
pagi hari aldo sudah bersiap berangkat kerja dengan pakaian rapih, "sayang mas berangkat dulu ya, kalau kamu bosan bisa kerumah kak liza atau kebutik tapi ingat tidak boleh bekerja terlalu keras" ucap aldo mengecup kening istrinya dan melangkah keluar rumahnya
maya mengantarkan aldo hingga depan pintu, "intan" teriak maya pada intan yang sedang membuang sampah
"hay may" intan membalas sapaan maya namun ia menunduk melihat sorot mata dari aldo yang sangat tajam seolah sedang mengancamnya
aldo mengendarai mobilnya menuju ke kantor yang sudah lama tak ia datangi.
"pagi pak" ucap riri yang masih saja tak menyerah dengan aldo
"hemmm" aldo berlalu ke ruanganya
"angga tolong keruangan saya" aldo memanggil angga dengan telfonya
"permisi pak, ada yang bisa saya bantu?" angga mengetuk pintu dan masuk keruangan aldo
"apa kamu sudah bereskan wanita itu dengan benar? dia sekarang menjadi tetangga di rumahku! " ucap aldo pada angga penuh penekanan
"maaf pak tapi saya sudah memberinya uang dan juga memintanya untuk pindah dari kota ini" ucap angga
"tapi nyatanya dia mendekati istriku sekarang dan juga dia berani datang kerumahku" aldo makin kesal saat ini
"akan saya selidiki lagi pak, maaf saya kurang teliti. saya akan membuatnya pergi dari hadapan keluarga bapak" ucap angga yang merasa bersalah
"dia hamil! apakah mungkin yang dikandung intan adalah anak ku? " ucap aldo
"apa maksudnya mas? " maya menanyakan maksud ucapan aldo
"apa yang baru saja aku dengar mas! kenapa mas, kenapa kau membohongiku" maya berlari keluar ruangan aldo
__ADS_1
"sayang tunggu!' aldo mengerjar maya yang sudah cukup jauh namun tanganya dapat diraih dan aldo membawa maya ke ruanganya meski dengan penolakan namun maya akhirnya menurut karena tak mau membuat keributan
Flasback on
"intan kamu mau tidak kerja di toko ku, aku sedang butuh seorang karyawan untuk bagian kasir" tanya maya yang kasihan dengan intan saat ini keduanya tengah hamil
"aku mau may, apapun pekerjaanya aku mau" intan penuh semangat menerima penawaran maya. intan sebenarnya tidak berniat apapun pada aldo, dia sudah menyerah karena memang aldo tak mungkin mencintainya. ia pindah tempat tinggal untuk menghindari mantan pacarnya yang memintanya untuk menggugurkan kandunganya. juga dari fadil orang yang sudah menjebak aldo denganya yang terus mengancamnya
"ya sudah besok kamu ikut dengan ku setelah suami ku pergi ya, apa kamu bisa bawa mobil? " tanya maya
"bisa may" jawab intan
"baiklah besok bawa mobil ku saja, aku tak pernah memakainya karena tak diizinkan menyetir sendirian" ucap maya yang beruntung memiliki pasangana seperti aldo
"buk ini dompet bapak tertinggal di meja makan" ucap bik marni
"ya ampun dia belum menjadi ayah sudah pikun seperti kakek-kakek saja, terima kasih ya bik" ucap maya
"baiklah aku ganti baju dulu ya" intan masuk ke rumahnya dan mengantarkan maya ke tempat kerja suaminya
"flasback off
"lepaskan!" maya menarik tanganya dari genggaman aldo
"angga kau boleh tinggalkan kami, nanti kalau butuh bantuan akan saya panggil" ucap aldo dan angga pun keluar ruangan aldo lalu aldo mengunci pintu ruanganya. untung saja saat ia mengejar maya tak ada yang melihat
"sayang dengarkan mas dulu" aldo membawa maya yang sedang menangis duduk disofa yang ada di ruanganya
"aku mau pulang! " maya berteriak dan aldo memeluknya dan ikut meneteskan air mata ia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi sedangkan ia belum menemukan penyelesaian masalahnya
__ADS_1
"tolong dengarkan mas dulu sayang, mas tidak bersalah! " aldo menagkup wajah maya dan menatapnya
"mas akan buktikan semuanya, tolong percaya hanya itu yang mas butuhkan saat ini. mas masih belum tau siapa yang menjebak mas, jadi sampai masalahnya selesai mas berjanji akan menceritakan semuanya" aldo berlutut di depan maya yang masih menangis dan membisu
"kau harus tanggung jawab mas! kasihan intan dan anakmu" ucap maya datar seolah air matanya terhenti begitu saja
"setelah anak kita lahir aku akan mengajukan perceraian kita ke pengadilan, kau boleh melihat anakmu kelak saat sudah dewasa" maya berdiri
"tidak sayang! itu bukan anak ku, mas akan pastikan semuanya. tolong jangan bicara seperti itu" aldo memeluk maya yang tak bergerak sedikit pun. badanya terasa bagaikan patung dan ucapanya terasa dingin namun di hatinya saat ini bagaikan gunung berapi yang siap erupsi
"jangan persulit ku mas, aku akan tetap tinggal di rumah itu sampai anak ku lahir. setelah itu kau dan intan bisa tinggal bersama. aku tak akan bicara apapun pada keluargamu" maya masih tak bergeming anak dalam kandunganya yang menguatkan hatinya saat ini
"maya aku mohon percaya padaku, saat ini mas hanya sedang mencari bukti masalah ini! jangan pisahkan mas dengan anak mas tolong sayang" aldo memohon namun maya melangkah pergi
"kita selesaikan di rumah, setelah ini akan ku urus acara pernikahan kalian dalam waktu dekat" maya meninggalkan ruangan aldo dengan wajah datar, ia menghampiri intan di mobil
"kok cepat may, ini arah kemana toko kamu? " intan bertanya pada maya yang tak tau apa yang terjadi di dalam sana tadi
"apa kamu mengenal mas aldo sebelumnya tan? " tanya maya dengan wajah menatap lurus kedepan
"mak maksud kamu apa may? aku__" ucapan intan terputus
"aku sudah tahu semuanya, siapkan dirimu satu minggu dari sekarang kau dan mas aldo akan menikah dengan persetujuan penuh dari ku" Ucap maya
Ciiiiittt suara mobil di rem mendadak
"apa maksud kamu sih may, aku ngga ngerti" intan gugup dan juga takut
"aku tak perlu penjelasan apapun, setelah melahirkan nanti aku akan keluar dari rumah mas aldo dan kalian bisa tinggal bersama, namun saat ini aku hanya bisa memberikan bapak dari anakmu dan juga akan mengusrusmu sampai kau melahirkan. sementara tetaplah tinggal di samping rumahku. mas aldo akan menemani mu saat malam tiba. antarkan saja saya pulang" maya terus menatap lurus tatapanya kosong ia tak bisa menangis karena air matanya tertahan dengan dada sesak
__ADS_1
intan terdiam ia tak tau harus bagaimana, apa dia harus pergi karena sudah mengganggu kehidupan maya yang sudah sangat baik padanya, namun ia tak tau harus kemana lagi ia tak punya uang untuk mnyewa rumah lagi
keduanya sampai dirumah dan maya masuk ke dalam rumahnya begitu saja tanpa menyapa intan lagi, maya measuk ke kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam