
Pagi ini Arga bersikeras ingin mengantarkan Suci ke café start tempat Suci bekerja. Meski Suci menolak, tapi pria itu dengan keras kepalanya tak mau mendengar. Bukan apa-apa, pagi ini Vino sudah memberi kabar pada Arga bahwa bosnya itu harus menghadiri sebuah pertemuan penting dengan koleganya.
“Mas, nanti kamu terlambat loh”. Suci merapihkan kembali pakaian dan jas Arga, memastikan penampilan suaminya sempurna tanpa kekurangan.
“Gak akan, yuk berangkat”. Arga meraih tangan Suci dan menariknya agar segera beranjak, namun Suci terlihat enggan, tak ingin jika karena dirinya Arga mendapatkan masalah dengan pekerjaannya.
“Mas, aku bisa sendiri, aku bisa di antar sopir kalau kamu khawatir. Aku gak mau pekerjaan kamu terhambat karena aku. Lagian aku Cuma sebentar kok, aku akan mengundurkan diri hari ini”.
Arga mengerutkan dahinya mendengar keputusan Suci, pasalnya membahas tentang Suci bekerja tak pernah mendapat titik temu, selalu berakhir dengan perdebatan kecil karena Arga tak mau Suci bekerja tapi Suci masih ingin tetap bekerja. Dan sekarang Suci mengatakan akan mengundurkan diri, namun alih-alih senang mendengar keputusan Suci, Arga justru merasa tak enak pada istrinya itu.
“Sayang, kamu gak perlu lakuin itu kalau kamu masih mau bekerja. Baiklah, aku ijinin kamu bekerja asal kamu bisa menjaga diri kamu dan kesehatan kamu. Jangan sampai kecapean”. Arga menangkup sebelah pipi Suci dan mengusapnya lembut.
Namun Suci menggelengkan kepalanya, ia tak mau egois. Suci tahu Arga tak menginginkan dirinya bekerja, prioritas uatamanya saat ini memang Arga, suamianya, syurganya. Kalimat nasihat dari sang ummi selalu terngiang di telinganya. “Muliakanlah suamimu, dia adalah syurga mu sekarang. Turuti segala permintaannya jika itu masih dalam jalan yang baik. Raihlah pahala sebanyak-banyaknya dari melayani segala keinginannya dan menuruti apapun perintahnya.”
“Mas, aku sudah memikirkannya. Aku akan di rumah menunggu kamu pulang dan mengantarkan kamu ketika kamu pergi bekerja. Ini bukan karena permintaan kamu, tapi aku ingin menjadi istri yang baik untuk kamu”.
Arga terenyuh mendengar penuturan istrinya, tak dapat di sembunyikan lagi raut bahagia dari paras tampannya, meski matanya tampak berkaca-kaca tapi senyuman lebar merekah dari bibirnya. “Kamu yakin??”
__ADS_1
Suci mengangguk. “Aku yakin mas, Ridho mu Syurga untuk ku”.
Arga meraih Suci ke dalam dekapannya. Ia sangat bahagia mendengar keputusan Suci dan alasan ia memilih tetap di rumah. “Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu.”
“Aku juga sangat mencintaimu mas”. Bisik Suci
Arga melerai dekapannya, ia meraih dua bahu istrinya lalu menatap manik indah istrinya dengan lekat, dalam, dan penuh cinta. “Kamu tuh punya apa sih sayang? Kok bisa yah aku setiap hari jatuh cinta lagi dan lagi terus lagi lagi sama kamu?”
Suci menunduk malu, “aku Cuma punya cinta yang tulus buat kamu mas”. Lirihnya
“Mas, jangan teriak-teriak. Malu..”
Arga melepaskan tangan Suci dari bibirnya kemudian mengecup gemas pipi perempuan itu. “Malu sama siapa sih sayang? Kamar kita kedap suara sayang, jadi kalau pun kamu mau berteriak nikmat saat bercinta juga boleh, mereka gak akan mendengar kamu”.
Suci ternganga dengan kalimat Arga, mengapa suaminya itu menjadi sangat bar-bar?? “Mas ih. Ngomongnya blong gak di rem!!”
Arga tertawa, kemudian menarik Suci untuk keluar dari kamar. Kalau perbincangan mereka erus berlanjut, bisa di pastikan jika mereka tak akan pergi kemana pun dan berakhir di atas ranjang mengingat Arga tak ada puasnya menyerang Suci.
__ADS_1
Dengan berat hati Arga membiarkan Suci pergi ke café dengan di antar sopir. Vino yang bawel mengingatkan Arga membuat kuping Arga kepanasan dan memilih menemui koleganya sesuai jadwal yang sudah Vino tentukan.
***
“Selamat pagi tuan”. Vino membungkukan badannya menyambut kedatangan presdirnya di ambang pintu perusahaan.
"Hemmmm, kamu benar-benar membuatku kesal pagi ini Vin".
Vino tersenyum tipis mendengar gerutuan bosnya, ia tahu jika Arga tak benar-brnar mangatakan itu. "Maafkan saya tuan, tapi pertemuan ini sangat penting."
"Ya ya ya, kamu bisa tersenyum puas saat ini Vin, tapi alin kali lihat saja, kamu tidak akan berhasil menggangguku dengan istri ku".
"Saya mengerti tuan, dan saya menantikan saat itu tiba".
Arga menatap Vino dengan tatapan tajam mematikan, namun pria berperawakan tinggi tegap di belkangnya itu justru tersenyum lebar dengan mengangkat kedua tangannya. "Ampun bos".
Mereka melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan Arga. Mempersiapkan semua kebutuhan untuk mereka malakukan meeting.
__ADS_1