tinggal?".


Abi tersenyum, "Tidak apa nak, pergilah, mereka pasti membutuhkan mu, Ummi mu juga sudah mendingan".


Arga mengangguk, membiarkan Abi ibadah subuh sedangkan ia menghampiri istrinya yang masih terlelap.


Arga mengusap kening Suci dengan ibu jarinya, mengecup kening itu sekilas sebelum akhirnya ia bangunkan Suci. "Sayang, hey. Bangun udah subuh." Bisiknya


Suci mengerjap, ia tersenyum malu saat mendapati Arga sangat dekat dengan wajahnya.


"Iii ileran tuh, ayok bangun". Arga mengusap pipi Suci, perempuan itu tampak malu-malu dan menutup wajahnya.


"Mana ada ileran, boong". Protesnya


Arga tertawa tanpa suara, "Cepetan bangun. Subuh dulu".


Suci mengangguk, ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beruntungnya semalam Arga sempat membawakan koper Suci, ada peralatan mandi juga yang ia bawa liburan kemarin.


Selesai membersihkan diri, Suci segera melaksanakan ibadah subuhnya.


Abi tengah membantu ummi untuk melakukan tayamum karena kondisi ummi belum bisa berdiri dengan benar, kemudian sholat di ranjangnya. Sedangkan Arga, ia terlihat sibuk dengan ponselnya dan sesekali menerima panggilan dari seseorang.


Suci menghampiri Arga di sofa, pria itu terlihat cemas. "Ada apa mas??"


"Sayang, aku harus ke Surabaya, proyek di sana bermasalah dan memakan korban. Aku harus memastikan semuanya".


Suci terkejut, baru saja ia bahagia dan sekarang harus kembali terpisah. "Berapa lama mas?". Lirih Suci

__ADS_1


"Aku gak tahu pasti sayang, tapi aku benar-benar harus pergi".


"Biarkan nak Arga pergi nak, suami mu mempunyai tanggung jawab besar di sana, doakan saja semoga semuanya baik-baik saja". Abi yang melihat raut sendu sang putri menimpali.


"Iya Abi". Suci menatap Arga, pria itu juga terlihat tidak rela meninggalkan istrinya, tapi ia harus benar-benar pergi. "Mas hati-hati yah di sana. Selalu kabari aku".


Suci menunduk, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca dari suaminya.


Arga menghampiri Suci, berjongkok di depan perempuan itu seraya menggenggam kedua tangannya. "Aku akan segera kembali jika masalahnya telah selesai, Ummi sangat membutuhkan mu di sini. Maaf aku tidak bisa menemani mu".


Suci tak dapat lagi menahan air matanya, ia mengangguk meski berat. Suci menangkup ke dua pipi suaminya. "Cepat pulang, aku menunggu mu".


Arga tersenyum dan meraih tangan Suci yang berada di pipinya, ia kecup berkali-kali hingga Suci tersenyum meski pipinya basah.


"Gitu dong senyum, masa suaminya mau pergi malah di antar sama tangisan. Aku galau dong nanti". Arga mengedipkan sebelah matanya, menggoda Suci agar perempuan itu tertawa.


Abi dan ummi bahagia melihat kedekatan Suci dan Arga. Arga memang lelaki yang baik meski awalnya ia melakukan kesalahan besar, tapi ia dapat membuktikan jika ia bertanggung jawab atas segala perbuatannya .


Setelah bersiap, Arga berpamitan pada ummi dan Abi terlebih dahulu. "Maaf ya ummi, Arga gak bisa nemenin ummi."


"Tak apa nak, pergilah. Di sana pasti sangat membutuhkan mu, ummi doakan, semoga masalahnya lekas terselelsaikan".


Arga menyalami ummi dan Abi bergantian, kemudian menghampiri Suci yang masih terisak. "Jangan nangis dong sayang, aku keinget kamu terus nanti".


"Aku gak nangis mas, cuma perih mata aja".


Arga terkekeh, ia menarik Suci dan membawanya ke dalam dekapannya. Ia tak perduli dengan keberadaan ummi dan Abi yang mesem-mesem melihat kemesraan mereka.


Suci melingkarkan tangannya di pinggang Arga, memeluk pria itu dengan erat. "Cepat pulang ya mas".


"Iya sayang, doakan aku yah". Arga mengecup puncak kepala Suci berkali-kali, kemudian melerai pelukannya dan mengusap pipi basah istrinya. "Tunggu aku pulang".


Suci mengangguk, ia hendak mengantar Arga ke parkiran namun Arga melarangnya.


"Gak usah antar aku, kamu masuk aja. Istirahat, dan jaga ummi".

__ADS_1


Suci kembali mengangguk meski berat, ia meraih tangan Arga dan menyalaminya. "Hati-hati ya mas, kabarin aku kalau udah nyampe sana".


"Iya sayang, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam".


Suci masih berdiri di ambang pintu, menatap kepergian suaminya yang nampak sesekali kembali menoleh padanya, memberikan senyuman dan lambaian tangan. Setelah punggung lebar pria itu menghilang di antara belokan lorong, barulah Suci kembali memasuki ruangan rawat inap ummi.


"Berat banget nak lepasin nak Arga". Goda Abi. Ummi pun nampak tersenyum.


"Berat lah Abi, Namanya juga sama suami".


"Dulu kamu nolak-nolak, sekarang nempel terus".


Suci menunduk malu, "Ih Abi, itu kan dulu".


"Sudah Abi, jangan godain putri kita terus." Ummi menoleh pada Suci, "Lain dulu lain sekarang ya nak".


"Ihhh ummi". Rengek Suci.


Tak lama dari kepergian Arga, tuan Tara dan nyonya Tara datang berkunjung. Mereka membawa berbagai macam buah dan bingkisan lainnya.


"Kenapa repot-repot besan". Kata abi, ia mengalami tuan Tara dan memeluknya sejenak.


Nyonya Tara menyalami ummi, kemudian beralih pada Suci dan memeluk menantu kesayangannya itu.


Suci pun menyalami sang papa mertua, kemudian kembali pada ummi dan nyonya Tara yang tengah berbincang.


"Mama tadi ketemu suami kamu di depan, katanya dia harus ke Surabaya??".


"Iya ma, mendadak. Katanya ada masalah di proyek". Suci menjawab sendu, baru beberapa menit saja di tinggal Arga, ia sudah kembali merindukan pria itu, rindu senyumnya, rindu suaranya, rindu segala yang ada pada diri pria itu.


"Jangan sedih nak, iringi langkahnya dengan doa mu. Doa seorang istri sama mustajabnya dengan doa seorang ibu. Agar semuanya cepat selesai dan Arga bisa pulang secepatnya". Mama Tara tahu betul jika hubungan Suci dan Arga sedang hangat-hangatnya, dan sekarang mereka harus berpisah karena suatu pekerjaan.


"Iya ma, semoga Mas Arga cepat pulang". Lirihnya. Dari suaranya saja, sudah terlihat jika Suci benar-benar merasa kehilangan sosok berparas tampan itu meski kepergiannya baru beberapa menit saja.

__ADS_1


"Doa ku selalu menyertai mu mas, nama mu selalu ku sebut dalam setiap senandung doa ku, dalam sujud ku dan dalam setiap keadaan apapun". Batin Suci.


Hari-harinya pasti akan terasa hampa tanpa kehadiran pria itu di sisinya, namun tak apa, ia akan menjalaninya dengan kuat, karena di setiap perpisahan, akan ada kerinduan yang akan terasa indah apabila pertemuan tiba.


__ADS_2