Perjalanan Cinta Sang Dokter

Perjalanan Cinta Sang Dokter
Tumbuh besar


__ADS_3

Kehidupan Naila dan Dita di bilang kurang mampu karna mereka berada di desa terpencil Naila juga belum ingat semua ingatan nya Dita juga tidak mengatakan nya jika dia mengenal baik siapa Naila


Sudah 5 tahun berlalu mereka tinggal di kampung itu , Naila selain bekerja di rumah sehat dia mengambil kerja bersih bersih Dita juga sering ikut di rumah sehat saja karna dia terbatas takut malah nanti melakukan kesalahan


Dua bocah itu tumbuh dengan sehat mereka juga sangat tampan sering kali di goda gadis di kampung itu karna ketampanan mereka tapi mereka berdua asik dengan dunia sendiri mereka sering nongkrong di pohon besar itu sering makan buah


"Arvin apa kita akan tidur di sini lagi"tanya Satria dengan mengunyah buah jambu biji


"Ngak nanti tante mama marah lagi "ujar Arvin karna Arvin memanggil Naila dengan tante mama begitu pun Satria memanggil Dita dengan tante mama


"Jika begitu kita ngapain mulai bosan nih"ujar Satria lalu lompat dia turun Arvin ikut


"Kita keliling kampung lagi yuk"ujar nya lalu mereka berdua keliling kampung seperti biasa yg sering mereka lakukan berkeliling mencari wawasan


Naila lagi mencuci piring di rumah orang yg paling kaya di kampung itu karna dia juga hari ini bakal gajian Naila berniat ingin menyekolahkan Arvin dan Satria karna dua bocah itu tidak sekolah karna kurang biaya Dita dan Naila yg mengajari mereka agar tidak menjadi buta huruf


"Pak saya minta gaji saya"ujar Naila setelah pekerjaan nya selesai


"Mari duduk"ujar nya tersenyum Naila duduk lalu pria itu memberi kan amplop pada Naila


"Terimakasih pak"ujar Naila senang ingin berdiri


"Ehh tunggu dulu"ujar nya berdiri


"Kamu itu begitu cantik"ujar nya memegang wajah Naila


"Jika kamu melayani aku bagaimana aku akan tambah uang nya"ujar nya tersenyum


"Pak saya ini punya harga diri"ujar Naila tidak senang


"Jangan munafik tidak mau dengan uang aku bisa berikan apa yg kamu mau"ujar nya Naila sangat kesal


"Pak jika pun saya mau jual diri maaf anda bukan selera saya"ketus Naila


"Kamu ini terlalu jual mahal ya"ujar nya ingin melecehkan Naila tapi Naila memberontak tanpa sadar pria itu membentur kan kepala Naila


"Aghh"rintih Naila memegang kepalanya yg berdarah sampai kuping nya berdengung dan Naila jatuh pingsan


"Ijah"teriak nya pada pelayan lain


"Iya pak"ujar wanita itu


"Antar Naila pulang saya tidak sengaja mendorong nya"ujar nya santai wanita itu melihat semua nya dia membawa Naila pulang


"Mama"ujar Satria melihat Naila di pampa mereka sudah ada di rumah


"Ada apa Satria"tanya Dita berdiri


"Ada apa dengan mama ku"ujar Satria panik melihat darah di kepala Naila


"Tadi pak Dadak berusaha melecehkan nya dan Naila melawan dan tidak senagaja mendorong Naila sampai terjatuh"jelas nya


"Tante mama tolong mama dia terluka"ujar Satria dia menyeka air mata nya menangis


"Satria tenang ya tante mama akan obati mama jangan nangis ya"ujar Dita mengusap kepala Satria


"Arvin ayo bantu mama ambil obat"ujar Dita


"Iya ma"ujar Arvin berdiri lalu memeluk lengan mama nya membawa mama nya ke ruangan obat


"Mama bertahan Satria akan lakukan apa saja biar mama sembuh"ujar Satria menyeka darah Naila


"Arvin Satria bersihkan dulu darah di kepala mama Naila"ujar Dita menyerahkan kapas itu


