
Di ruangan yang desain interiornya unik dan modern secara bersamaan, seorang pria tampak mengeram kesal.
Rahangnya mengeras menahan amarah, matanya memerah nyalang. Setelah beberapa hari yang lalu ia berhasil meredam berita scandalnya di surat kabar dan majalah, kini scandal itu kembali mencuat di sosial media.
Berita itu bergulir bak bola api yang siap membakarnya, lebih berat dari pada menyebar di surat kabar, karena di sosial media semua orang bebas berkomentar, jari jemari mereka bahkan terkadang bisa membunuh karakter dan raga seseorang.
Bukan hanya dirinya yang dia fikirkan, melainkan gadis malang tak bersalah yang semalam tadi menolaknya untuk ia nikahi. Arga sudah kebal dengan berita-berita miring tentangnya, bahkan ia pernah menjadi bulan-bulanan para pemburu berita dengan menyebarkan berita jika dia penyuka sesama jenis karena tak pernah mempublish hubungannya dengan seorang wanita.
Berkecimpung di dunia bisnis membuatnya kebal akan segala sesuatu yang menjatuhkannya, dunia itu memaksanya untuk menjadi seorang pria tangguh yang tak goyah di terpa badai. Tapi kali ini lain cerita lain kisah lain masalah, ada hati yang lain yang terseret di dalamnya, dan Arga yakin jika gadis itu tak terbiasa dengan dunia kejam para pemburu berita yang akan membunuh karakternya dan bahkan mempertanyakan tampilan agamisnya.
Arga menekan intercom di meja sebelah kanannya, menghubungi Vino agar pria itu kembali berjuang untuk meredam berita yang mengguncang dunia perbisnisan itu.
"Ke ruangan ku sekarang". Perintahnya.
Tak berapa lama, derap langkah terdengar bersamaan dengan ketukan di pintu ruangannya.
__ADS_1
"Masuk".
Vino berjalan tergesa, ia sudah mengetahui berita itu, dan wajah memerah sang bos membuktikan jika pria itu pun telah mengetahuinya juga.
"Kenapa bisa gini sih Vin??".
"Maafkan saya pak, saya kira berita itu tidak akan Up lagi".
"Bereskan semuanya, dan lindungi gadis itu. Di situ memang tidak terlihat jika itu dia, tapi kita harus sedia payung sebelum hujan. Aku yakin dia tidak terbiasa dengan berita-berita di luaran sana."
"Vino, kamu mendengarkan ku bukan?!!".
Vino terkesiap, pria itu kembali menetralkan ekspresi terkejutnya. "Tentu Tuan muda, akan saya urus".
"Ok, aku mau siang ini semuanya sudah bersih".
__ADS_1
Baru saja Vino hendak membuka mulutnya untuk menjawab perintah Arga, Juli, sekretaris Arga menerobos masuk.
"Maafkan saya jika saya tidak sopan pak, tapi di luar banyak wartawan yang menunggu bapak."
Arga membulatkan matanya, tidak menyangka jika para pemburu berita itu begitu cepat bertindak.
Arga mengeram frustasi, suara ponsel juga telpon kantornya berdering saling bersahutan, bisa Arga tebak jika itu telpon dari para pemegang saham yang kembali di buat panas oleh berita yang kembali menyebar.
Melihat keterdiaman Arga, Vino mengerti. Pria itu pun melangkah keluar dari ruangan sang bos setelah berpamitan terlebih dahulu. Vino harus melindungi Arga, sama halnya seperti Arga yang melindunginya juga memberinya kehidupan yang baru, karena bagi Vino, Arga bukan hanya sekedar bos, tapi juga penolong, kakak, sekaligus panutannya.
Vino memecah kerumunan para wartawan, mencoba bersikap tenang berdiri di antara banyaknya sorot kamera yang berkelip-kelip mengambil gambarnya.
"Bisa kita bertemu dengan tuan Arga pak??". Tanya salah satu wartawan.
"Maaf, beliau sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu. Sebaiknya kalian keluar dari sini dengan tertib, jika tidak saya akan memerintahkan petugas keamanan untuk membuat kalian pergi. Dan satu hal lagi, jika gambar saya tersebar dalam media apapun itu, saya akan menuntut kalian."
__ADS_1
Kalimat tegas itu cukup membuat wartawan bungkam dan membubarkan diri. Tapi bukan pemburu namanya jika mereka menyerah begitu saja. Mereka memang membubarkan diri, namun mereka bersembunyi untuk menunggu Arga keluar.