PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
PENASARAN


__ADS_3

Selepas makan malam, Suci dan Arga kembali ke kamar mereka. Berbaring kembali di atas ranjang dengan menyalakan televisi untuk mengusir bosan. Tertidur sejenak sebelum mereka makan malam membuat mereka susah untuk kembali memejamkan mata.


Suci tampak tengah berbaring dengan memeluk bantal guling, miring menghadap Arga yang masih duduk berselonjor dengan bersandar pada sandaran ranjang. Taka da perbincangan di antara mereka, mata keduanya fokus pada televise yang tengah menayangkan salah satu sinetron unggulan favorit para emak.


Mata memang fokus pada layar menyala itu, tapi hati dan fikiran mereka melanglang buana entah kemana. Sibuk dengan fikiran mereka masing-masing yang sebenarnya terfokus pada satu orang, Clara.


Suci tetap diam, karena ia ingin tahu sejauh mana Arga bersikap jujur padanya. Sedangkan Arga masih ragu untuk berbicara jujur pada istrinya, ia ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu pada Clara. Sampai akhirnya, Arga mendapati Suci sudah tertidur pulas dengan memeluk guling.


Arga tatap wajah Syahdu bermata teduh itu, tampak damai dalam tidurnya meski gurat kecemasan tergambar jelas pada alisnya yang sedikit bertaut.


Foto itu benar-benar mengganggu Suci, dalam tidurnya dan dalam mimpinya. Takut, Suci takut dengan hubungan rumah tangganya. Tapi di tengah ketakutan itu Suci tidak akan membiarkan rumah tangganya hancur untuk yang kedua kalinya, apapun yang terjadi, Suci akan mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya, ia tak akan mengalah kecuali Arga memang tak mau Suci berada di sampingnya.


“Maafka aku sayang, aku menyembunyikan hal ini darimu, aku hanya perlu memastikan sesuatu. Jangan ragukan cintaku, aku sangat mencintai kamu, hatiku hanya milikmu, dan akan selalu jadi milikmu, aku harap kamu tidak salah faham”. Arga mengusap puncak kepala Suci dengan lembut, mengecup keningnya sekilas, kemudian ia pun ikut berbaring dan memeluk Suci dengan erat setelah guling pembatas yang di peluk Suci Arga singkirkan.


Suara adzan subuh sayup-sayup terdengar, membuat seorang perempuan cantik yang tengah lelap bergelung selimut tebal itu menggeliat dan mengucek sebelah matanya. Perlahan ia menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya, ia menoleh sekilas pada pria yang masih tampak terlelap menghadap ke arahnya, ia usap sekilas rambut hitam pria itu, kemudian beranjak dari ranjang untuk membersihkan dirinya dan melaksanakan ibadah subuhnya.


Setelah menyelesaikan kewajibannya pada sang khaliq, Suci mulai menyiapkan keperluan Arga untuk bekerja, dari mulai pakaian, sepatu dan jam tangan yang tak pernah ketinggalan Arga kenakan. Suci memastikan semuanya sempurna, ia melangkah menuju ranjang dan membangunkan suaminya.


“Mas, bangun. Udah subuh”. Bisiknya

__ADS_1


Arga bergeming, sama sekali tak terganggu dengan suara lembut Suci yang justru semakin membuatnya ingin terlelap lagi.


“Mas, nanti subuhnya kesiangan loh.” Kata Suci lagi.


Arga mulai menggeliat, mata tajamnya mengerjap kemudian terbuka meski masih terdapat sisa-sisa rasa kantuknya disana. “Jam berapa sayang?”


“Jam Lima mas, yuk bangun. Nanti keburu siang”.


Arga mengangguk ia beranjak duduk dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang, sejenak menghilangkan rasa pusing akibat bangun tidur. Arga mengecup kening Suci sekilas kemudian beranjak ke kamar mandi.


***


Denting suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring mendominasi meja makan mewah yang tebuat dari kayu jati berukiran unik itu. Sepasang suami istri yang menghuni meja itu hanya fokus pada makanan di depannya, bukan karena masakan itu terasa sangat nikmat, melainkan karena fikiran mereka tengah merasa resah dan tak nyaman.


Arga menyadari tatapan Suci, ia berdehem dan menatap Suci dengan senyuman terukir di bibirnya yang sedikit tebal dan penuh. "Kenapa kamu menatapku seperti itu sayang? Apa ada yang salah dengan penampilanku? Apa aku tidak setampan biasanya??" Arga mengedipkan sebelah matanya menggoda Suci, berusaha mencairkan suasana agar merasa sedikit nyaman.


Suci menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang salah dengan mu, kamu tetap terlihat tampan dimataku, dan karena hal itulah aku mulai merasa takut..."


Arga mengerutkan dahinya, ia meletakkan sendok dan garpunya kemudian mengelap mulutnya dengn tissue. "Takut? Apa yang kamu takutkan sayang?"

__ADS_1


"Takut jika bukan hanya aku saja yang ingin memiliki kamu selamanya".


DEG


Arga mendadak gugup dan tak berani menatap mata sendu istrinya, sumpah demi apapun Arga tak berniat membohongi Suci apalagi mengkhianatinya, ia hanya butuh waktu sedikit saja untuk memastikan dan menyelesaikan semuanya.


"Sayang, sudah waktunya aku pergi. Aku harus menghadiri meeting penting pagi ini".


Suci mengangguk seraya tersenyum getir, meski sekuat apapun ia menahan rasa penasarannya, tetap saja ada kekesalah saat Arga tak juga mau bercerita padanya.


Suci beranjak megikuti Arga, mengantar pria itu sampai ke teras rumah. Seperti biasanya, Suci menyalami Arga dan Arga akan mengecup kening Suci sebelum pergi.


"Aku pergi dulu ya sayang, kamu jangan cape cape, istirahat di kamar dan kalau butuh sesuatu kamu panggil pelayan saja, jangan terlalu sering naik turun tangga, aku gak mau kamu sampai lelah. Aku mencintaimu".


"Iya mas, kamu hati hati.."


Arga mengusap puncak kepala Suci dengan lembut, ia mendekatkan wajahnya hendak mengecup bibir ranum Suci, namun Suci terlihat menghindar.


"Ada penjaga mas, malu. Sudah siang, nanti kamu terlambat".

__ADS_1


Arga mengangguk seraya tersenyum, meski sedikit kecewa karena Suci tampak jelas menghindarinya.


"Tunggu sebentar lagi sayang, aku akan menceritakan semuanya. Tapi sebelum itu, aku harus memastikan sesuatu". Batin Arga, mobil mewahnya mulai melaju meninggalkan area ruamh mewahnya.


__ADS_2