"Iya"ujar kedua nya membersihkan luka Naila


"Setelah itu tempelkan obat ini di kepala nya"ujar Dita menyerahkan mangkuk itu Satria mengambil nya dan meletakkan obat tradisional itu dan Arvin membantu membalut kepala Naila pakai kain karna peralatan kesehatan nya terbatas

__ADS_1


"Tante mama kenapa mama belum bangun "ujar Satria cemas


"Mama Satria akan segera sadar"ujar Dita tersenyum


"Arvin ayo kita balas orang membuat mama seperti ini"bisik Satria dengan kilatan mata yg marah


"Iya kamu benar itu ayo"ujar Arvin setuju


"Mama aku ajak Satria menghibur diri"ujar Arvin pamit lalu mereka berdua pergi


"Nai kamu kenapa"ujar Dita cemas


"Tuan Kenzo"teriak Naila terbangun dia menatap Dita dan ingatan nya menyerang nya


"Aghh"ucap Naila kesakitan


"Naila kamu baik baik saja"ujar Dita cemas


"Iya"ujar Naila menangis


"Aku mengingat nya"ujar Naila mengengam tangan Dita


"Aku ingat semua nya jika aku adalah Naila Salsabila"ujar Naila menangis


"Aku tau itu kamu Nai"ujar Dita memeluk erat


"Tapi kenapa kamu bisa seperti ini"tanya Dita penasaran 5 tahun dia penasaran menunggu cerita itu


"Tuan Kenzo sangat kejam aku sangat membenci nya"ujar Naila menangis menceritakan semua nya


"Tega sekali memang Dela itu dia tega menghancurkan kehidupan kita"ujar Dita ikut menangis mengingat Arvin apa dia sekarang ini baik baik saja apa sudah bebas dari penjara


"Tapi kenapa kamu tidak memberi tau ku jika menikah dengan kak Arvin"ujar Naila menyeka air mata nya


"Kamu tidak tau betapa aku menahan perasaan ku di saat dokter Arvin lebih memperhatikan mu kamu tidak tau bagaimana aku mengendalikan rasa cemburu itu tapi dokter Arvin sangat baik aku sudah lama mencintai nya seiring waktu dia akhirnya bisa mencintai ku aku sangat mencintai nya hidup ku di penuhi oleh nya tapi bunda tidak merestui nya aku di hina di caci maki kami memutuskan menikah diam diam untuk kebahagiaan kami sendiri tapi Dela menghancurkan kebahagiaan kami"ujar Dita menangis


"Maafkan bunda ku Dit"ujar Naila memeluk Dita mereka berdua berpelukan dengan erat


"Nai, Dita"ujar Nini lari


"Arvin dan Satria ingin di masa warga karna mereka memukul pak dadak dengan kayu"ujar Nini


"Apa"ujar Naila kaget


"Kamu temani Dita di sini ya Nin aku lihat mereka dulu"ujar Naila lalu bergegas melihat anak anak nya dan benar mereka berdua di kelilingi warga


"Pak henti kan"ujar Naila memeluk anak anak nya


"Jangan sakiti anak anak ku"ujar Naila


"Naila mereka sangat kurang ajar memukul pak dadak"ujar nya


"Karna dia berani melukai mama ku"ujar Satria marah


"Satria henti kan kamu mau kita di pukul ayo minta maaf sama pak dadak"ujar Naila menegur Satria


"Satria ngak mau ma karna Satria ngak salah pria tua itu harus minta maaf karna udah bikin mama terluka "ujar Satria tidak mau kalah


"Bener itu tante mama"ujar Arvin lalu Satria menendang kebanggaan pak dadak sampai pak dadak mengeluh kesakitan


"Kita gebukin aja mereka"ujar anak buah pak Dadak melihat situasi Naila mengajak anak anak nya pulang


"Dit ayo kita pergi dari sini sepertinya anak buah pak Dadak sangat marah pada kita dari pada kita mati mending kita pergi "ujar Naila mengemas barang nya


"Nai kita mau kemana"ujar Dita cemas


"Kamu ikutin aku aja"ujar Naila setelah selesai mereka pergi dari pintu belakang melalui hutan mereka pergi

