
aldo dan maya menyusuri pohon durian yang sedang banyak buahnya karena bulan ini bertepatan dengan musim panen buah yang banyak di sukai orang karena aroma dan rasanya.
"mas bisa panjat pohon ngga?" tanya maya sedang mengejek suaminya. aldo tak menunggu lama langsung memanjat salah satu pohon durian yang tidak terlalu tinggi.
"jangankan pohon durian, gunung pun akan ku daki demi mu sayang" ucap aldo merayu sang istri tanpa disadari ada sang mertua dibawahnya yang juga ikut mendengarkanya.
"hahahha" tawa puas maya melihat suaminya menahan malu dengan orang tua maya yang baru saja tiba. namun pura-pura tak merespon. dulu juga mereka pernah muda bukan?.
"hati-hati nak, kalau mau ambil yang buahnya sudah tak menggantung dipohon. sebelum matang biasanya buah durian diikat supaya pas matang tidak langsung jatuh ke tanah yang mengakibatkan pecah dan tidak layak di jual.
"iya pak" jawab aldo singkat dan masih memilah durian yang hendak diambilnya. sudah mendapatkan ciri-ciri yang dikatakan mertuanya. aldo mengambil 2 buah durian yang sudah matang dan menjatuhkanya secara pelan agar tak menjatuhi orang di bawahnya.
"sudah mas ayo turun kita makan kita dulu duriannya" maya mengambil buah yang baru dijatuhkan suaminya langsung dari pohonya
"enak ya kalau buah yang matang langsung dari pohon. beda kalau beli di kedai buah" ucap aldo sambil mengunyah buah yang terasa manis dan legit di mulut
__ADS_1
hari berganti menjadi malam. setelah acara makan malam selesai semua kembali ke kamar masing-masing tak terkecuali maya dan aldo. rencananya keduanya besok akan melihat pabrik pembuatan dodol durian milik ayah maya yang tidak jauh dari rumahnya
selain dijual sebagai buah yang siap konsumsi, durian juga dijadikan sebagai bahan dasar dodol yang ketika musim panen buahnya akan terlalu banyak dan mudah busuk jika tidk di siasati pengolahanya
pagi hari maya meminta aldo mengantarkanya ke pasar tradisional. maya lebih suka karena barang yang dijual lebih murah dan juga segar-segar.
"mas antar aku ke pasar dulu ya, stok belanjaan di rumah habis. sekalian kita beli jajanan kue tradisional " ucap maya paling suka dengan makanan yang jual oleh penduduk sekitar
"mas mandi dulu ya, kamu tunggu sebentar" aldo menuntaskan ritual mandi paginya dan juga bersiap mengantar maya ke pasar tradisional. aldo mengajak maya ke swalayan atau mini market yang menyediakan bahan kebutuhan sehari-hari namun maya menolak
"ayo mas kita naik motor saja ya. nanti melewati banyak persawahan indah pemandanganya" ucap maya yang ingin menikmati kebersamaan dengan sang suami
"pak bu kami pergi dulu" ucap keduanya berpamitan
melewati jalanan dengan cuaca sejuk pagi hari disepanjang jalan hamparan persawahan yang luas dan hijau. serta pepohonan yang teduh disajikan oleh alam untuk mengindahkan penglihatan
__ADS_1
keduanya sampai di pasar yang dituju. maya bersemangat untuk memenuhi keranjang belanjaanya yang dibawa dari rumah tadi. lalu pulang kerumah maya kembali
diperjalanan yang cukup padat lalu lintas kendaraan orang yang keluar masuk pasar
cittt gubrak
suara sebuah mobil menabrak sepeda motor yang s*ialnya itu adalah maya dan aldo.
beberapa orang berkerumun membantu maya dan juga aldo. pemilik mobil turun dan ikut melihat siapa yang di tabraknya
"sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya aldo panik melihat ada sedikit darah di kaki sang istri. aldo menuntun maya ke tepian jalan dan motornya dibawa oleh orang yang menolongnya.
"ohh jadi kamu!. dasar pembawa si*al! pagi-pagi bikin repot orang saja. kamu pikir saya tidak cukup sibuk untuk hanya berurusan dengan manusia rendahan seperti kamu" ucap seorang wanita dengan gaya sosialita
"maaf tante" maya menahan air matanya agar tak terjatuh. aldo memandang istrinya seperti ada sesuatu yang diketahuinya
__ADS_1
"maya!" ucap seorang laki-laki yang baru saja datang dari balik kerumunan masa. "kamu kenapa ada disini" lanjut lelaki tadi dia adalah kemal mantan kekasih maya dulu
"ayo mas kita pulang" ajak maya yang tak mau berdebat dengan orang yang pernah menyakitinya dulu. aldo hanya menurut permintaan sang istri