
Dita sudah siap akan segera pulang tapi Arvin terus mencegahnya ingin menghabiskan waktu bersama nya padahal semalam mereka banyak menghabiskan waktu bersama tapi sepertinya Arvin belum mau melepaskan Dita pulang.Arvin merapikan rambut Dita dan membantu Dita memakai baju yg di berikan Naila kemarin
"Udah selesai aku mau pulang dok nanti keburu ada yg tau jika aku semalam tidur di sini"ujar Dita melihat cermin
"Memang kenapa jika ketahuan"ujar Arvin memeluk Dita
"Emang dokter mau di pisahkan sama aku"ujar Dita memeluk lengan Arvin di perut nya mendongak ke arah Arvin
"Kamu ya mulai pintar bicara nya"ujar Arvin mengecup kening Dita
"Dok lepasin dong aku mau pulang "pinta Dita karna dia benar takut jika Nandira tau
"Aku masih ingin bersama mu"ujar Arvin duduk di kursi meja rias lalu mendudukkan Dita di pangkuannya
"Tapi aku harus pulang "ujar Dita memelas
"Ck malas deh"ujar Arvin lemas
"Nanti bisa ketemu lagi"bujuk Dita
"Iya deh"ucap Arvin mencium pipi Dita
"Aku pulang ya"ujar Dita ingin berdiri
"Salam perpisahan dulu dong"ujar Arvin tersenyum
"Iya iya"ujar Dita tersenyum memegang tengkuk Arvin lalu mencium bibir Arvin sungguh Arvin merasa terbang bersama Dita dia melingkar kan tangannya di pinggang Dita bibirnya mulai turun meninggalkan jejak di leher Dita
"Dok apa sudah selesai"ujar Dita pelan dia menggigit bibirnya menahan sesuatu tapi Arvin masih mencium area lehernya sampai puas Arvin mendongak
"Ikut aku ke Bandung"ujar Arvin pelan membenarkan baju Dita
"Aku kan kerja"ujar Dita berdiri
"Kamu ngak usah kerja lagi semua kehidupan biar aku yg tanggung kamu perlu jaga ayah dan jadi istri ku"ujar Arvin ikut berdiri
"Tapi kan dok"ujar Dita ragu
"Ngak usah kerja sayang ya"ujar Arvin memegang wajah Dita
"Iya"ujar Dita menurut
"Kamu emang istri ku yg paling aku cinta"ujar Arvin mencium mata Dita
"Udah boleh pulang "ujar Dita tersenyum
"Iya sayang "ujar Arvin tersenyum Dita segera keluar dari kamar Arvin dan turun ke lantai bawah menuju sopir karna tadi Naila mengirim pesan jika supir nya sudah menunggu biar di antar sama supir Dita sengaja pulang sangat pagi supaya tidak ada yg melihatnya
###
Mereka lagi sarapan sedangkan Arvin beberapa hari ini sudah berada di bandung memeriksa cabang rumah sakit nya yg di sana dia juga mengajak Dita untuk berlibur.Kenzo sarapan bersama Naila yg mengendong Cinta
"Nai nanti saat kakak mu pulang bunda mau ada pertemuan keluarga kalian jangan kemana-mana"ujar Nandira serius
"Iya bun kami kan di sini aja"ujar Naila tersenyum
"Ya udah bunda duluan"ujar Nandira lalu beranjak pergi
"Kira kira bunda mau bicara apa ya"ujar Kenzo berfikir menatap Naila
__ADS_1
"Ngak tau"ujar Naila santai memakan sarapannya
"Apa dia akan membagi warisan wah istri ku akan ada bagian nya"celetuk Kenzo dengan jahil
"Ihh tuan ini ada ada saja ya ngak la kayak gitu tuan kan saat itu udah kak Arvin katakan bagian aku dia akan urus lagian wajah bunda ngak seserius itu aku rasa ya ada sesuatu "ujar Naila meneguk air putih
"Hanya becanda"ujar Kenzo tersenyum mencium pipi Naila
"Aku berangkat dulu ya"ujar Kenzo mengecup kening Naila
"Cinta papa berangkat ya"ujar Kenzo mencium pipi Cinta lalu dia berangkat
###
Di sisi lain Arvin tengah menghabiskan waktunya bersama Dita jalan jalan di sekitar kota bandung Dita sangat senang di ajak Arvin jalan jalan Dita juga sudah mengundurkan diri dari pekerjaan nya karna Arvin yg memintanya tentu Dita akan lakukan
"Setelah ini kita akan kemana"tanya Dita memeluk lengan Arvin mereka tengah jalan di tempat yg indah
"Kemana ya"ujar Arvin berfikir
"Kamu mau nya kemana"tanya Arvin balik
"Kemana ya soal nya semua tempat nya indah aku suka"ujar Dita ke girangan
"Kita ke tempat kuliner aja gimana manjain perut"ujar Arvin tersenyum
"Dengan senang hati"ujar Dita tersenyum memeluk lengan Arvin mereka berjalan kaki menuju tempat jajanan kuliner nya
"Dok mau tau ngak dulu Naila pernah lho nangis mau beli jajanan ini tapi ngak bisa memakan nya"tunjuk Dita pada jajanan asli Bandung
"Ohh ya"ujar Arvin memakan nya
"Kamu sangat dekat dengan Naila"ujar Arvin menatap manis nya wajah Dita saat tersenyum tulus seperti itu
"Iya dong"ujar Dita cepat
"Seandainya kita di tengah jurang kecelakaan di sebelah kiri kamu ada Naila akan jatuh lalu sebelah kanan nya aku akan jatuh kamu pilih siapa "ujar Arvin memberi pertanyaan sulit