__ADS_1


"Kamu percaya kan Dit sama aku"ujar Naila mereka berjalan di dalam hutan


"Iya aku percaya pada mu"ujar Dita dengan tongkat nya


"Kita akan pindah dari sini dan menyekolahkan Arvin dan Satria"ujar Naila serius


"Nai apa kamu tidak mau kembali pada tuan Kenzo"bisik Dita


"Semua sudah terjadi Dit jadi buat apa aku kembali malah aku sangat membenci nya"bisik Naila dia akan menghidupi anak nya sendiri


###


Arvin menaik kan kaca matanya dengan membaca koran di meja makan mereka sarapan Kenzo juga begitu menatap ponsel dengan kopi dan roti bakar bahkan dia sudah brewok sama seperti Arvin mereka bosan menunggu Cinta yg belum turun juga untuk sarapan


"Cinta kenapa lama papa bosan menunggu"teriak Kenzo lalu turun lah seorang gadis cantik dengan rambut tergerai dengan seragam SMA nya dan tas nya dia tersenyum mencium pipi Kenzo dan Arvin


"Selamat pagi tuan tuan"ujar nya menuduk


"Sial kenapa dia mirip mama nya membuat aku sedih dan menderita lagi"gumam Kenzo kesal dan itu hanya Arvin yg mendengar nya dan terkikik karna memang benar Cinta menginjak usia 15 tahun dan sangat mirip dengan Naila


"Ihh kok malah om tertawa sih*ujar Cinta cemberut


"Tidak papa kamu lucu"ujar Arvin


"Kamu lama sekali tidak tau apa kami mau berangkat kerja"ujar Arvin lagi


"Ahh iya soal itu kenapa aku lama bukan lama dandan untuk jadi tuan putri tapi aku gugup karna ini hari pertama ku jadi seorang gadis"ujar Cinta tersenyum bahagia


"Aku jadi seorang gadis"seru nya


"Hei itu maksudnya apa papa tidak mengerti "ujar Kenzo kesal Cinta duduk meminum susu nya


"Papa aku sudah datang bulan untuk pertama kali aku senang jadi seorang gadis "ujar Cinta tersenyum


"Apa"ujar Kenzo kaget apa anak nya secepat itu dewasa


"Apa kamu yakin itu"ujar Kenzo ,Arvin terkikik


"Sudah Kenzo kenapa kamu heboh sekali sekarang anak mu menjadi seorang gadis harus bangga dong"ujar Arvin tertawa


"Betul itu om"ujar Cinta mengunyah roti nya


"Cinta ingat ya jika sudah menjadi gadis jangan di sentuh pria nanti bisa hamil"ujar Arvin mengusap kepala Cinta membuat Cinta terdiam


"Apa benar papa"tanya Cinta


"Iya sayang"ujar Kenzo tersenyum


"Papa apa aku akan hamil anak om Arvin dia menyentuh ku tadi lihat tadi kan"ujar Cinta akan menangis Arvin an Kenzo sampai melotot


"Aduh aku pusing menjelaskan nya"ujar Kenzo mengaruk kepalanya


"Bukan begitu sayang "ujar Arvin tersenyum lalu mendekati Cinta


"Kamu kan belum cukup umur mengetahuinya yg penting jangan dekat sama pria nanti kami cemburu sayang dengar ya"ujar Arvin mengusap kepala Cinta


"Om bilang dong sama papa aku ngak mau pak Toni terus mengawal ku aku malu"ujar Cinta memelas


"Tidak "ujar Arvin dan Kenzo bersama


"Biarin aja pak Toni itu menjaga mu awas jika ada yg berani sama anak nya Kenzo"ujar Kenzo cepat


"Tuh kan papa gitu aku malu di ejek terus seperti anak manja aku ngak mau gitu"ujar Cinta ngambek


"Benar itu Cinta itu demi keselamatan mu karna kami nggak mau kamu itu terluka kami kan hanya punya kamu"ujar Arvin sedih


"Iya deh"ujar Cinta memeluk Arvin lalu mengecup pipi Kenzo

__ADS_1


"Ayo kita sarapan lagi aku sangat lapar"ujar Cinta tersenyum mereka lanjut sarapan karna sebentar lagi akan berangkat kerja dan sekolah


__ADS_2