PERAMPAS KEHORMATAN KU

PERAMPAS KEHORMATAN KU
SUCI TANAYA


__ADS_3

SUCI POV


Namaku Suci Tanaya, nama yang indah yang ke dua orang tua ku berikan padaku. Namun mirisnya, nama itu berbanding terbalik dengan ke adaan ku sekarang. Aku seorang gadis yang bukan gadis lagi.


Seseorang merampas kehormatanku, memberikan beban dan luka fisik dan psikis yang sangat sulit aku sembuhkan. Aku hancur, aku merasa jijik pada diriku sendiri saat pantulan diriku terpampang jelas di cermin. Bayangan-bayangan saat pria itu menyentuhku selalu datang saat aku memejamkan mata, untuk terlelap pun rasanya sulit. keadaan ini sangat menyiksa ku, terjadi padaku hingga hampir dua pekan dari kejadian naas itu terjadi.


Aku berpenampilan muslimah, auratku selalu tertutup, kejadian itu sangat membuat ku terhina. Aku bagaikan sampah yang kotor. Dunia tak adil padaku, dari sekian banyaknya manusia kenapa harus aku yang mengalami kejadian laknat itu? Aku bahkan sempat menyalahkan takdirku jika saja ke dua orang tua ku tak memberikan aku pengertian dengan kesabaran mereka.


Pria itu mau bertanggung jawab meski awalnya berniat membungkam ku dengan sejumlah uang. Aku menolak, aku tidak sanggup hidup satu atap satu ruangan bersamanya, mendengar namanya saja aku merasa marah, benci dan jijik, aku tidak sanggup jika harus menjalani seumur hidupku dengannya.


Dari keadaan ku yang terpuruk, aku banyak mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekatku, hal itulah yang membuat aku memutuskan untuk menjalani hidupku lagi, bangkit dari rasa sakit yang tertoreh dalam dan akan selalu membekas.

__ADS_1


Di saat aku kembali menata hidup, mencoba berpaling dari kejadian buruk itu meski nyatanya aku tak pernah bisa, penghinaan kembali aku terima dari seorang pria. Aku kembali di lecehkan, aku berteriak, aku menangis bahkan meraung meminta belas kasihan pada pria itu agar melepaskan ku. Sampai suara ku hampir hilang, sampai tenaga ku yang tak seberapa ini hampir hilang. Aku tak dapat lagi melawan, aku seperti mayat hidup yang hanya bisa menangis tanpa melakukan perlawanan.


Tangan pria bejat itu menyusuri lekuk tubuhku, rasanya jijik meski masih terhalang pakaian yang ku kenakan. Ia mulai merobek pakaian ku di bagian bahu, aku kembali melawan dengan sisa tenaga yang ku miliki, sampai sebuah tamparan keras membuatku jatuh tersungkur dengan dahi membentur ujung bak mandi. Pria itu merobek gamis di bagian dadaku, aku kembali meronta, lagi-lagi sebuah pukulan aku terima. Bukan rasa sakit itu yang membuatku meraung, tapi rasa terhina yang aku terima dari kebejatan pria tak bermoral itu. Dia menggigit leher dan dada atas ku dengan bringas, aku mendorongnya sekuat yang aku bisa, namun aku semakin frustasi dan putus asa ketika pria itu membuka seluruh pakaiannya. Menjijikan, sangat menjijikan.


Di tengah rasa putus asa yang aku rasakan, seseorang datang memanggil-manggil nama ku, suara itu, suara yang aku kenali. "Tolong aku". Kata ku dengan lirih, ingin berteriak namun suara ku seakan tercekat saat pria bejat di hadapan ku mencekik leher ku.


Dobrakan di pintu membuat ku bisa melihat dengan jelas raut kemarahan dari pria yang beberapa pekan lalu menodai ku. Arga, dia datang sebagai penolongku. Arga menghajar Rudi habis-habisan, hingga Rudi terkapar bersimbah darah, namun Rudi masih bisa tersenyum meremehkan saat aku menahan Arga agar tak sampai membunuhnya. Rudi bahkan mengucapkan kalimat yang membuat Arga berteriak. "Dia istrikuuuu". Teriak Arga.


Aku memeluk Arga, mencari perlindungan dari tubuh kekarnya. Tubuh yang sangat aku benci itu kini menjadi tempatku berlindung. Aku bahkan tak membiarkan Arga menjauh, aku memeluknya dengan erat, sangat erat. Aku tahu itu salah, tapi aku benar-benar membutuhkan tempat bersandar dan berlindung.


Dengan lembut ia memasangkan aku jasnya, agar menutupi bagian tubuhku yang terlihat. ia juga memasangkan aku jilbab yang sudah terlepas dari kepala. Sorot matanya penuh kemarahan dan kekhawatiran. Paras tampannya terlihat memerah menahan amarah.

__ADS_1


Arga menggendongku, membawaku pergi dari tempat itu. Meski tatapan karyawan yang ku lewati tampak mengintimidasi, namun lagi-lagi Arga berteriak menegaskan jika tak ada yang harus di pertontonkan dari keadaan ku yang menyedihkan.


Aku ingin pergi sejauh mungkin, ke tempat baru dimana tak ada seorang pun yang mengenaliku dan mengetahui masa lalu ku. Rasanya lelah, muak dan marah. Air mata lambang kelemahan ku bahkan tak berhenti mengalir membanjiri pipi ku.


Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Aku kira hidup ku akan kembali normal, nyatanya semakin hancur karena luka yang baru. Aku benci pada tubuh ini, aku jijik pada wajah lemah ini, siapa yang harus di salahkan dalam hal ini? Kenapa lagi-lagi aku yang menjadi korban kebejatan pria itu.


Aku meremas pakaian Arga di bagian dadanya, hingga Arga berkata lembut menenangkan ku. "Tenanglah, kamu aman sekarang". Bisiknya lirih.


Aku mengangguk seraya terus sesegukan, air mata ini tanpa tahu malu terus mengalir begitu saja. Membuat sisi lemah ku kembali terlihat.


SUCI POV END

__ADS_1


__ADS_2