"Aku yg akan lompat duluan"ujar Dita lalu tertawa kecil
"Hei aku bertanya serius"ujar Arvin mengacak rambut Dita
"Dok Naila memang sahabat ku sebagian kisah ku memang ada dia"ujar Dita
"Tapi setelah ketemu sama Dokter Arvin yg memenuhi hati ini semua tentang ku berubah menjadi Arvin jadi pertanyaan tadi aku akan pilih dokter bukan aku egois tapi karna aku sangat sangat mencintai dokter Arvin aku tidak akan bisa menikmati hidup tanpa dokter Arvin"ujar Dita tersenyum menyentuh dada Arvin
"Aku senang sayang dengar nya"ujar Arvin tersenyum puas mengecup bibir Dita sekilas mereka memilih beberapa makanan lain dan mencobanya
"Gantian ya jika seandainya dokter di pilihan sulit itu dokter pilih siapa"ujar Dita penasaran mereka masuk ke mobil akan kembali ke rumah karna Arvin mempunyai rumah sendiri di beberapa tempat
"Aku memang pernah jatuh cinta pada siapa pun tapi tidak segila aku mencintaimu jadi jika aku di pilih pilihan sulit aku hanya ingin hidup bersama mu tanpa ada yg tau aku egois ingin memiliki mu"ujar Arvin mengusap kepala Dita
"Rasa cinta ku sama banyak nya dengan nafas ku sayang tapi tentang diri mu jauh berarti dari nafas ku"ujar Arvin tersenyum Dita sangat senang dia memeluk lengan Arvin mereka segera melaju kan mobilnya kembali pulang mereka berdua memang saling mencintai satu sama lain tidak ingin di pisah kan
"Bunda mau bicara apa ya"gumam Arvin meletakkan ponselnya mereka sudah sampai di rumah
"Kenapa Dok"tanya Dita mendekat lalu mereka menyalahkan tv
"Bunda mau bicara setelah aku pulang dari sini"ujar Arvin merentangkan tangannya lalu memeluk Dita
__ADS_1
"Ada hal serius mungkin"ujar Dita mendongak dan mencuri ciuman di dada Arvin
"Hei jangan macam-macam kamu ya"ujar Arvin tertawa kecil
"Emang ngak boleh istri sendiri cium blek"ujar Dita mengejek lalu kabur
"Hei kamu berani mengejek ku"ujar Arvin mengejar mereka lari terus sampai Dita kesandung
"Awww"keluh Dita saat kaki nya terluka
"Dita"ujar Arvin langsung lompat
"Ya ampun kamu terluka"ujar Arvin panik langsung mengambil tas nya mengobati kaki Dita
"Udah baikan makan nya jangan lari lagi ya nanti kamu terluka lagi"ujar Arvin cemas
"Iya iya maaf ya dok"ujar Dita memeluk Arvin
"Iya sayang aku ngak mau kamu terluka "ujar Arvin mengusap kepala Dita memegang dagu Dita dan mencium nya dengan penuh cinta
"Aku sangat mencintaimu jangan terluka"pinta Arvin dengan lirih
"Aku juga jangan tinggalkan aku"ujar Dita memegang wajah Arvin dan mencium kening Arvin dengan penuh kelembutan Arvin mengengam tangan Dita lalu mencium nya setelah itu bibir mereka kembali menyatu dengan mesra setelah itu jangan di banyangkan karna mereka menikmati kehidupan sendiri dan baru menikah
####
Setelah Arvin pulang dia segera menjenguk bunda nya karna Nandira terus mendesak Arvin untuk segera pulang jadi satu minggu menghabiskan waktu bersama Dita akhirnya Arvin pulang menemui bunda nya di kamar
"Bun ada apa"ujar Arvin memeluk bunda nya
"Tidak ada"ujar Nandira menyentuh wajah Arvin
"Arvin apa kamu ingin menikah"ujar Nandira serius Arvin terdiam
"Apa yg harus aku katakan jika aku sudah menikahi Dita aku takut bunda akan marah besar secara dia tidak suka dengan Dita"batin Arvin
"Ada apa bun"ujar Arvin serius
"Waktu kamu pergi bunda hampir celaka dan di selamat kan oleh Dela ternyata dia masih sangat mencintai mu jadi bunda berfikir untuk balas budi diri nya bagaimana jika kamu menikahi Dela saja kasihan dia"ujar Nandira serius
"Apa"ujar Arvin wajahnya nampak serius
"Bukan nya dulu kamu juga mencintai nya dan hampir tidur bersama nya dan kamu juga dulu pernah meminta izin menikahinya tapi ngak jadi karna Kenzo"ujar Nandira menatap Arvin
"Iya benar tapi"ujar Arvin pelan
"Ada apa"ujar Nandira serius
"Tidak bun itu kan udah lama jika dia sudah cinta sama orang lain bagaimana"ujar Arvin
"Bunda sudah tanya Dela dia setuju jika menikah dengan mu"ujar Nandira cepat
"Arvin bunda mau kamu punya kehidupan yg kayak sama seperti Naila sekarang ini lihat dia sangat bahagia sekarang ini"ujar Nandira serius
"Iya aku tau tapi aku harus berfikir dulu bun"ujar Arvin
"Bunda tunggu"ujar Nandira serius Arvin segera pergi
"Apa yg harus aku lakukan tidak mungkin aku menolak bunda tapi Dita bagaimana"gumam Arvin beristirahat dia terus berfikir harus melakukan apa
__ADS_1