
maya menangis dikamar sesenggukan dadanya merasa sangat sesak sekaligus lega dengan penjelasan dari intan, intan juga menunjukan beberapa bukti jika suaminya itu dijebak.
"maafkan aku mas, harusnya aku mempercayaimu" maya terus menangis dan menyalahkan diri sendiri. lelah menangis maya hendak keluar kamar karena merasa lapar dari pagi ia hanya makan roti saja
brakkk
suara benda terjatuh dari arah kamar maya. bik marni lari menghampiri maya dan benar saja maya sudah tergeletak dilantai dengan pecahan gelas yang dipegang maya tadi
"ya ampun bu, gimana ini" bik marni panik dan menghubungi aldo terlebih dahulu
"halo pak, ibu jatuh pingsan di kamar!" bik marni menghubungi aldo melalui panggiln telfon. aldo menyambar kunci mobil dan melajukanya dengan sangat kencang
bik marni membatu maya untuk tidur dikamar dengan sangat sulit karena badan bik marni yang juga kecil.
tak kurang dari lima belas menit aldo sampai dirumah, menuju kamar maya yang sudah tidur di ranjang dan bik marni membersihkan bekas pecahan kaca dari gelas
tanpa kata apapun maya diangkat aldo dan digendong menuju mobilnya dan dilajukan ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
sampai dirumah sakit "dokter tolong istri saya dia sedang hamil" aldo meminta untuk maya diperiksa lebih dulu
"silahkan tunggu di luar dulu pak kami periksa" ucap suster yang menemani dokter untuk memeriksa maya
tak lama dokter keluar dan memberitahukan pada aldo jika istri dan anaknya baik-baik saja. namun untuk lebih memastikan aldo harus memeriksakan kandungan maya dengan USG.
"terima kasih dokter" aldo menyalami dokter dan masuk keruangan maya dirawat. wajah pucat pasi dan tubuh yang terlihat kurus membuat aldo merasa sangat bersalah
aldo duduk diranjang samping maya tidur, ia menggengam maya dan menciuminya.
"maafkan mas sayang, maaf mas yang bersalah membuatmu dan anak kita seperti ini" tangis aldo pecah mengapa dia sebodoh ini mengabaikan istrinya untuk mengejar pelaku yang menjebaknya
"maaf pak tadi mba intan datang untuk minta maaf, dan setelah kepergian mba intan ibu kekamar tak lama suara ibu terjatuh" bik marni ketakutan dengan suara aldo
"jangan biarkan wanita itu masuk lagi ke rumah!" perintah aldo pada bik marni dan di iyakan olehnya
"angga sepertinya wanita itu cari mati, tolong urus pekerjaanku sementara. setelah pelaku ketemu aku akan jebloskan wanita itu juga kepenjara" aldo menghubungi angga karena tadi pergi tanpa pamit
__ADS_1
sayup-sayup terdengar suara orang sedang marah, maya terbangun dari tidurnya merasa pusing dan melihat tanganya sudah terdapat selang infus
maya melihat punggung besar yang sangat ia rindukan dalam dekapanya. sudah hampir dua minggu keduanya tidak tidur dalam satu rajang meski maya tak tau jika setiap malam aldo menemaninya. dan pagi harinya sebelum maya bangun aldo sudah keluar kamar maya
aldo berbalik dan melihat maya sudah sadar ia tersenyum senang dan menghampiri istrinya
"sayang kau sudah bangun" aldo mendekat dan mencium puncak kepala maya tanpa ragu dan melupakan masalah yang ada dan maya pun tak menolak sikap manis aldo yang hampir ia lupakan
"sebentar mas panggilkan dokter" aldo segera memanggil dokter untuk memeriksa maya kembali
"gimana dok?" tanya aldo penasaran
"kita tunggu pak jika istri anda sudah tidak lemas nanti malam boleh pulang, namun jika mau cek kandungannya secara detail. besok pagi saya jadwalkan" penjelasan dokter
"kalau begitu nanti kami putuskan dokter biar istri saya istirahat dulu" ucap aldo yang tak mau istrinya tak nyaman
dokter pun keluar kamar rawat maya
__ADS_1
"sayang maafkan mas, mas salah tapi tolong jangan sakiti dirimu dan anak kita. kau boleh menghukum mas apapun" aldo mengenggam tangan maya erat