
Saat sampai rumah sakit Tania membopong tubuh Satria masuk suster menarik brandar membantu Tania mereka bergidik ngeri melihat luka Satria tubuhnya penuh oleh sayatan senjata tajam , dokter yg bertugas memeriksa nya dia juga binggun harus apa mereka tidak mengenali wajah Satria penuh dari darah
"Kak Satria bertahanlah aku mohon"ucap Tania pertama kali nya dia mengengam tangan Satria entah lah dia benar takut kali ini apa lagi Tania pernah mengalami bully seperti Satria tadi di lempar di saat mobil melaju
"Mbak tolong isi formulir nya dan mbak juga harus bertanggung jawab atas pasean yg akan melakukan operasi "ucap suster
"B..b.... bertanggung jawab atas nyawanya "ucap Tania mengeleng dia gemetar
"Tidak aku....aku tidak bisa mengambil nyawanya hubungi saja dokter Arvin dia...dia adalah Satria Mahendra "ucap Tania takut
"Apa"ucap nya kaget dia tidak bisa bisa menunda waktu segera menghubungi Arvin karna keadaan darurat sangat mendesak
Arvin yg dapat telepon dari pihak rumah sakit merasa terkejut dengan berita yg ada semua keluarga ikut terkejut dan segera ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi Satria
"Tania"ucap Naila menatap Tania yg pucat yg duduk menggoyang kan kaki nya karna rasa cemas campur takut nya
"I...ya"ucap Tania berdiri mereka melihat Tania berlumur darah
"Kita lihat dulu kondisi Satria"ucap Cinta ikut cemas mereka masuk dan menutup mulut nya kaget melihat Satria
"Satria "pekik Naila meneteskan air mata nya menyentuh wajah Satria
"Apa yg terjadi nak"ujar Naila syok
Hoek Hoek
"Arvin aku pusing bau darah ini"ujar Arin memegang kepala nya
"Arin kamu tunggu di luar saja biar Rey membantu ku"ujar Arvin
"Dok kita harus cepat tuan Satria banyak mengeluarkan darah kita harus cepat telat sedikit tuan Satria akan meninggal "jelas dokter
"Semua keluar dan kalian segera siapkan alat nya"ujar Arvin semua keluar Rey dan Arvin serta dokter dan suster yg ada dalam ruangan operasi itu Arvin dan Rey tidak mengganti baju operasi karna harus cepat menyelamatkan Satria
"Kurang aja siapa yg melakukan perbutan sekeji ini"ujar Rey datar saat Arvin memotong baju Satria banyak sekali sayatan di tubuh Satria
"Kalian siapa kan golongan darah pasien"perintah Arvin
"Baik dok"ujar suster melakukan tugas nya
"Terlalu berbahaya Satria mengalami luka benda tajam benturan cukup kuat serta ada tembakan"ujar Arvin tangannya jadi gemetar
"Aku takut mengambil nyawanya"ujar Arvin lagi
"Jangan khawatir aku yg membantu segera laksanakan operasi nya"ujar Rey mengambil peralatan doker mulai membedah sedikit bagian yg tertembak berusaha mengambil peluru itu
Tinnnnn
"Jantung nya mulai berhenti dok"ucap suster Rey tetap tenang
__ADS_1
"Siap kan defibrilator nya"ucap Rey suster mengambil nya Arvin mengosok nya dan menekan ke dada Satra membuat tubuh Satria terangkat sekali lagi Arvin menekan ke dada Satria hasil nya sama sampai ke tiga kali
"Detak jantung nya kembali tapi tidak normal "ujar suster Arvin menekan lagi menekan ke perut Satria dan kali ini detak jantung nya stabil Rey kembali berusaha mengambil peluru itu dan mendapatkan nya
"Pasean mengalami pendarahan"ucap dokter lain jadi panik Rey dan Arvin segera mengambil tindakan lagi
"Tania sebenarnya apa yg terjadi"tanya Naila melihat Tania dia menggoyang kan kaki nya Naila tau jika saat ini Tania lagi menunjukkan kecemasan dan rasa takut yg berlebihan
"S.... sebenarnya aku....aku"ujar Tania takut
"Tania katakan jangan takut"ujar Cinta mengengam tangan Tania
"Nona yg melakukan ini adalah pak Devan"ucap Tania menatap Cinta dan menceritakan awal mula kejadian itu sampai Satria jadi seperti itu
"Ini semua karna kamu"ucap Kenzo datang dengan lengan di perban karna darah nya di ambil
"Maafkan saya"lirih Tania menyeka air matanya
"Jika anak saya tidak gila karna kamu dia tidak mungkin seperti ini"sentak Kenzo
"Pa ini bukan kesalahan Tania yg maksa Tania itu Satria sendiri bukan Tania lagian memang nya yg melakukan ini Tania bukan tapi dendam Devan papa ngak bisa menyalahkan Tania begitu saja ini bukan kesalahan nya"ujar Naila
