
setelah maya pulang dari kantor tak lama aldo pun izin untuk pulang ke rumahnya untuk menyelesaikan masalahnya dengan istrinya. aldo menyerahkan pekerjaanya untuk dibantu oleh angga asistenya
"bik maya dimana?" tanya aldo pada bik marni yang sedang menyiapkan makan siang. bik marni heran tak biasanya aldo memanggil nama pada istrinya
" ada di kamar pak" ucap bik marni memberitahu lalu aldo melangkahkan kakinya menuju kamar
"sayang buka pintunya, biarkan mas masuk dulu" aldo mengetuk pintu kamarnya dan tak lama dibuka oleh maya
"saya akan tidur di kamar sebelah sampai semua proses kita selesai" maya membawa koper berisi bajunya yang akan ia pindahkan ke kamar lain
"tunggu may, jangan begini dengarkan mas dulu baru kamu boleh menyimpulkan" aldo menggengam tangan maya
"tunggu sebentar setelah saya rapihkan kamar, saya akan beri kesempatan untuk menjelaskan" maya melangkah ke kamar satunya untuk menaruh barang-barangnya. aldo menyusul maya di kamar dan memeluknya dari belakang
"tolong jangan begini, saya sudah berjanji untuk tak membenci keadaan tapi jangan membuat perasaan saya semakin terluka! duduklah dulu setelah ini akan saya dengarkan semuanya. aldo pun menurut karena tak mau istrinya semakin marah karenanya
keduanya duduk dipinggir ranjang di kamar itu. "silahkan katakan apa yang ingin disampaikan" ucapan maya begitu dingin dan datar
__ADS_1
"sayang dengarkan mas, mungkin ini akan menyakitkanmu tapi mas mohon dengarkan dulu sampai semua selesai" aldo menarik nafas yang dalam dan menghembuskanya dengan berat ia tau ini akan sangat menyakitkan untuk keduanya
"sebenarnya mas dan intan sudah saling mengenal sejak kuliah dulu, namun mas tak begitu dekat denganya dan saat mas berangkat ke luar kota kami bertemu dipesawat hingga kami tak tau jika menginap di hotel yang sama'" aldo menjelaskan semuanya secara rinci bahkan saat aldo pagi hari berada satu kamar dengan intan. aldo melihat mata maya yang tak berkedip bahkan tak ada ekspresi apapun di wajahnya
"mas bersumpah tak melakukan apapun, mas sudah mencari bukti penjebakan mas itu" aldo menyerahkan bukti pada maya jika ada yang menerornya dan juga memfoto kejadian malam itu untuk mengancam. "kamu bisa tanyakan pada intan jika memang dia dan mas tak melakukan apapun" aldo melanjutkan penjelasanya mengapa tak ia ceritakan pada istrinya karena tak mau maya salah faham sebelum menemukan siapa orang yang ada di balik ini semua.
"sudah mas? " maya bertanya singkat
"apa yang ingin kau tanyakan sayang, mas akan jawab semua dengan jujur" aldo masih menatap maya
"kapan kamu akan menikahi intan, haruskah aku tetap disini atau aku harus keluar dari rumah ini setelah kalian menikah" tanya maya tanpa melihat aldo sama sekali
"mau kamu yang urus atau aku yang urus mas, silahkan bicarakan dengan intan kapan pelaksaanya, aku tak mau membuat bayi yang tak berdosa itu tak memiliki ayah" maya masih menahan tangisnya di depan aldo ia tak mau terlihat lemah
"jika sudah selesai tolong keluar! maaf saya dan anak saya butuh istirahat sebentar" maya merebahkan badanya di kasur yang sudah ia siapkan tadi tanpa melihat aldo. saat aldo keluar ia mengunci pintu dan langsung menangis karena air mata yang sudah ia tahan sejak tadi akhirnya lolos juga di pipi mulusnya
" maafkan mama nak, mama harus egois tapi ada bayi lain yang juga butuh papamu'" maya bermonolog dan mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit
__ADS_1
sementara itu aldo mendatangi rumah tempat tinggal intan sekarang aldo mengetuk pintu dengan sangat keras dan intan pun membukanya
" kamu mau mati hah! aldo sudah ingin mencekik leher intan namun ia urungkan karena melihat intan yang sedanag hamil
"jika saja kamu tak sedang hamil aku seret kamu ke polisi sekarang juga!" aldo menendang pintu intan
"pergi sekarang dari hadapan keluarga ku atau aku akan pastikan kau membusuk di penjara" lanjut aldo
"saya akan jelaskan semua pada maya tentang masalah ini, dan juga ada yang ingin saya katakan meski ini menyangkut nyawa saya! ada orang lain yang tak menyukaimu di pekerjaan dia akan menyingkirkanmu dari jabatanmu, dan dia juga mengancam akan membunuhku jika aku mengaku padamu" ucap intan
"apa maksud mu! " aldo penasaran
"fadil" intan menyebut nama seseorang yang mengajakanya bekerja sama untuk menjebak aldo. intan menjelaskan semuanya saat bertemu dengan fadil dan melakukan kejahatanya, namun intan tak punya bukti yang bisa menyalahkan fadil
"kenapa kau baru bilang, dasar bo*doh!" aldo pergi dari rumah intan dengan emosi yang masih memuncak saat ini ia akan fokus dengan penyelesaian masalahnya dan akan mencari tahu tentang fadil.
"Dinda bisakah kita ketemu? saya butuh bantuanmu atau pak reza" ucap aldo melalui panggilan telfon
__ADS_1
keduanya berjanjian akan bertemu di sebuah kafe yang tak jauh dari rumah aldo