"Devan Devan jika dendam tidak di lanjutkan ini tidak akan terjadi"ucap Kenzo mengusap wajah nya kasar
"Papa mau salahkan Rey yg melakukan ini yg di lakukan Rey itu benar ada nya "ucap Cinta
"Tania kamu pulang saja kamu istirahat ini bukan kesalahan mu"ujar Naila pelan Tania mengangguk pelan permisi pulang
"Aku yakin Satria bisa melewati ini semua"ujar Rey pada Arvin
"Satria aku harap kamu kuat dan bisa melewati ini"ujar Arvin dan keluar bersama Rey
"Gimana Satria baik baik saja"ujar Naila
"Tante mama kami tidak bisa memberi harapan lebih selain mengalami sayatan pada tubuhnya Satria juga mangalami benturan di tubuh nya serta tembakan "jelas Arvin
"Sekarang Satria kritis"ujar Arvin lagi
"Kenapa anak ku bisa seperti ini"lirih Naila memeluk Kenzo
"Ini karna Devan"ujar Cinta ikut menangis
"Ini bukan salah siapa siapa tidak usah ada yg balas dendam lagi ini yg tidak mama inginkan jika kita balas dendam dan apa yg terjadi Devan membalas lagi ini yg terjadi jika kita berbuat sama dengan Devan ini tidak akan selesai"ujar Naila menangis
"Kita harus tetap memantau nya"ucap Arvin lagi dan pergi bersama Rey ingin membersihkan tubuhnya yg tadi terkena percikan darah Satria
"Arvin"panggil Arin
"Kamu sudah baikan"tanya Arvin menoleh
__ADS_1
"Iya aku baik baik saja"ujar Arin
"Satria akan kembali pulih jangan khawatir"ujar Arvin
"Iya"ucap Arin memeluk Arvin
"Ehh bentak aku mau bersihkan tubuh dulu banyak noda darah"ujar Arvin melepaskan pelukannya dan menuju ruangan pribadi nya
###
Tania termenung di ruangan nya semalam jika mama nya tidak memberi pil tidur Tania tidak bisa tidur karna kejadian itu jiwa Tania terguncang dia sangat takut atas apa yg terjadi bahkan Tania tidak tau apa yg terjadi
"Tidak Tania kamu harus kembali jangan seperti ini"gumam Tania menggeleng kan kepalanya dia segera bekerja
Menjelang makan siang Tania berkunjung dia mengawasi dari jauh ada beberapa bodyguard yg berjaga di ruangan itu ada juga Cinta yg duduk di sana Tania berjalan pelan dia bisa melihat keadaan Satria tubuh penuh perban bagian kepala dan lengan nya begitu ada kantung darah di samping nya serta infus oksigen membekap mulut dan hidungnya entah kenapa Tania merasa tidak nyaman akan hal itu
"Tania kamu ke sini lagi"ujar Cinta
"Iya nona soal pekerjaan bagaimana "ucap Tania
"Ohh itu nanti aku yg mengantikan Satria sementara waktu "ucap Cinta lalu Tania duduk di samping Cinta
"Saat melihat Satria seperti itu atas kekejian yg Devan lakukan rasanya aku ingin membalas Devan"ucap Cinta pelan
"Nona maaf jika saya ikut campur tapi benar yg di katakan nyonya Naila itu jika balas dendam tidak ada gunanya"ucap Tania
"Tania kamu boleh cek keadaan Satria aku merasa tidak kuat melihat nya karna Satria sejam sekali harus di cek"ucap Cinta
"Tapi nona saya tidak mengerti soal medis"ucap Tania
"Tidak apa kamu tinggal memastikan detak jantung nya normal serta semua nya "ujar Cinta pelan Tania mengangguk pelan lalu berdiri menuju ke sana harus pakaian rumah sakit Tania perlahan mendekat melirik monitor itu berjalan normal memeriksa infus oksigen nya semua normal Tania mengulur kan jari nya menatap jemari Satria dia mengaitkan jari kelingking nya ke kelingking Satria
"Kak maafkan aku tolong cepat lah sadar aku rindu di ganggu sama kak Satria aku sepi tidak ada teman berantem aku benci dengan perasaan ini tolong sadarlah"batin Tania
Cklek
Mendengar pintu di buka Tania dengan cepat melepaskan pegangan ternyata Naila yg masuk dia memakai baju lengkap mendekati Tania
"Tania apa semua normal"tanya Naila
"Iya nyonya berhubung di ruangan ini tidak boleh banyak orang saya permisi anda juga ada memeriksa saya akan menemui nona Cinta"ucap Tania lalu berlalu pergi
"Nona Cinta mau istirahat ya"ucap Tania mendekati Cinta
"Iya Tania aku capek semalaman jagain Satria sekarang aku mau istirahat"ujar Cinta berdiri
"Mau saya antar nona"ujar Tania
"Boleh "ucap Cinta mereka berdua segera pergi
__ADS_1